Magic Of Mana Book 1 : Tragedi Pertama

Magic Of Mana Book 1 : Tragedi Pertama
Chapter 8: Kota Suci Topaz (Part 3)


__ADS_3

Chapter 8


Kota Suci Topaz (Part 3)


“Nona! Nona!” ujar seseorang pria.


Shumi perlahan membuka matanya dan merasakan kepalanya seakan berputar-putar. Tubuhnya terasa tidak bertenaga. Pandangannya juga kabur dan cahaya matahari menyilaukannya sehingga ia menutup kembali matanya.


“Ah, dia mulai siuman!” ujar seorang pria lain.


“Wah, iya! Kita bawa masuk saja kah?” tanya pria yang pertama tadi.


“Ya, sepertinya ia masih lemas, cepat bawa masuk saja!” sahut pria lainnya lagi, “kau kuat kan menggendongnya sendirian?”


“Dia ini wanita! Jangan menjebakku, ya! Ayo bantu aku mengangkatnya!”


“Ha..ha..ha…”


“Lift Up!” suara tiga pria bersamaan.


Shumi merasakan tubuhnya terangkat perlahan. Bukan, bukan tubuhnya yang terangkat, tapi sesuatu benda di bawahnya yang terangkat sehingga menyebabkan ia terangkat juga. Ia merasa seperti sedang ditandu, tapi lebih terasa terbang karena begitu lembutnya pergerakannya.


Shumi mencoba membuka matanya lagi perlahan. Ia kini mulai bisa melihat sedikit demi sedikit. Ia melihat sebuah langit-langit kayu yang cukup tebal tepat di depan matanya dan melewatinya. “Atap pintu gerbang? Aku masuk ke kota ini, akhirnya,” ujarnya dalam hati.


Beberapa saat ia ditandu ke suatu tempat dan sepanjang jalan, sesekali terdengar beberapa wanita dan pria berguman tidak jelas tapi ia tahu apa yang mereka bicarakan. “Jika mereka mengetahui bahwa aku bukan penduduk kota ini, bisa bahaya!” batin Shumi kembali bersuara.


Sampai lah ia ke dalam suatu ruangan dengan penerangan yang minim sehingga membuat matanya seperti melihat becak bercak putih sesaat, sebelum akhirnya matanya berhasil membiasakan diri pada cahaya di ruangan itu.


“Pelan-pelan!” ujar seorang wanita.


Perlahan Shumi diturunkan dengan sangat lembut. Tubuhnya masih lemah, kepalanya masih terasa sakit tapi kini ia sudah bisa melihat dengan jelas.


Di sisi kakinya, ia melihat seorang pria bertubuh kekar dan berambut tipis, nyaris botak. Kulitnya putih cerah dan hidunnya nyaris bengkok. Ia menggunakan celana yang terdapat sabuk yang melingkar pada kedua bahunya.


Di sebelah pria itu, berdiri pria yang hampir mirip. Hanya rambutnya saja yang ikal panjang sebahu dan berpostur lebih kurus. Pakaiannya juga sama seperti pria di sampingnya itu.


Di kanan Shumi, seorang wanita berkulit sawo matang dan berpakaian seperti pelayan dengan celemek putih berenda merah, duduk dengan lututnya dan memperhatikan Shumi. Wajahnya sangat ramah, rambutnya sangat bergelombang berwarna hitam.


Shumi mencoba bangkit, tapi tubuhnya gemetaran dan kembali terbaring.


“Diam dulu, nona! Biar aku sembuhkan anda dulu,” ujar wanita itu, “Full Treatment!”


Tubuh Shumi memancarkan cahaya hijau muda yang cukup terang untuk beberapa saat, kemudian cahaya itu menghilang. Tiba-tiba sakit kepalanya lenyap dan tubuhnya kembali seperti sedia kala. Perlahan Shumi pun langsung mencoba bangkit.


“Terima kasih banyak, Nona!” ujar Shumi yang kini sudah bangkit dan duduk di atas sebuah papan kayu sekuran tubuhnya, “dimana aku?”


“Anda di rumah ku, Nona!” jawab wanita itu, “nama ku Esana, dan ini para penjaga gerbang tempat anda ditemukan.”


Dua pria yang Shumi lihat tadi menganggukkan kepalanya dengan sedikit memiringkannya.

