Magic Of Mana Book 1 : Tragedi Pertama

Magic Of Mana Book 1 : Tragedi Pertama
Chapter 3 : Mimpi (Part 4)


__ADS_3

Chapter 3 (Part 4)


Mimpi


Setelah pergi dari kediaman Modena, Shumi memilih pergi ke barak kerajaan bersama Shukoi. Ia ingin berbincang dengan sahabatnya tentang mimpinya dan mengucapkan salam perjuangan. Esok pagi, pasukan Zain akan bertolak ke provinsi Bumi Selatan.


“Tuan Putri, Paduka Raja bisa marah jika tahu saya menemui anda saat rapat strategi seperti ini,” ujar Zian yang berjalan ke arah Shumi dan Shukoi yang berdiri di sebuah lorong di barak pusat kerajaan. Mereka sudah menunggu beberapa menit sebelumnya.


Shumi tertawa kecil. “Dia akan lebih marah jika aku menemuimu malam ini setelah kaliah selesai rapat kan?” timpalnya.


Zain hanya tersenyum lebar. Ia menatap Shukoi. “Apa kabar, Shukoi? Lama tak jumpa,” sapanya.


“Baik sekali, Kapten Zain,” balas Shukoi, “semoga misimu berjalan lancar.”


“Terima kasih, Shukoi,” jawab Zain. “Ada keperluan apa Tuan Putri mencari saya?” tanyanya pada Shumi.


“Aku semalam bermimpi lagi, dan kali ini kejadiannya di dunia kita,” jelas Shumi. Zain tampak terkejut sekali. “Dan aku melihat seseorang dibunuh oleh sihir hitam bertubi-tubi,” lanjutnya.


“Hah? Ini sebuah kebetulan lagi kan?” tanya Zain.


“Ibu Modena bilang begitu, aku hanya butuh jalan-jalan keluar istana katanya,” jawab Shumi, “walau Ayah dan Ibu sempat bilang ini adalah hadiah dari Dewa dan sebuah kekuatan.”


“Indigo?” tebak Zain, “tapi Tuan Putri baru mengalaminya sejak berulang tahun kemarin kan? Ini...”


“Ya, itu pandangan kuat Ibu Modena juga,” potong Shumi, “aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi aku menerima penjelasan logis darinya.”


“Menurutku juga begitu, Tuan Putri,” ujar Zain, “semoga semalam adalah yang terakhir.”

__ADS_1


“Tidak jika aku masih ada di dalam benteng ini,” pungkas Shumi, “izinkan aku ikut bersamamu, Kapten Zain!"


Zain dan Shukoi tanpa sadar bergeming, sampai-sampai Zain mundur selangkah. Tak lama, Shumi tertawa terbahak-bahak. Raut wajah mereka juga berubah.


“Aku bercanda! Ayah tidak akan mengizinkannya, aku tahu itu, dan aku akan semakin menghawatirkan Ibuku juga," ujar Shumi, “tenang lah, mungkin aku akan jalan-jalan ke kota yang lebih aman di provinsi Bumi Barat.”


“Asalkan Shukoi bersama anda, saya yakin Tuan Putri akan aman,” ujar Zain.


“Aku ingin kau fokus dalam misimu, Zain!” ujar Shumi, “jangan sampai kau terluka, setidaknya hilangkan pikiranku yang agak kacau ini sedikit.”


Zain tersipu malu. “Baik Tuan Putri, ini adalah perintah Anda sebagai sahabatku,” balasnya mencoba mencairkan suasana.


“Komplotan yang anda buru, salah pemimpinnya dulu pernah bertarung denganku, Kapten,” sambung Shukoi, “tapi kini ia berkedok bangsawan, sehingga sulit untuk dihabisi, mungkin jika rencana perangkap yang anda rencanakan berhasil, ia akan benar-benar bisa ditundukkan.”


“Ya, anda yang sudah lama lepas dari dunia militer, masih sangat memperhatikan masalah seperti ini ya?” sahut Zain.


“Shukoi berasal dari Kota Reamur, Provinsi Bumi Selatan, yang akan kau kunjugi, Kapten,” timpal Shumi, “keluarganya dulu gugur dalam pemberontakan Pulau Sigma yang kini menjadi wilayah provinsi bumi selatan itu.”


“Cholid,” jawab Shukoi. “Jika anda bisa membunuhnya, aku akan sangat berterima kasih,” tambahnya.


Shumi tertawa agak aneh, “kok jadi serius seperti ini ya?” ujarnya mencoba mencairkan suasana lagi, “ya memang dia adalah dendam mu, Shukoi, tapi bukan kah ia sudah membayarnya?”


“Ya memang, makanya aku tidak punya alasan lagi membunuhnya, tapi jika ada orang lain yang membunuhnya, akan menjadi berita baik untukku, Tuan Putri,” jawab Shukoi dengan wajah datar.


