
Chapter 5 (Part 3)
Kaum Quartz dan Kerajaan Throttling
Hujan deras, petir sesekali menggelegar. Sebuah gubuk di tanah lapang menjadi saksi bisu sebuah peristiwa itu. Shumi masih melihat seorang pria yang baru saja ditinggalkan oleh istrinya yang membaya bayinya pergi menuju hutan yang gelap. Pria itu masih terus mengamati arah kepergian orang yang ia sangat cintai itu. Shumi tahu nama pria itu dari percakapan sebelumnya dan ia juga tahu siapa pria ini pada akhirnya.
Tiba-tiba datang sekelompok orang yang kehadirannya hampir tidak terlihat karena suasana sangat gelap saat itu. Suara derap langkah mereka pun tersapu oleh derasnya hujan. Mereka semua menggunakan tudung gelap, nyaris hitam dan menggunakan lencana perak yang mengikat tudung mereka tepat di bagian dada mereka. Wajah-wajah mereka pun tidak terlalu dapat terlihat dengan jelas.
“Zahid! Kami tidak ingin kekerasan!”, ujar salah satu dari mereka yang berdiri paling depan. “Kami semua kemari atas perintah langsung Kepala Suku Yang Terhormat”.
Zahid berbalik perlahan. “Apa perintahnya? Membunuhku dan anak-anakku kah?”, balasnya.
“Jika diperlukan!”, sahut orang bertudung yang berdiri di sebelah orang yang bicara dengan Zahid tadi.
“Tunjukkan wajah kalian jika memang kalian adalah orang-orang terbaiknya untuk mengeksekusiku malam ini!”, bentak Zahid.
Sekelompok orang asing itu kemudian membuka tudung mereka bagian kepala hingga wajah mereka sedikit jelas terlihat. Orang yang bicara pertama tadi berwajah sedikit lonjong, berambut hitam sepanjang lehernya. Matanya yang hitam membuat kesan licik dengan bentuk matanya yang tajam. Di sebelahnya, pria yang berambut hitam pendek terlihat lebih gagah dan kekar. Ia terlihat penuh semangat. Semangat membunuh.
“Jadi kau mau menyerahkan diri?”, tanya pria berambut seleher tadi. Ia kemudian mengeluarkan wand, tongkat sihir kecil dan pendek seperti ranting kayu pendek.
“Kalian memang ingin membunuh kami kan, Aziz?!”, jawab Zahid kepada orang yang mengeluarkan wand tadi. Kemudian, ia melebarkan tangan kanannya ke tanah, tiba-tiba muncul ornament berbentuk lingkaran dan mengeluarkan sebuah tongkat sihir yang cukup besar dan setinggi dadanya. Terdapat ukiran aneh pada kepala tongkat yang berbentuk seperti buah alpukat yang besar.
Aziz tertawa, “Ha..ha..ha… Baiklah, Zahid! Kita lihat, wooden wand milikku ini apa bisa mengalahkan wooden staff milikmu?”. Ia bersiap menyerang. “Bersiaplah!”.
Zahid mencengkram kuat staff nya. Ia juga siap menghadapi siapapun yang hendak menyerangnya.
“Frozen Spear!”, Azir berteriak sembari mengacungkan wand nya. Muncullah tiga buah tombak es di hadapannya dan mengacung ke arah Zahid. Sekejap, tombak-tombak itu meluncur di udara menyerang targetnya.
“Water wall!”, balas Zahid dan dinding air yang menyerupai pusaran air yang ia ambil dari hujan di sekitarnya. Sekejap, tombak-tombak yang mengarah kepadanya cair dan lenyap dimakan pusaran air itu. Zahid melompat sedikit ke sisi kirinya dan balas menyerang. “Fire Ball”, ujarnya.
__ADS_1
Muncul bola api sebesar semangka mengarah ke Aziz dan membuatnya terkejut. Bola api itu meluncur lebih cepat daripada kecepatan serang tombak es nya tadi hingga ia tidak dapat mengelak. “Sial! Bagaimana ia bisa menahan serangan sihirku”, gumamnya.
Tiba-tiba seorang yang di sebelah Aziz tadi menariknya dan membawanya lompat ke belakang dan bola api itu hanya membakar tanah tempat Aziz berdiri tadi hingga hilang karena tersapu hujan. Ia dan pria yang menyelamatkannya itu jatuh tersungkur di tanah.
“Terima kasih, Faiz!”, ujar Aziz, “Nyaris saja”. Ia cepat-cepat bangkit dan kembali berdiri.
“Kau sangat pandai, Zahid! Hanya memanipulasi air hujan yang ada agar mana milikmu tidak terlalu terkuras, kemudian menggunakan sihir tingkat menengah agar kecepatannya bisa lebih efektif di tengah hujan seperti ini”, puji Faiz sembari bangkit berdiri kembali. “Sepertinya jika kita tidak menyerangnya bersama-sama, kita tidak akan bisa mengejar Scarlet tepat waktu!”, tambahnya.
“Memang melawan mantan wakil kepala penjaga bukan hal yang mudah, ha…ha..ha..”, sahut Aziz, “Tapi, kami juga penyihir kelas atas, jadi kami tidak akan segan-segan!”.
Lima orang yang lain dari komplotan itu mulai mengeluarkan auranya masing-masing siap menyerang. Faiz juga mulai mengeluarkan auranya juga. Mereka bertempur dengan tangan kosong.
Melihat musuh mulai bersiap dengan kemampuan penuh, Zahid mulai juga memperlihatkan auranya. “Jujur saja, aku tidak ada niat membunuh saudara-saudaraku sendiri!”, ujarnya sembari mulai mengangkat kedua kakinya meninggalkan pijakannya pada tanah. Ia terbang karena auranya.
