Magic Of Mana Book 1 : Tragedi Pertama

Magic Of Mana Book 1 : Tragedi Pertama
Chapter 6 : Hutan Utara (Part 1)


__ADS_3

Chapter 6 (Part 1)


Hutan Utara


Dua hari berlalu, Shumi mulai membiasakan dirinya atas semua kenyataan yang ia ketahui dan alami. Ia memutuskan menjadi Shumi yang biasa dan terus menjaga kerahasiaan Ayah dan Ibu angkatnya untuk menjadi penerus tahta kerajaan itu.


Shumi juga meminta pada Sang Raja untuk pergi berkeliling kerajaan bumi agar bisa mengetahui keadaan luar. Permintaanya disetujui dangan syarat pengawalan penuh dan hal itu disetujui oleh Shumi.


Kabar keberhasilan Zain dan pasukannya juga sudah sampai ke ibukota. Dikabarkan mereka akan kembali ke ibukota seminggu lagi. Shumi cukup senang mendengar hal itu. Akan tetapi, ia merasa harus melakukan sesuatu sebelum sahabatnya kembali.


Shumi sudah mempersiapkan semua rencananya dengan sangat matang selama dua hari ini. Dan malam ini, ia akan melakukannya. Keputusan yang diambilnya sudah sangat ia pertimbangkan. Bukan hanya demi keinginannya atas kejelasan semuanya, tapi juga untuk mengetahui selayak apakah ia untuk menduduki tahta suatu saat nanti. Lebih tepatnya ia ingin takdir yang menentukan segalanya.


Tepat sekitar pukul satu dini hari, Shumi membuka jendela kamar pemandiannya yang terhubung langsung ke kamarnya. Letak jendela itu berada pada belokan di lorong itu, tepatnya di sudut bangunan istana kerajaan. Shumi memandangi sejenak dasar tanah di bawahnya lewat jendela itu. Jarak jendela itu dengan tanah di bawahnya sekitar 5 meter.


Shumi mengikatkan sebuah tali yang ia bawa dari kamarnya pada sebuah besi tempat tiang bendera kecil yang berada di atas jendela itu, kemudian menjulurkannya keluar jendela. Ia menyakinkan ikatannya sudah kuat sebelum ia melompat keluar jendela dengan menggenggam erat tali itu. Perlahan, ia turun hingga ia menapak pada tanah. Ia sudah terbiasa melakukan hal itu karena latihan bela dirinya yang selalu ia tekuni.


Begitu sampai di darat, ia langsung menutup jendela itu lagi. Ia mendorongnya dengan bantuan tali tadi dan mengikatnya sehingga menjaga jendela itu selalu tertutup karena terhalang tali. Warna tali itu juga sudah dicat sesuai dengan warna tembok dan jendela dan sangat terukur, sehingga jika dilihat sepintas, orang tidak akan mengira ada tali di sana.


Ia menggunakan jubah coklat muda dan membawa senjata kesayangannya lengkap, sebuah busur panah dengan bentangan sekitar setengah meter, sehingga ia dapat mengaitkannya di punggungnya beserta kotak anak panahnya. Ia juga membawa tas pinggang kecil berisikan beberapa perlengkapan dan ramuan yang mungkin ia butuhkan.


Ia berlari kecil mengendap-endap hingga tiba di batas pagar istana. Di sana ia menggeser sebuah tanaman hias yang daunya cukup lebat dan menemukan sebuah kayu berbentuk lingkaran. Ia langsung membukanya dan terlihat sebuah lubang kecil seukuran tubuhnya.

__ADS_1


Dengan tenang, Shumi masuk ke lubang itu dengan kepala lebih dulu, kemudian merangkak melewati lubang itu. Ia terus merangkak melewati kegelapan hingga akhirnya ia mecapai ujung terowongan itu yang berupa plat besi tipis, kemudian ia membukanya.


