Magic Of Mana Book 1 : Tragedi Pertama

Magic Of Mana Book 1 : Tragedi Pertama
Chapter 8: Kota Suci Topaz (Part 4)


__ADS_3

Chapter 8


Kota Suci Topaz (Part 4)


Shumi berjalan dikawal oleh dua orang penjaga berbaju zirah di depannya, dua lagi di kanan dan kirinya serta dua orang di belakangnya. Penjaga yang berada di depannya sebelah kanan, membawa busur dan anak panah milik Shumi.


Banyak penduduk kota itu yang menontonnya layaknya seorang kriminal yang tertangkap oleh petugas. Walau tidak ada tatapan emosi dari para penontonnya, ia merasa kurang nyaman dengan hal itu.


Ia melewati jalan yang cukup lebar. Jalanan itu penuh dengan batuan yang disusun dan diratakan sehingga menutupi tanah di bawahnya. Celah antar batuan terisi oleh rumput-rumput kecil tapi ketinggiannya tidak ada yang berani melewati permukaan batuan. Rumah-rumah kota itu juga terbuat dari kayu yang dicat berbeda-beda dengan warna yang tidak mencolok mata. Shumi menilai kota ini lebih cocok disebut sebagai desa yang besar karena suasana dan jenis bangunannya. Ia mencoba menikmati perjalanannya itu agar ketidaknyamanannya bisa teratasi.


Beberapa saat berjalan dan melewati beberapa belokan, Maheer yang berjalan paling depan memandu rombongan itu kepada tangga yang cukup panjang. Shumi mencoba melihat ujung anak tangga itu dan ia tidak mendapati apa-apa kecuali langit biru dan aurora yang tipis.


Shumi dan rombongan mulai menaiki anak tangga itu satu demi satu. Entah berapa jumlah anak tangga itu, tapi cukup membuat kakinya terasa berat. Latihan fisiknya memang terasa sangat kurang, pikirnya.


Butuh beberapa saat untuk sampai di atas. Shumi masih menatap lantai dan melihat bayangannya. Tanah di bawahnya kali ini tertutup oleh batuan berbentuk kotak sama besar dan tersusun sangat rapat. Ia berfikir pasti ini tempat khusus di kota ini.


Shumi menegakkan kepalanya. Ia melihat sebuah bangunan berbentuk persegi panjang dan bertembok beton. Jenis atapnya sangat khas karena bagian sudutnya berbentuk melengkung ke atas menuju suatu garis puncak yang pendek. Banyak hiasan menggantung dan ornament pada dinding dan langit-langit bangunan itu.


Mereka tiba di depan gerbang bangunan itu. Hanya ada dua penjaga berjubah di sana yang membungkuk memberi hormat pada Maheer dan membukakan pintu itu.


Shumi belum bisa melihat bagian dalam bangunan itu sebelum ia benar-benar masuk. Ruangan itu benar-benar berbentuk persegi panjang yang nyaris kosong tapi sangat elegan. Persis seperti ruang singgasana kerajaan, dimana ada beberapa bendera dengan simbol-simbol yang Shumi tidak pahami. Terbentang karpet merah juga tepat dari bibir pintu masuk hingga ke ujung ruangan seakan membelah lebar ruangan itu menjadi dua sisi sama besar.


Shumi berhenti tak jauh dari pintu gerbang, kemudian para penjaga yang ada di depan dan sampingnya pergi melebar ke kanan dan kiri Shumi, hingga sejajar dengan tiang-tiang atap yang berjajar rapi di kanan dan kiri ruangan. Di sisi luar tiang-tiang itu terdapat beberapa bangku panjang yang juga tersusun rapi menghadap ke ujung sisi bangunan yang kini berada di depan Shumi.


“Salam pada Yang Agung, Kepala Suku Yasmine Almeeira ke-tiga,” ujar Maheer dan serentak para penjaga di sana menepukkan kedua tangannya ke dada saling bersilangan sehingga terdengan benturan logam dari baju zirah mereka.


Shumi baru sadar, bahwa di ujung ruangan itu ada sebuah singgasana berwarna putih, seperti terbuat dari batu pualam yang sangat mengkilat. Bagian belakangnya cukup tinggi hingga seorang wanita berambut panjang merah menyala yang tengah duduk di singgasana itu, terlihat sangat pendek.


