
Chapter 8
Kota Suci Topaz (Part 1)
Api di tangan Ricky membesar dan lidahnya liar menggeliat-liat. Para centaur tercengang dan diam tak bergeming. Mereka seakan tahu api apa itu.
“Si..siapakah kau ii..ini?” tanya Wawantoraute. Ia kini memasang wajah agak ketakutan, bukan lagi sombong seperti sebelumnya.
Shumi dan Shukoi menjadi sedikit bingung. Shumi melihat sekeliling dan ternyata bukan hanya Wawantoraute dan kawanan di belakangnya yang ketakutan, tapi juga semua centaur di sana terlihat ketakutan. Bahkan, Para ogre juga terlihat sedikit gemetaran.
Tiba-tiba api itu mengecil lagi dan berubah warna menjadi hitam pekat. Para centaur semakin ketakutan bahkan mundur beberapa langkah, sedangkan Ricky terlihat tersenyum.
“Ada apa? Kalian takut tidak bisa bereinkarnasi setelah terkena api ini?” gertak Rick, “ini api neraka! Ini kan yang kalian takutkan dari para penyihir angkasa, sehingga memilih untuk tunduk pada mereka?”
“Hanya satu orang penyihir angkasa yang bisa menggunakan sihir itu! Siapa kau sebenarnya? Apa darah Tuan Fukai Kuro ada pada dirimu?” tanya Wawantoraute keheranan “ini sungguh bukan ilusi! Kami tidak mempan terhadap ilusi!”
“Memang bukan ilusi!” bentak Ricky pelan. “Baiklah jika kalian ingin mencobanya!” ujar Ricky sembali mengarahkan api itu perlahan ke arah Wawantoraute.
Cetaur itu bergetar ketakutan. Shumi terus memperhatikan itu semua, walau dalam benaknya muncul segudang pertanyaan atas jati diri Ricky yang sebenarnya.
“Orang itu menamakan sihir ini, Amaterasu!” ujar Ricky dan dengan cepat, api hitam itu memanjang seperti ada tali tidak terlihat yang dipenuhi minyak ke arah Wawantoraute.
__ADS_1
Wawantoraute pun berbalik mencoba menghidar. Beberapa centaur juga berhamburan menghindarinya layaknya menghindari sesuatu yang menjijikkan. Tapi, tubuh Wawantoraute sisi kuda bagian belakangnya terkena api hitam itu.
Blaaash…. Api langsung membesar membakar tubuh kuda Wawantoraute. Ia berteriak kesakitan dan terjatuh mencoba berguling-guling agar api itu padam, namun sia-sia. Api hitam itu terus membakar tubuhnya seperti api unggun yang sedang membakar kayu yang sangat kering.
“Ampun..! Ampun…!” teriak Wawantoraute. Para centaur di sana semakin ketakutan, bahkan sudah ada beberapa yang kabur.
Zaaap! Api hitam yang ada di tubuh Centaur itu tiba-tiba lenyap. Rupanya Ricky menarik kembali apinya dan kini tinggal api hitam kecil seperti api pada sebuah lilin saja yang ada di atas telapak tangan kanannya. Tampak bekas luka bakar di tubuh Wawantoraute dan ia masih tergeletak dengan nafas yang tidak teratur.
“Mau lagi?” tanya Ricky mengancam, “atau ada lagi yang mau mencoba api ini?”
Serentak, para centaur yang ada di sana lari terbirit-birit. Mereka menyelamatkan dirinya masing-masing dan meninggalkan pemimpin mereka tergeletak tak berdaya.
“Tidak ada, aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengan penyihir nomor satu di Negara Angkasa itu! Aku hanya mengetahui kemasyurannya saja!” jawab Ricky sembari menghapus api lilin hitam itu. Ia menoleh ke arah Shumi.
Shumi masih terdiam. “Lalu? Jika mendengar perkataan centaur itu, harusnya kau tidak bisa menggunakan sihir itu, bukan?” ujarnya kemudian.
“Memang tidak! Jika itu api hitam asli, tubuhnya tidak akan tersisa lagi seperti itu!” jawabnya sembari kembali menatap Wawantoraute yang masih tergeletak tak berdaya. Ia berjalan mendekati makhluk itu. “Hanya satu itu yang mereka ini takutkan! Jadi, api biasa dengan sihir ilusi tingkat tinggi dan dibumbui rasa ketakutan dari dalam diri mereka, menyebabkan rasa api yang ku buat seakan-akan memang sihir Amaterasu! Ha..ha..ha…” ujarnya lagi.
Shukoi juga ternyata sedikit bingung. “Lalu? Bukannya para centaur itu tidak bisa terkena sihir semacam itu juga? Tapi, ia terkapar seperti itu?” tanyanya.
“Lihat! Tubuhnya tidak terluka! Api biruku hanya membakar bulu-bulunya saja! Tapi, ia pingsan begitu! Ha…ha…ha…”, jawab Ricky, “boleh aku bunuh?”.
__ADS_1
“Jangan jika ia belum mati!” jawab Shumi tiba-tiba, “buat ia lebih tidak sadarkan diri saja hingga kita bisa pergi dari sini!”
Bug..bug..! Ricky memukul leher belakang centaur pingsan itu walau tidak ada reaksi apapun. “Harusnya ia akan pingsan lebih lama dengan ini!” ujarnya kemudian kembali berdiri dan berjalan ke arah Shumi.
“Kau tetap bukan orang sembarangan!” ujar Shumi, “kau bisa menciptakan ilusi pada makhluk yang seharusnya tidak mempan ilusi.”
“Hey!” Ricky mulai jengkel, “pengetahuan kalian tentang sihir dan penyihir memang sangat rendah, ya? Seorang putra mahkota kerajaan Angkasa saja tidak kenal! Sekarang, tentang tingkatan sihir juga tidak tahu! Dasar wanita bodoh!”
Shumi membelalak dan berseru, “apa kau bilang?!” Wajahnya merah padam. Ia malu atas kritikannya, tapi juga sedikit emosi mendengar ejekannya.
Shukoi tersenyum dan memasukkan kembali katana miliknya. “Lebih baik kita pergi sekarang, Nona!” ajaknya mencoba menyudahi perbincangan majikannya dengan Ricky. “Kau memang bukan orang yang sembarangan karena bisa menggunakan ilusi tingkat tinggi!” tambahnya menunjuk pada Ricky.
“Itu maksudku!” potong Shumi, “sudahlah, ayo kita lanjutkan perjalanan saja sebelum mereka datang kembali.” Ia berbalik dan berjalan mengambil tas pinggangnya yang tergeletak di dekat tempat ia duduk sebelumnya. Ia kemudian berjalan kembali ke utara, mengacuhkan Ricky yang masih diam memperhatikannya.
Shumi berhenti sejenak saat hendak sampai pada tempat Shukoi berdiri. “Terima kasih, Ricky!” ujarnya sembari menoleh sedikit ke arah Ricky dan itu membuat orang yang dipujinya tersenyum.
“Ingat, Shumi! Di atas langit masih ada langit yang jauh lebih tinggi, bahkan di bawah tanah masih ada tanah yang jauh lebih panas!” ujar Ricky lirih, tapi Shumi berpura-pura tidak mengacuhkannya.
* * *
bersambung
__ADS_1