
Chapter 9
Darah di Istana Suci (Part 2)
Shumi terkejut. Ia tidak mengetahui bahwa ia adalah umpan. Ia terdiam seribu bahasa. Ia merasa banyak mata tajam menuju padanya saat ini. “Bagaimana bisa?” tanyanya.
“Tapi, jangan salahkan dia, Yang Mulia! Kami bertemu di hutan sebelum ini, dan aku hanya memanfaatkannya saja! Bahkan dia tidak sadar ada segel sihir di punggungnya! Ha..ha..ha…” tambah Ricky, “ya, setidaknya anda cukup menyesalkan kematian anda padaku saja, Yang Mulia!”
Maheer dan para penjaga terlihat sangat geram. “Profokasimu tidak akan membuatku kesal, anak muda! Aku tahu semuanya dari apa yang ia lihat!” bantah Yasmine merujuk pada Shumi, “aku juga takjub dengan rencanamu mengurungku disini, padahal kita bisa berduel lebih leluasa di luar sana kan?”
“Anda tidak akan bisa saya ajak untuk berduel di sana, bukan? Anda tidak akan sudi, Yang Mulia! Dan dengan ini juga kematian anda tidak akan terlihat oleh rakyat anda, kan?” Ricky tersenyum lebar.
“Hehe, kau sangat percaya diri, anak muda,” Yasmine menjawabnya dengan tawa kecil seperti apa yang dikatakan Ricky ada benarnya, “dan dengan selubung kecil ini, menggunakan sihir yang berskala besar akan tidak efektif, ya? Tampaknya kau memang ingin cepat menyelesaikan semua ini.”
“Jelas, Yang Mulia! Dengan efek senjata kuno di tangan anda, semuanya harus saya pikir dengan matang. Saya tidak akan ragu, Yang Mulia! Jika ada kesalahan yang terjadi pada anda, akan sangat saya gunakan sebagai kesempatan untuk menghabisi anda.”
“Mari kita mulai, Ricky!” Yasmine mengeluarkan auranya yang berwarna merah dan membuat angin ribut di dalam ruangan itu. Mungkin jika tidak ada selubung itu, aula itu sudah porak poranda.
Ricky tidak bergeming atau mencoba melakukan hal yang sama. Ia seperti merencanakan sesuatu di balik senyumnya. Tanpa ingin mengulur waktu lagi, Yasmine segera melancarkan serangannya.
Tercipta tiga buah burung kanari kecil transparan dan dengan ayunan tongkat mare milik Yasmin ke arah Ricky, burung-burung itu terbang melesat ke targetnya.
__ADS_1
“Holy Birds!” ujar Yasmine.
Sesaat burung-burung itu sampai dengan jarak yang sangat dekat dengan Ricky yang mencoba menghindarinya, tiba-tiba burung-burung itu…
Duaaar…
Burung itu meledak hebat dengan suara yang besar dan terbentuk cahaya putih yang sangat terang yang mana jika itu adalah bom, cahaya putih itu seharusnya adalah api dan asap ledakannya. Semua orang di luar selubung itu sampai harus menyipitkan matanya, mencoba menghalau cahaya yang sangat terang itu.
Ricky rupanya berhasil menghindari ledakan itu dengan sihir yang Shumi pernah lihat sebelumnya, Particle Shield. Tapi, walau sudah menggunakan sihir pertahanan itu, ia tetap terpental ke belakang dan membentur dinding selubung walau tidak roboh.
Ketika cahaya itu sedikit memudar, Ricky tiba-tiba berlari dan melompat ke depan menuju Yasmine dengan sangat cepat. Ia mencoba mengambil ancang-ancang pada tangannya seperti hendak mencakar musuhnya.
“Crimson Claw!” ujar Ricky.
Muncul tiga buah blade mirip bulan sabit sebesar ukuran tubuh manusia berwarna merah transparan yang siap menyerang Yasmine. Jarak mereka kali ini memang masih jauh, tapi blade-blade itu melaju sangat cepat dan mempersempit ruang gerak Yasmine untuk menghindar.
Tiba-tiba muncul kubah berwarna orange, persis seperti yang Shumi lihat juga di mimpi saat Ayahnya terbunuh dulu. Kubah itu kini terkena blade transparan milik Ricky tadi. Namun, bukannya hancur, blade-blade tadi justru berputar dan berbalik arah.