“Menajubkan, bukan?!”, puji Aziz, “Ayo kita percepat saja main-mainnya!”. Ia juga mengeluarkan auranya.
Semua orang bertudung mulai menyerang. Mereka mengeluarkan sihir elemental yang berbeda-beda. Twist fire ball, Water slasher, Frozen spear, dan Wind Blaster dilancarkan oleh empat penyerang dari arah depan Zahid sehingga sebuah bola api besar yang berputar-putar, air yang memadat dan menyerupai blade besar, tombak dari es yang runcing dan udara yang menyerupai pisau-pisau kecil tercipta dan siap meluncur. Blind Light dari satu penyerang tadi juga diciptakan sehingga tercipta cahaya yang sangat menyilaukan mata targetnya dengan tujuan agar serangan-serangan tadi tidak terlihat dengan baik oleh Zahid.
Di saat bersamaan, Zaid menciptakan perisai tebal berwarna putih semi transparan di hadapannya, mencoba menghalau serangan-serangan itu. “Particle Shield!”, ujarnya.
Sesaat kemudian, semua serangan-serangan dan perisai tadi saling beradu dan hancur bersamaan dan menciptakan debu dan asap cukup tebal. Tiba-tiba muncul Faiz dari balik debu itu. Ia melesat cepat seakan di kakinya terdapat pegas buatan yang membuatnya dapat terlontar cepat. Di tangan kanannya terdapat ornament bercahaya kuning. Ia memadatkan sesuatu di tangannya.
Zahid terkejut. Ia segera menciptakan sihir pemadat udara di sampingnya. “Compressible Air!”, ujarnya dan seketika ia terhempas ke samping kirinya. Tapi, tanpa sadar ia terkena sebuah batu besar yang tiba-tiba muncul dari bawah tanah di sisi kirinya.
“Mountain Rock!”, ujar Aziz dengan wand nya sehingga batu besar tadi muncul dan mengenai Zahid.
Zahid terbentur cukup keras dan terpental ke sisi kanannya menuju tanah. Ia terlihat kesakitan. Belum selesai ia mendarat, tiba-tiba Faiz sudah siap meninjunya di udara.
“Lighting punch!”, ucap Faiz sembari melepaskan kepalan tangannya ke perut Zahid.
__ADS_1
Sesaat sebelum efek pukulan itu muncul, Zahid mengeluarkan sihir dari wooden staff nya. “Fire Burst!”, ucapnya.
Di saat bersamaan, Zahid terhempas ke tanah setelah tiba-tiba petir tercipta dan meledak di perutnya dan ia membalasnya dengan menciptakan api yang menusuk dada Faiz hingga lidah api menembus keluar dari punggungnya. Zahid terkapar di tanah dan diguyur hujan, begitu pula Faiz yang terpental dan tergeletak beberapa meter dari Zahid.
“Bagaimana pun, sihir selubung yang kau gunakan untuk mengelabui kami pasti akan sangat menguras energi mana mu!”, ujar Aziz. “Menggunakan sihir tingkat bencana seperti itu dalam waktu yang cukup lama dan masih bisa bertarung seperti ini? Aku memujimu, Zahid!”, tambahnya sembari tersenyum dan mendekati Faiz.
Faiz terkapar menahan sakit dan aura tubuhnya hilang sama sekali. Dari tubuhnya dapat terlihat asap hitam sesekali berusaha menembus air hujan yang turun. Shumi menyaksikan semuanya dari jarak yang tidak jauh. Ia juga melihat Zahid mencoba bangkit walau perutnya juga terluka. Pakaiannya berlubang menyerupai lingkaran tepat di sisi perutnya yang terkena sihir tadi.
“Kita selesaikan saja, Zahid!”, ujar Aziz. “Cure”, ia mencoba menyembuhkan luka Faiz. “Jika saja baju anti sihir yang kau gunakan berlevel rendah, perutmu pasti sudah berlubang, ha..ha..ha…”, lanjutnya sembari tertawa.
Zahid hanya terdiam dan mencoba menahan tubuhnya dengan tongkatnya. Auranya mulai memudar. Ia terlihat masih menahan sakit. “Kalian benar-benar berniat menghabisiku disini, ya?”, ujarnya lirih.
“Tentu saja!”, jawab Aziz, “Kapan lagi aku bisa menggunakan kesempatan ini?”. Ia tampak sangat senang dan bersemangat.
Anehnya, Shumi melihat lima orang penyerang Ayahnya itu justru terkejut dengan pernyataan Aziz tadi, seakan ada yang tidak sejalan dengan suatu hal. Tapi, mereka hanya terdiam. Shumi pikir mereka hanya bawahan yang harus mengikuti perintah atasannya saat ini.
“Rupanya benar, tapi aku juga terkejut bukan Yasmine yang kemari!”, balas Zahid. “Tak apa, suatu saat pasti akan ada yang akan membayar semua ini, Aziz!”.
Shumi mulai mengingat lagi nama Yasmie. Ia belum tahu siapa pemilik nama itu.
Zahid kemudian mengeluarkan auranya lagi. Ia mengangkat batu besar yang tadi menghantamnya. “Jump rock! Wrinkle Ball! Magma Fire!”, ujarnya dan membuat batu itu terbang cukup tinggi, sembari memadatkannya menjadi bola kemudian membuatnya terbakar. Semua orang disana terpaku melihat bola api besar itu.
“Menajubkan!”, ujar Aziz tersenyum. Ia bersiap menyiapkan sesuatu untuk menahannya.
Kelima penyerang yang lain juga terkejut. Mereka juga bersiap.
“Mungkin ini seranganku terakhir, akan ku yakinkan kalian tidak akan bisa mengejar anakku!”, ujar Zahid sembari tersenyum.
(Bersambung ke part 4)
__ADS_1