__ADS_1


Di belakang Shumi ternyata ada seorang pria lagi yang jauh terlihat masih muda. Rambutnya pendek berwarna coklat terlihat persis seperti mangkuk yang diletakkan terbalik di kepalanya. Matanya nyaris tak terlihat karena tertutup poninya. Ia juga melakukan hal yang sama dengan dua pria lainnya.


“Maaf, kalau boleh tahu, siapa anda? Dan bagaimana bisa berada di luar pintu itu?” tanya Esana lagi.


“Padahal pintu itu tak pernah dibuka lho!” sahut pria yang rambutnya tipis dan membuat semua mata tertuju padanya. “Emm, maksudku jarang sekali dibuka!” katanya lagi salah tingkah.


“Anda hendak keluar atau hendak masuk, Nona?” tanya Esana lagi, “anda terkena sihir pengunci gerbang, jadi sepertinya anda ingin masuk tapi lupa bahwa tanpa izin penjaga, anda tidak akan bisa melakukannya.”


Shumi bingung. Ia tidak tahu harus menjawab apa, tapi agak terasa aneh karena Esana dan pria yang berambut tipis tadi seperti memberikan petunjuk secara tersirat. Shumi pikir kemungkinan memang seperti ini kebiasaan penduduk kaum quartz.


“Bagaimana, Nona?” tanya Esana lagi.


Tiba-tiba ada seorang pria membuka pintu rumah itu dan masuk begitu saja. Ia menutup kembali pintunya dan berjalan ke arah Shumi. Semua orang di dalam rumah itu menatapnya. Ia bertubuh gagah ideal. Tingginya lebih sedikit dari Shumi dan menjadi orang yang paling tinggi di rumah itu. Ia menggunakan jubah pendek dan membawa tongkat sihir jenis staff.


“Kepala Penjaga akan kesini!” ujar pria itu, “Hah, sudah siuman, ya?”


“Ia terkena sihir pengunci gerbang, seperti yang ku duga, dan sudah ku berikan penangkalnya,” sahut Esana.


“Siapa dia dan darimana ia berasal?” tanya pria itu lagi.


Esana menggelengkan kepalanya.


“Emh, nama saya Shumi,” jawab Shumi sebelum kembali ditanya lagi. Ia mulai mencoba menghilangkan kecurigaan terhadap dirinya. “Saya dari luar kota ini sebetulnya, dan saya mencari seseorang yang bernama Kamal Asker Hakim,” ujarnya lagi. Ia sudah berusaha untuk menghapal nama yang disebutkan Ricky itu sepanjang perjalanannya.


Pria berjubah itu mengerutkan dahi. “Darimana kau tahu nama itu?” tanyanya.


“Dia pasti menghamili gadis di Kerajaan Hutan Putih lagi?!” ujarnya dan sontak semua orang menatapnya tajam lagi, “ma..maaf, aku hanya menebak saja.” Ia salah tingkah lagi.


“Ya sepertinya begitu juga masuk akal, kan?! Ini menjawab bagaimana nona ini bisa melewati selubung pelindung bagian luar,” sahut Esana.


“Ya, aku tahu dia ini pasti keturunan quartz juga! Tapi biar ia menjawabnya sendiri!” bentak pria berjubah lagi dan membuat semuanya terkejut dan sedikit ketakutan, “aku sangat muak mendengar nama itu!”


“Siapa yang tidak muak? Lelaki mesum yang selalu membuat masalah!” tanggap Esana.


“Sudah anak ketiga, ya?” sahut pria berambut mangkuk. Suaranya cocok dengan pria yang merasa ingin dijebak tadi.


“Benar kah kau anaknya?” tanya pria berjubah lagi pada Shumi.


Shumi agak bingung. Ia memang tidak biasa berbohong, tapi jika ini benar, Shumi juga tidak tahu apa yang harus dikatakan lagi saat bertemu dengan orang yang ia sebutkan tadi. Ia hanya tahu bahwa pria itu adalah orang yang Ricky cari, jadi seharusnya pria itu adalah penyembuh yang disewa oleh Kerajaan Hutan Putih. Akan tetapi, dari perbincangan orang-orang dihadapannya ini, nama itu lebih pantas dipanggil sebagai ayahnya Ricky.


