
Chapter 5 (Part 4)
Kaum Quartz dan Kerajaan Throttling
“Menajubkan!” ujar Aziz tersenyum. Ia bersiap menyiapkan sesuatu untuk menahannya.
Kelima penyerang yang lain juga terkejut. Mereka juga bersiap.
“Mungkin ini seranganku terkahir, akan ku yakinkan kalian tidak akan bisa mengejar anakku!” ujar Zahid sembari tersenyum.
Zahid terlihat mengeluarkan darah dari hidungnya. “Particle blast!” ujarnya dan membuat batu itu terpecah menjadi batuan yang lebih kecil, tapi apinya malah semakin membesar hingga air hujan yang mengguyurnya malah menguap. “Demi semua yang telah membesarkanku! Demi orang-orang tercintaku, istriku dan anakku!” ujarnya dan entah mengapa, ia menoleh ke arah Shumi dan tersenyum, seolah-olah ia dapat melihat Shumi di sana. “Mereka berdua akan menjadi orang yang akan mengubah dunia ini!” ujarnya lagi.
Shumi yang saat ini hanya sedang mengingat mimpinya baru sadar dan terkejut. Ia sebelumnya tidak menyadari ini. Mungkin karena saat ini ia tahu bahwa pria itu adalah Ayahnya. Ini membuatnya menitikkan air mata. Ia juga sadar, ingatan akan kata-kata ini yang membuat ia tenang saat dilanda kekhawatiran saat pertama kali ia terbangun dari mimpi ini.
__ADS_1
“Ini sihir ciptaanmu ya?” tanya Aziz, “ini sihir tingkat bencana! Sungguh menajubkan! Ha…ha…ha… Sepertinya sihir selevel particle shiled pun tak mampu menahannya,” Ia sangat terkagum dengan sihir Zahid.
Zahid tersenyum. “Rainy comet!” ujarnya pelan dan serentak batuan berapi itu meluncur cepat ke arah Aziz dan Faiz.
Di saat bersamaan, entah bagaimana, tiba-tiba terbentuk kubah berwarna kuning transparan yang menjadi payung berlindung Aziz dan Faiz. Komet-komet ciptaan Zahid hancur setelah menabrak kubah itu. Hujan komet terus meluncur beberapa saat hingga habis semuanya dan membakar rumput hingga tanah di sekeliling mereka. Zahid terkejut sihirnya tidak membuahkan hasil sesuai keinginannya.
Shumi melihat Aziz tertawa terbahak-bahak sembari melepaskan jubahnya. Ia memperlihatkan sebuah permata seukuran kepalan tangan orang dewasa yang berwarna jingga yang terpasang pada sebuah kalung yang melingkari lehernya. Shumi pikir benda itulah yang menciptakan kubah itu. Ia kemudian melihat Zahid yang sangat amat terkejut setelah melihat benda itu.
Kemudian, kelima penyihir yang lain langsung melancarkan sihirnya lagi secara bersamaan hingga terbentuk semacam semburan yang berisikan api, es, air, petir dan angin secara bersamaan.
Wajahnya penuh keriangan dan nafsu membunuh. “Crimson Claw!” ujarnya dan seketika Zahid seperti tertebas tiga buah pedang besar tak terlihat. Ia menyemburkan darah yang sangat banyak dan terkapar.
* * *
__ADS_1
Shumi memeras tangannya sendiri sembari menangis. Ia menghentikan ingatannya itu. Orang yang ia lihat tewas mengenaskan itu ternyata adalah Ayahnya. Orang yang ia khawatirkan akan keselamatannya adalah Ibunya dan bayi yang ia kasihani itu ternyata adalah dirinya. Ia juga kesal karena orang yang membesarkannya tidak jujur padanya dari awal, padahal ia sangat mencintai mereka. Emosi tercampur aduk dalam pikiran dan hatinya.
Ia juga baru menyadari bahwa ia adalah keturunan kaum putih yang ternyata dulu dihianati kaum human yang ditolong kaumnya. Andai saja dulu tidak ada peperangan yang menyebabkan kaum quartz terusir, pasti hukum kemurnian di suku itu tidak pernah ada dan ia bisa hidup dengan damai bersama orang tuanya. Tapi, kini ia juga tidak bisa memungkiri kebaikan orang tua angkatnya yang membesarkannya dengan rasa kasih sayang dan cinta yang sangat besar.
Ia kini menyadari maksud dari cerita Ibu angkatnya. Sang Ratu ingin ia terus menjalani kehidupannya sebagai penerus tahta kerajaan walau ia bukan keturunan langsung kerajaan itu. Sama seperti wanita yang Ibu angkatnya ceritakan itu. Wanita yang diidolakan olehnya.
Kenyataan yang terus menerus menghantamnya seakan-akan membuatnya seperti yang Ayahnya rasakan saat akhir hayatnya. Ditambah dengan sihir terakhir yang menyatakan bahwa ia adalah seorang indigo yang mampu mengetahui kejadian masa lalu sedetail itu, bahkan jauh sebelum ia lahir. Hal ini membuatnya seakan terbunuh.
Perlahan Shumi bangkit dari duduknya sembari melepaskan cincin perak dari jari tengah tangan kanannya dan berjalan ke arah lemari yang berada di pojok ruangan kamarnya pada sisi lainnya. Lemari itu terkunci sebuah gembok kayu. Ia mencoba membuka gembok itu dengan energi mana-nya. Ia berkonsentrasi dan mengambil sekali tarikan nafas agak dalam, kemudian mengubahnya menjadi suatu energi sehingga tangan kirinya mengeluarkan aura putih, kemudian ia genggam gembok itu. Clack. Gembok itu terbuka.
Ia membuka pintu lemari itu. Ia melihat beberapa botol ramuan berwarna-warni masih tersusun rapih di dalamnya. Ia tersenyum. “Aku terlahir dan dibesarkan sebagai kaum quartz bertahtakan kerajaan Throttling,” ujarnya lirih dibalik sisa isak tangisnya, “sudah saatnya aku bergerak mencari semua kebenarannya!” tambahnya sembari meletakkan cincin di dalam lemari itu.
-Chapter 5 : Kaum Quartz dan Kerajaan Throttling-
__ADS_1
-Tamat-