Wanita itu sangat cantik dengan bola mata yang berwarna merah muda. Rambutnya lurus tergurai menutupi seluruh bagian tubuh belakangnya hingga menyentuh singgasana itu. Kulitnya begitu putih bersih terbalut oleh gaun berwarna putih bagaikan seorang ratu. Ia menggenggam sebuah tongkat kayu jenis staff berwarna emas dan di bagian ujungnya terukir dua buah naga tanpa sayap berpose seperti sedang mengitari sesuatu di tenganya yang tampak kosong. Dan yang menarik perhatian Shumi adalah kalung yang terlihat jelas melingkari lehernya.


Kalung yang ia pernah lihat sebelumnya. Bukan jenis atau bentuk kalung yang menggantung di leher wanita itu, tapi sebongkah batu yang terikat di mata kalung itu dan tergantung di atas dada wanita itu. Warna jingganya sangat membuat Shumi mengenang sesuatu. Itu adalah kalung yang dikenakan orang yang membunuh Ayah kandungnya.


“Terima kasih, Maheer! Salam!” jawab wanita itu. Suaranya sangat halus, tegas dan seindah rupa pemiliknya.


Para penjaga kembali pada posisi mereka seperti semula. Begitu juga Maheer yang berjalan mundur, melewati Shumi dan dua penjaga di belakangnya, kemudian berhenti sehingga berjarak beberapa langkah dari penjaga itu.


“Shumi Mediane?!” tanya Yasmine lagi menatap orang yang dipanggilnya.

__ADS_1


“Sejak kapan? Bagaimana ia tahu?” tanya Shumi dalam hati yang membalas tatapan Yasmine dengan tajam juga.


“Terkejut?” tanya nya lagi sembari tersenyum.


Shumi hanya terdiam. Ini pasti sihir pikirnya.


“Aku adalah Kelapa Suku Kaum Quarzt, sehingga aku punya keistimewaan untuk mengetahui apa saja yang para kaum ku ketahui di dalam kota ini, Shumi! Bahkan apa yang dirimu ketahui! Dan ini bukan sihir!” jelasnya, “ya, aku sempat terkejut tadi, karena akhirnya kau kembali ke tempat kelahiranmu, mungkin bersamaan dengan keterkejutan Maheer saat ia mengetahui siapa kamu.”


“Selamat datang kembali, putri dari Minna Scarlet dan Zahid Salim!” sapa Yasmine, “emm, atau lebih tepatnya, Putri Mahkota Kerajaan Bumi!”


Maheer terdengar memekik pelan dan kakinya seperti menggesek lantai. Shumi juga semakin terdiam dan tercengang.


“Ada apa, Maheer? Ini kan orang yang gagal kau bunuh malam itu?” tanya Yasmine.


Kali ini Shumi berhasil membalikkan badannya. Ia ingin menatap wajah Maheer lebih seksama karena dengan ucapan Yasmine tadi, artinya ia sudah bertemu dengan salah seorang yang membunuh Ayahnya walau ia sangsi akan dapat mencocokkan wajahnya dengan pembunuh itu karena ia belum pernah melihat wajah Maheer sebelumnya. Tapi, emosi mulai meluap dalam tubuh Shumi.


Maheer tampak salah tingkah. Nafasnya tidak teratur.


“Tenang Maheer, Shumi! Biar aku yang jelaskan semuanya!” ujar Yasmine.


“Aku tahu tujuanmu kemari adalah untuk bertemu dengan saudarimu, jadi tak perlu kau mencoba untuk menambah tujuanmu yang akan mengotori tanganmu saja, Shumi!” Yasmine mulai bercerita, “Maheer saat itu hanya mematuhi perintah pemimpinnya, yakni Aziz! Dan aku, yang memerintahkan untuk mengambilmu dari orang tuamu, sama sekali tidak memerintahkan ia untuk membunuh siapapun!”


Semua orang di ruangan itu terdiam.


“Tapi, mungkin Aziz dan Faiz sudah tewas saat ini, jadi mari sudahi permainan balas dendamnya!” tambah Yasmine. Tatapannya terus menuju mata Shumi yang juga terus membalasnya. “Dan saudarimu sudah ku panggil kesini! Kita tunggu saja!” tambahnya.


“Apa aku akan dibunuh di sini? Aku adalah dosa dari kemurnian kaum ini kan?!” ujar Shumi, “darah dalam diriku ini adalah bencana bagi kalian, kan?!”