“Sudah pasti itu!” potong pria berambut tipis.


“Sayangnya ia kini sudah dihukum mati, Nona!” ujar pria yang berambut ikal panjang dan sekejap membuat hening suasana beberapa saat dan semua orang di sana terus menatapnya.


“Kau itu sedikit bicara, tapi bicaramu selalu menyakitkan, Mazin!” tanggap Esana.


Tiba-tiba pintu terbuka lagi dan kali ini agak kasar. Shumi dan yang lain langsung menolehkan pandangan mereka serentak.


Muncul seorang pria tidak berambut. Warna kulitnya tan cerah dan bola matanya berwarna coklat muda. Ia tampak sudah tua, tapi masih sangat gagah. Jubah yang ia kenakan lebih besar dari pada yang digunakan pria dengan tongkat tadi. Ia masuk dengan gestur yang sangat bertenaga.

__ADS_1


Tiba-tiba semua orang di rumah itu menundukkan kepala mereka, kecuali Shumi yang bingung. Kemudian ia juga mengikutinya agar tidak telihat paling asing sendiri.


“Selamat datang, Kepala Penjaga Tertinggi, Panglima Maheer!” sapa pria berjubah dengan tongkat tadi.


“Selamat datang, Penjaga Utama!” sahut semua orang yang tersisa, kecuali Shumi.


“Angkat kepala kalian!” perintah pria yang dipanggil Maheer itu dan semuanya mengikuti perintahnya. Shumi juga mengikutinya walau tidak bersamaan dengan yang lainnya.


Dua orang pria berpakaian zirah masuk menyusul Maheer dan menutup pintu rumah Esana. Salah satu orang membawa tombak dan satunya lagi menggenggam busur dan kotak anak panah Shumi.


“Panahku!” ujar Shumi dalam hati.


“Siapa kah kau sebenarnya?!” tanya Maheer pada Shumi. Nadanya agak tinggi.


“Nama saya Shumi, Tuan!” jawab Shumi


“Darimana kau berasal?” tanyanya lagi.


“Hutan Putih, Tuan!”


“Bohong!” bentak Maheer keras hingga membuat isi rumah itu bergetar. Aura kemarahannya sangat terasa hingga membuat pria yang mengangkat Shumi bergetar sedikit. “Aku tidak suka kebohongan!” ujarnya lagi.


“Gawat!” ujar Shumi dalam hati.


Perlahan aura Maheer meredup dan suasana rumah itu kembali normal. Shumi tidak tahu harus berkata apa lagi sekarang. Ia masih menatap mata Maheer dan ia tahu bahwa orang ini tidak mau bermain-main.


“Senjata ini adalah senjata buatan para elf! Kau pasti dari Kerajaan Bumi!” ujarnya lagi.


“Hah?!” semua orang disana tercengang dan menatap Shumi.


Shumi pasrah. Ia sudah tertangkap basah sekarang. “Darimana ia bisa tahu?” ujarnya dalam hati. Ya, busur panah itu memang pemberian dari gurunya sebelum ia pergi ke kampung halamannya di Provinsi Bumi Selatan. Itu adalah hadiah karena Shumi berhasil lulus dari pelatihannya. Nama busur itu adalah Busur Zephyr.


“Ya, maaf telah berbohong, tapi saya tidak bermaksud jahat!” jawab Shumi, “saya berasal dari Kerajaan Bumi, tepatnya Ibu Kota Kerajaan Bumi, Kota Throttling.”


Semua kembali tercengang dan mundur beberapa langkah.


“Kota Throttling?!” tanya Maheer heran, “siapa nama aslimu dan tujuanmu?”


“Nama saya Shumi Mediane! Saya ingin bertemu dengan saudariku, Kienka!”


Mendengar nama itu, Maheer seperti tersambar petir yang tak tampak. Ia membelalakkan matanya dan terhuyung pelan satu langkah ke belakang. “Si.. siapa orang tuamu?” tanyanya.


Dengan tegas, Shumi menjawab, “Minna Scarlet dan Zahid!”


“Zahid Salim?!” ujar Maheer sembari terhuyung kembali ke belakang hingga menabrak prajurit di belakangnya. “Segel dia! Kita harus membawanya pada Kepala Suku!” perintahnya kemudian.


* * *


(bersambung_

__ADS_1


__ADS_2