Magic Of Mana Book 1 : Tragedi Pertama

Magic Of Mana Book 1 : Tragedi Pertama
Chapter 9:Darah di Istana Suci (Part 1)


__ADS_3

Chapter 9


Darah di Istana Suci (Part 1)


“Ada yang datang,” ujar Kepala Suku Yasmine tiba-tiba.


Tanpa ada jeda sedikit pun, di belakang Shumi tercipta sebuah pusaran udara bersinar cukup terang. Kemudian, muncul juga ornament lingkaran bercahaya berwarna hitam tepat dibawah kaki Shumi yang membuatnya sangat terkejut. Aula itu mendadak seperti ada angin ribut.


Muncul sesosok manusia dari pusaran itu dan langsung menggenggam leher penjaga yang ada di belakang Shumi. “Thunder Blast!” ujar sosok itu.


Sekejap, petir kecil mencekik leher penjaga itu dan membuat pemiliknya teriak kesakitan secara bersamaan. Kemudian, bersamaan dengan hilangnya pusaran udara dan ornament di bawah kaki Shumi, para penjaga tadi terkapar tidak bernyawa di lantai.


Shumi berbalik spontan dan mencoba menjauh hingga ia tersungkur duduk di lantai tapi berhasil menghadap ke arah sosok itu. Segel di tangannya masih membuatnya sulit bergerak. Perlahan ia mengetahui siapa sosok itu.


“Ricky?!” ujar Shumi tercengang.


Ricky membalasnya dengan senyuman. Serentak, semua orang disana mengacungkan senjatanya bersiap-siap, kecuali Kepala Suku yang masih duduk di singgasananya. Ia kemudian mengeluarkan ornament kecil di depan tangan kanannya dan mengambil sesuatu dari dalam ornamen itu. “Summoning!” ujarnya lirih.


Tangan kanan Ricky kembali ia tarik keluar bersamaan dengan suatu benda kecil mirip lampu lampion kecil berwarna hitam berbentuk kotak. Sontak, Maheer mencoba menghalau Ricky dengan bersiap menyerang dengan sebuah tombak besi satu mata berwarna putih yang Shumi tidak tahu kapan ia mengambilnya.


“Twisted fire!” ujar Maheer dari belakang Ricky, kemudian muncul sebuah pusaran api ke arah targetnya dari ujung tombak yang ia arahkan.


Ricky dengan santai memperlihatkan telapak tangan kirinya pada Maheer tanpa membalikkan badannya bahkan tanpa memalingkan padangannya juga ke belakang, kemudian menciptakan sebuah tembok kasat mata yang memblokade api dari Maheer tepat di belakang tubuhnya. “Invisible Wall!” ujarnya.

__ADS_1


Setelah memblokade serangan Maheer mentah-mentah, Ricky melompat tinggi ke arah singgasana dan melangkahi Shumi yang masih duduk di lantai, kemudian mendarat sekitar dua langkah darinya.


Shumi dengan cepat juga membalikkan tubuhnya tanpa berdiri, ia melihat Ricky seperti akan mengaktifkan benda yang ada di tangan kanannya dengan menarik bagian tutup atasnya dan melemparnya ke atas hingga membuat langit-langit aula itu berlubang sangat kecil, mirip seperti tembakan senjata api.


Ricky melakukannya dengan terus menatap Yasmine. “Mystical Lamp Barrier!” ujarnya dan kemudian, terciptalah sebuah tembok gelap transparan berbentuk persegi panjang.


Tembok itu lebih menyerupai suatu ruangan transparan dan memanjang dari belakang tempat Ricky berdiri ke arah Kepala Suku yang masih diam duduk di singgasana-nya. Ruangan itu sangat cepat terbentuk hingga Kepala Suku Yasmine tidak sempat mengelaknya walau ia terlihat memang tidak ingin mengelaknya. Tapi, anehnya sisi ruangan yang hendak menabraknya justru berhasil menembusnya hingga ke belakang singgasana-nya dan berhenti memanjang.


Kemudian, ruangan itu melebar ke kiri dan kanan Ricky hingga menyentuh tembok aula yang besar itu dan terhenti. Kemudian, ia meninggi hingga hampir menyentuh langit-langit aula dan kembali berhenti.


Terciptalah sebuah ruangan sedikit gelap namun masih dapat terlihat apa saja yang ada di sisi dalamnya, dimana hanya ada Ricky dan Kepala Suku Yasmine yang masih duduk tenang di singgasana-nya. Mereka saling berhadapan.