Shumi tiba di bibir sebuah parit besar. Saluran air pembuangan utama ibukota. Memang itu sebuah saluran pembuangan, tapi airnya mengalir tenang dan tidak terlihat kotor. Justru di malam itu, ia bisa melihat beberapa kawanan ikan kecil berenang-renang di pinggirnya. Ia menutup pintu besi tadi dan bergegas pergi menuju benteng kota.


Ia berjalan sendirian di tengah kesunyian dan kegelapan malam tanpa ada masalah. Karena kota throttling adalah kota yang sangat damai dan aman, penjagaan keamanan disana menjadi tidak ketat. Shumi terus berjalan hingga ia tiba di sebuah tembok yang terdapat kisi-kisi besi yang cukup rapat. Kisi-kisi itu hanya mengizinkan air lewat dan tersambung ke parit besar di sekeliling kota bagian luar yang jauh lebih dalam.


Shumi mengeluarkan sebuah ramuan dari dalam tas pinggangnya. Sebuah botol kaca berwarna hijau pekat nyaris hitam. Ia melemparkannya pada kisi-kisi besi paling ujung yang ada di hadapannya, dan …


Clang…


Botol kaca itu pecah menghantam kisi besi itu dan ramuan di dalamnya membuat kisi besi itu meleleh perlahan karena reaksi kimianya. Shumi menunggu sembari memperhatikan sekelilingnya untuk memastikan tidak ada penjaga yang melihatnya. Hingga kira-kira lima menit, tercipta sebuah jalan dari kisi yang meleleh itu dan ia langsung melewatinya.


Dari posisi ini, ia tertutup oleh jembatan yang terbuka kira-kira 10% di atasnya, sehingga aktifitas selanjutnya bisa lebih leluasa ia lakukan. Pijakan disini juga cukup lebar karena akan menjadi pondasi jembatan saat diturunkan, Begitu juga jarak paritnya yang lebih pendek sedikit, tapi ia tahu bahwa di sebrangnya ada perangkap berbentuk lubang-lubang yang akan aktif jika bukan jembatan yang duduk di sana.


Shumi mengambil ramuannya lagi dari tasnya dan kali ini berwarna hijau cerah. Ia juga bukan melemparnya, tapi meminumnya. Ia merasakan agak pusing dan mual, tapi ia menahannya. Kemudian, ia mengambil satu botol lagi yang berbentuk seperti botol parfum. Cairan dalam botol itu bening transparan. Ia kemudian menyemprotkan ke sekeliling tubuh, mantel dan senjatanya hingga cairan di dalam botol itu habis.


Setelah beberapa menit, ia memastikan waktunya cukup agar efek ramuannya bekerja dan mengambil tali dari tasnya. Salah satu ujung tali itu ia kaitkan dengan anak panahnya sedangkan ujung lainnya ia ikatkan pada badannya, kemudian ia lepaskan anak panah itu dengan busurnya ke arah seberang hingga menancap di tanah tepat di ujung bagian yang ada perangkapnya. Setelah itu, ia ikatkan ujung tali yang masih berada di badannya ke salah satu besi yang berbentuk seperti pengait yang ada disana.


Ia mengambil satu anak panah lagi dan bersiap melesatkannya lagi, tapi kali ini ia berkonsentrasi dan mengambil nafas dalam. Terbentuk aura kecil pada anak panahnya kemudian ia melesatkannya ke parit sisi kanannya. “Teknik Pernafasan Angin : Blow Up Strike!”, ujarnya sesaat sebelum melepaskan anak panahnya.


Kemampuan yang Shumi lakukan adalah teknik penafasan, yang mengambil energi mana dari jantung untuk dialirkan ke paru-paru dan mencampurnya hingga seperti terjadi pembakaran layaknya mesin. Energi hasil pembakaran itu kemudian dialihkan lewat darah ke ujung-ujung tangan dan ditransfer ke anak panah tadi. Sama seperti saat Shumi membuka gembok lemari pribadinya.