“Reflect!” ujar Yasmine. Seketika blade tadi kembali ke arah Ricky yang terlihat terkejut.
Ricky dengan sangat cepat mundur ke tempat bekas terjadi ledakan sebelumnya yang sudah pudar dan hanya menyisakan bekas ledakannya saja. Ia mundur dengan melompat beberapa kali dan sangat cepat hingga hampir menyentuh dinding selubung di depan Shumi. Saat blade-blade itu hampir mengenainya, ia langsung menghindar ke kanannya. Blade-blade itu menghantam dinding selubung dan membuatnya bergetar hebat seperti pedang besar yang mencoba memotong kaca. Dan Ricky jatuh berguling sekali dan berhenti.
__ADS_1
Shumi yang lagi-lagi terkejut karena mengira akan terkena serangan itu, sedikit berteriak dan mencoba menghalaunya dengan tangan. Pemandangan itu terlihat agak lucu, tapi tidak ada yang tertawa sama sekali. Blade-blade itu perlahan lenyap.
“Kali ini saya tidak menyangka kekuatan batu itu bisa menciptakan perisai yang sangat kuat ya?” ujar Ricky sembari menyentuh lengan kirinya dengan tangan kanannya sendiri. Ia terluka sedikit. Bajunya terlihat robek sepanjang dan selebar satu jari tangan. “Malah anda bisa memadukannya dengan sihir untuk mengembalikannya padaku! Aku takjub, Yang mulia!”
“Jika kubah itu tidak tercipta, mungkin serangan yang seharusnya tidak dapat ditahan itu akan mengenai Yang Agung! Orang itu sangat berbahaya,” ujar Maheer lirih yang kini tengah berdiri di samping Shumi, “semua sihir yang mereka pertontonkan adalah sihir tingkat atas bahkan bencana.”
“Kecepatan gerakanmu cukup membuatku kagum, tapi itu tidak cukup,” ujar Yasmine.
“Akui saja, Yang Mulia, kau terjekut dengan sihir tadi kan? Jika batu itu tidak merespon serangan itu, mungkin kau sudah terluka,” balas Ricky yang kini senyumnya tidak seperti pertama kali kemunculannya di aula itu.
“Ya, aku akui kehebatan benda yang kau gunakan ini, Anak Muda! Sangat kuat ya? Artinya kita bisa saling menyerang dengan sihir yang lebih dahsyat.”
Aura merah kembali muncul pada tubuh Yasmine. Ia kembali bersiap. Begitu juga dengan Ricky, kali ini ia mengeluarkan auranya yang berwarna biru laut.
“Flame disaster!” dari arah Yasmine muncul pusaran api besar yang membentuk seperti badai. Badai api yang dahyat sehingga memenuhi ruangan selubung itu. Serangannya membuat Ricky mustahil untuk mengelaknya.
“Frozen Mist!” Serangan balasan dari Ricky menciptakan badai udara yang sangat dingin hingga membekukkan uap air di sekitanya. Ukurannya juga yang sama besarnya dengan api milik Yasmine.
Kedua badai itu beradu tepat di tengah-tengah ruangan selubung itu, menciptakan seperti aliran listrik yang menyambar-nyambar tak tentu arah. Suara benturannya seperti ledakan bom yang terjadi terus menerus. Lama kelamaan, kedua badai itu membentuk pusaran, menyatu menjadi awan-awan hitam pekat dan kemudian menyatu membentuk bola. Lalu, Bhuum, bola itu meledak dahsyat dengan cahaya yang sangat terang hingga tidak terlihat lagi isi ruangan selubung itu.
Belum selesai ledakan itu mereda, terdengar suara seperti peraduan logam beberapa kali. Kemudian, disusul suara teriakan kesakitan dari Yasmine. Tiba-tiba terlihat samar-samar sinar lingkaran berwarna putih dari arah posisi Yasmine sebelumnya, dan menyusul suara seperti orang yang terpental cukup jauh. Perlahan, keheningan terjadi hingga asap hasil ledakan berangsur hilang.
__ADS_1
“Yang Agung Kepala Suku Yasmine?!” teriak Shinta ketika melihat orang yang ia cemasi terluka pada pangkal tangan kirinya hingga terlihat darah mengucur cukup deras membasahi lengan bajunya yang robek.
Bersambung