“Oh, jangan bicara begitu, Shumi! Memang kemurnian itu adalah petuah dari leluhur kita, dan jika kau bicara seperti itu, sama saja kau menantang leluhur kita, bukan?”


Shumi terdiam. Ia sebetulnya tidak peduli akan hal itu.


“Khusus untuk mu, berdasarkan keputusan para penyihir murni dari empat kaum yang menjaga pasak Arez di kota ini, kau boleh hidup, Shumi! Tapi kau harus pergi dan jangan pernah kembali ke sini!” Yasmine menoleh ke arah kanan Shumi, tepatnya kepada penjaga yang memegangi busur panah Shumi.


“Jalanilah kehidupanmu layaknya ksatria para humans dengan salah satu dari tiga busur legendaris yang ada di dunia ini!”


“Hanya karena aku membawa Busur Zephyr itu, Anda menyebutku dengan sebutan ksatria? Aku tidak butuh itu!” balas Shumi mulai emosi lagi, “bagiku, jika bisa menghapus peraturan seperti itu tanpa senjata, akan jauh lebih baik!”

__ADS_1


“Tenang, Shumi! Bukan itu maksudku!” jelas Yasmine, “sungguh, jika aku bisa mencabut peraturan itu, akan aku cabut semenjak aku menduduki singgasana ini! Tapi, semua itu adalah perintah dari leluhur kita!


“Bahkan, jika aku juga memilih untuk menjaga kemurnian itu secara fanatik, maka pengecualian atas dirimu akan aku langgar! Tapi, lihat kenyataannya! Aziz dan Faiz yang melanggar perintahku dan pulang dengan darah orang tuamu, dan mereka sudah aku hukum dengan pantas!”


Shumi gemetar. Ia seakan terpojok dengan penjelasan dari Yasmine.


“Memang aku yang bertanggung jawab atas semua kejadian itu! Dan aku juga sudah dihukum atas kesalahanku!”


“Bagaimana aku tahu Anda tidak berbohong?”


“Hatimu yang bisa menjawabnya, nak!”


Shumi terdiam. Ia memang tidak merasa apa yang ia dengar ada sesuatu yang tidak benar.


“Kota ini tidak mengizinkan sihir untuk memanipulasi orang hidup! Sihir hitam tidak akan berhasil jika kau menggunakannya di sini! Kota ini adalah Kota Suci! Jadi aku tidak akan bisa berbuat kotor dengan membohongimu bahkan dengar sihir sekalipun! Dan kau tahu, aku sangat benci kebohongan, termasuk dari mulutku sendiri!”


Tanpa sadar, pipi Shumi sudah basah. Air matanya tumpah perlahan.


“Jadi, mereka membunuh Ibuku juga?”


“Mereka berdalil aku yang menyuruh mereka untuk mengeksekusi Scarlet! Aku memang punya kuasa akan para kaum quartz, tapi hanya sebatas benteng kota ini saja, Shumi! Jadi, aku tidak bisa mencegah hal itu! Ditambah lagi, orang tuamu memilih melahirkanmu di luar jangkauanku!”


“Mereka tidak ingin Anda mengetahui kelahiranku dan merebut salah satu bayi mereka yang terlahir sebagai humans!”


“Mereka tidak sabar menunggu keputusan dari para penyihir murni yang saat itu sedang menanyakan pada eidolon, Shumi! Orang tuamu hanya tidak mau ambil resiko jika keputusannya adalah menolak pengecualian pada dirimu itu!”


Tiba-tiba seseorang membuka pintu gerbang di belakang Shumi dan masuk. Suara langkah kakinya terdengar jelas semakin dekat ke arah Shumi yang masih menatap Yasmine. Langkah itu kemudian terhenti tepat di samping kanan Shumi.


“Salam Yang Agung, Kepala Suku Yasmine Almeeira Ketiga!” sambut orang itu.


“Terima kasih, Shinta Mecca! Salam!” balas Yasmine.


Perlahan Shumi menolehkan kepalanya ke kanan. Ia melihat seorang wanita muda, berkulit putih pucat layaknya salju dengan rambut hitam panjang bergelombang hingga ke pinggangnya. Shumi menatap tajam wanita itu. Ia terus menatap bola mata wanita itu yang berwarna hijau cerah. Warna yang sama dengan bola matanya.


“Ki..Kienka?” tanya Shumi lirih.


(bersambung_

__ADS_1


__ADS_2