__ADS_1


Teknik pernafasan adalah teknik para human agar bisa menyeimbangi kemampuan para penyihir yang memiliki kemampuan lebih mudah dalam memanfaatkan energi mana dalam kehidupannya sehari-hari. Berbeda dengan penyihir yang mengalirkan energi mana -nya lewat syaraf-syaraf ke otak mereka dan menciptakan sihir dengan mudah, teknik pernafasan ini membutuhkan pengaturan aliran darah yang baik. Inilah yang membedakan takdir mereka. Para humans tidak memiliki jalur syaraf istimewa layaknya para penyihir itu.


Panah dari Shumi meluncur sepanjang parit bahkan bisa berbelok mengikuti lengkungan dinding parit yang sebenarnya berbentuk lingkaran. Tepat di bawah gerbang jembatan kota sisi timur, panah itu menukik ke bawah dan masuk ke dalam air di parit sehingga menciptakan suatu pusaran air.


Seperti yang direncanakan Shumi, para prajurit teralihkan perhatiannya kepada pusaran itu. Setelah mengintip dari kejauhan, ia buru-buru memasukkan senjatanya ke dalam mantelnya, kemudian menarik nafas lagi dan berkonsentrasi.


Beberapa detik kemudian, ia langsung melompat naik dan berdiri di atas tali yang ia buat tadi. Ia berlari dengan sangat seimbang dan cepat, seolah-olah seutas tali itu adalah jembatan besar baginya. Ia menggunakan teknik tenaga dalam lainnya yang di dunia itu biasa disebut dacht. Kemampuan itu biasa dipelajari oleh para humans dan penyihir untuk meningkatkan kemampuan fisik mereka sehingga bisa digunakan untuk melompat lebih tinggi, berlari lebih cepat, atau meningkatkan jumlah atau kecepatan aliran energi mana mereka. Terkadang, penggunaan yang sering dan keahlian penggunanya dapat membuatnya dapat mengeluarkan hawa yang mempengaruhi kondisi sekitarnya, seperti hawa membunuh atau hawa kebahagiaan dan sebagainya.


Sesampainya Shumi di ujung tali tadi, ia langsung menarik anak panahnya yang tertancap cukup keras. Ia sampai harus mencabutnya dengan teknik dacht lagi dan membuangnya ke parit, kemudian ia berlari di tengah padang rumput yang luas menuju hutan yang ia selalu pandangi dari menara setiap minggunya. Ya, ia menuju ke utara.


Shumi butuh waktu sekitar satu jam untuk melewati padang rumput itu hingga ia sampai pada barisan pepohonan pertama di hutan yang ia tuju. Sesampainya di sana, ia langsung bersembunyi dan duduk di sebuah dahan pohon yang tumbang. Berbeda dengan di savanna tadi, kali ini kegelapan menyelimutinya. Hutan itu sangat lebat sehingga perbedaan suasananya sangat terasa.


Shumi baru kali ini keluar dari benteng kotanya. Ia bukan takut, tapi takjub akan kengerian hutan itu yang akhirnya ia bisa lihat di depan matanya. Ia sangat kelelahan dan memutuskan untuk istirahat sejenak. Ia kembali mengambil sesuatu dari dalam tas pinggangnya.


Gluk… gluk…gluk…


Suara tenggakan air minum di tenggorokannya dapat dengan jelas ia dengar karena keheningan di sekitarnya. “Setidaknya hingga terbit fajar, aku akan aman. Mereka akan mencariku keluar kota itu kemungkinan pada siang harinya,” ujarnya pada diri sendiri, “huh! Melelahkan sekali!”


“Anda luar biasa, Nona!” tiba-tiba suara yang Shumi kenal muncul dan membuatnya tersedak.


(Bersambung ke part selanjutnya)

__ADS_1


__ADS_2