Semua orang terdiam, tapi masih dalam posisi siap sedia dengan senjatanya masing-masing. Shumi bangkit perlahan, kemudian Maheer hendak menyerang dan menghancurkan tembok itu. Tapi sebelum itu terjadi, Yasmine berdiri.


Ricky tersenyum. “Anda sangat benar, Kepala Suku Quartz yang terhormat!” ujarnya, “tapi, Anda tidak perlu melakukannya karena jika anda bisa bertahan sebentar saja dari saat ini, efek benda ini akan hilang, kok.”


Ia kemudian melenyapkan benda itu begitu saja seperti meremukkan mainan kertas dan membuangnya.


“Kau menggunakan teleportasi yang tidak biasa! Aula ini memiliki pertahanan anti teleportasi, bahkan harusnya kau tidak bisa masuk kota ini dengan sihir seperti itu,” ujar Yasmine, “siapa dan apa tujuanmu?”


“Perkenalkan, Yang Mulia! Saya Ricky, penyihir hitam yang berniat mengambil benda yang anda gunakan saat ini! Tongkat Mare dan Batu Topaz itu,” jawab Ricky penuh percaya diri.


Semua orang terkejut dan geram. Yasmine tersenyum. “Jadi itu tujuanmu? Jadi kau berniat membunuhku dengan berduel di dalam selubung ini, ya?” sahutnya.

__ADS_1


“Benar, Yang Mulia!” jawab Ricky, “saya tidak membawa pasukan, jadi sepertinya ini satu-satunya jalan untuk mengambil benda itu, karena anda tidak akan memberikannya begitu saja bahkan walau saya menyandra seseorang atau mengancam anda dengan sesuatu hal, kan?!”


“Sepertinya rencanamu tersusun dengan sangat baik, ya?” balas Yasmine, “tapi, seharusnya kau juga tahu siapa lawanmu, anak muda!”


“Saya memang belum tahu seberapa kuat anda, mari kita cari tahu, Yang Mulia,” ujar Ricky mulai bersiap.


“Fire!” ujar Yasmine sembari mengacungkan tongkatnya. Seketika api yang sangat besar menyembur ke arah Ricky dan membakar semua ruangan di tempat Ricky berdiri hingga benar-benar penuh dengan api.


Shumi sempat menutup matanya mencoba menghalau api itu karena mengira akan terkena semburannya. Tapi benar saja, selubung itu sangat kuat, hanya cahaya dari api itu yang dapat menembusnya, sedangkan sedikit pun panasnya tidak dapat dirasakan oleh Shumi. Padahal, saat ini ia berada paling dekat dengan tembok yang berada di belakang Ricky.


“Ha..ha..ha..” Ricky tertawa dibalik selimut api yang mencoba membakarnya. Perlahan api itu lenyap dan terlihat ia masih berdiri tanpa luka sedikitpun. “Saya sangat takjub dengan kekuatan tongkat itu yang bisa membuat sihir elemen tingkat terendah itu menjadi seperti sihir tingkat atas!” ujarnya.


“Dan walaupun energi mana anda sangat besar karena dibantu oleh Batu Topaz, saya harap anda tidak menyia-nyiakannya begitu saja, Yang Mulia! Saya tidak akan terbunuh dengan sihir seperti itu!” ujar Ricky lagi.


Yasmine tersenyum. “Aku hanya ingin melihat, apakah kau pantas berduel dengan ku? Lagi pula di kota ini tidak mengizinkan sihir manipulasi pertahanan tubuh atau sihir hitam yang dapat memanipulasi tubuh makhluk hidup,” balasnya. Ia perlahan berjalan beberapa langkah ke depan.


“Aku yakin kau bukan orang biasa, menahan sihir tingkat rendah dengan aura dan kemampuan teleportasimu juga bukan sebuah sihir kan?” tambah Yasmine.


“Itu adalah kemampuan lahir, Yang Mulia! Tapi saya perlu media untuk membawa saya menciptakan portal itu,” jawab Ricky sembari menoleh sedikit ke arah Shumi.


Shumi terkejut. Ia tidak mengetahui bahwa ia adalah umpan. Ia terdiam seribu bahasa. Ia merasa banyak mata tajam menuju padanya saat ini. “Bagaimana bisa?” tanyanya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2