Shumi tertawa kecil. Zain tersenyum.


“Aku tidak tahu masa lalumu, tapi jika memang diperlukan, aku akan menghabisinya. Kelompok Nizari ini memang kembali menjalin kerja sama dengan para Elf dari pulau itu, tapi kini cara mereka lebih bersih,” jelas Zain, “ini bisa membahayakan provinsi itu karena sepertinya mereka memang ingin kudeta pada akhirnya.”

__ADS_1


“Jika berhadapan dengannya, jangan biarkan ia menggunakan batu bertuah ungunya, bisa merepotkan,” tambah Shukoi.


“Tenang saja, semua informasi sudah dalam kepalaku,” jawab Zain.


Shumi tiba-tiba melihat dari kejauhan seorang prajurit memberikan aba-aba bahwa Zain ditunggu di dalam. Shumi mengangguk.


“Zain, kau harus segera kembali, sudah ada yang mencarimu,” ujar Shumi. Zain kaget dan berbalik. Ia memberikan sinyal pada prajurit itu. “Baiklah, aku pamit, mungkin bulan depan kita baru bertemu lagi, aku ingin kau sukses dan selamat,” ujar Shumi.


“Siap, Tuan Putri!” jawab Zain, “aku berjanji akan kembali dengan kemenangan dan selamat.”


Tak lama Shumi dan Shukoi membiarkan Zain kembali pada tugasnya. Kemudian, mereka juga kembali ke istana. Shumi kemudian berkunjung ke kamar Ibunya dan berbincang-bincang sembari menyuapi makan siang Ibunya itu. Shukoi terus mendampingi Shumi. Perbincangan mereka tidak membahas hal-hal yang berkaitan dengan masalah yang sedang dihadapai Shumi. Mereka lebih berbincang mengenai kerajaan, kenangan masa kecil Shumi dan saat-saat muda Ratu Stephanie dengan Raja Victor di tengah banyaknya perang karena pemberontakan. Mereka berbincang hingga malam kembali datang padahal jam baru menunjukkan pukul tiga yang seharusnya masih sore.


Shumi dan Shukoi meninggalkan kamar Ratu Stephanie setelah sang ratu itu meminum ramuan obatnya dan merasa mengantuk. Shumi juga memutuskan untuk istirahat di kamarnya untuk membaca beberapa buku jurnal penelitian di negaranya yang belum selesai ia baca. Setelah kembali ke kamarnya, Shumi meminta Shukoi untuk beristirahat juga dan mereka pun berpisah.


Namun, setelah keluar dari kamar Shumi dan melewati beberapa lorong, Shukoi tiba-tiba dihadang oleh seseorang yang sangat ia kenal. Panglima Besar Kerajaan, Ayah dari Zain, seseorang yang berjuluk The Iron Guardian, pria gagah, bertubuh tinggi kekar walau terlindungi oleh baju zirah titanium silvernya. Rambutnya yang berwarna silver sepanjang leher terikat kuat ke belakang. Kulitnya yang berwarna tan cerah tidak dapat menyembunyikan luka bekas tersayat di pipi kirinya yang berwarna lebih cerah. Bola matanya yang coklat muda sangat mirip dengan bola mata Zain. Pria itu menggenggam gagang pedangnya yang masih terbungkus sarungnya yang sangat indah.


“Permisi sebentar, Shukoi,” ujar pria itu.


Shukoi terkejut dan langsung mengambil sikap siap dan menundukkan kepalanya. Raut wajahnya berubah drastis, ia tampak sedikit ketakutan. “Siap Panglima Besar Arthur Dominic, saya tidak melihat anda dari kejauhan, maafkan saya,” ujarnya sembari merasakan aura yang sangat kuat dari lawan bicaranya. Aura membunuh.


“Aku hanya menyampaikan pesan dari Raja Victor bahwa kau harus lebih berhati-hati dalam berucap atau beropini,” jelas Arthur. Shukoi terkejut, matanya sedikit membesar keheranan. “Jika kau terlalu banyak bicara, Tuan Putri akan mengetahui apa yang seharusnya beliau tidak ketahui,” tambahnya.


“Ba.. baik, Panglima,” balas Shukoi.


“Ikuti apa yang ditanamkan Modena, tambahkan penjelasan yang dirasa perlu atas mimpi yang Tuan Putri alami, sesuai ucapan Modena. Jangan bicarakan tentang Esper lagi,” ujar Arthur lagi. “Jika ada sesuatu yang terjadi pada Tuan Putri, maka kau harus mempertaruhkan nyawa dan nama baik keluargamu,” tambahnya kemudian berbalik dan pergi menjauh.


Shukoi masih terdiam tak bergerak tapi aura lorong itu kembali seperti semula. “Baik, siap laksanakan, Panglima,” ujarnya.

__ADS_1


- Chapter 3 : Mimpi -


- End -


__ADS_2