
Chapter 6 (Part 4)
Hutan Utara
“Makhluk apa lagi ini?” tanya Shumi dalam hati.
Shumi langsung bangkit dan melihat apa yang muncul. Rupanya seekor katak raksasa! Ukurannya sekitar lima kali tinggi manusia normal dan terlihat dua kali lebih tinggi dari para laba-laba. Badannya sangat gemuk, kulitnya penuh bintil-bintil dan berlendir menjijikkan.
Kini, Shumi dan Shukoi cukup terpisah. Sisi utara mereka ada seekor kodok besar, sedangkan selatannya kawanan laba-laba siap menyerang. Shumi memberikan kode dengan gerakan kepala pada Shukoi untuk mengatasi sang katak dan ia akan mencoba menahan para laba-laba.
Shukoi langsung berlari ke arah katak yang masih terdiam. Bersamaan Shumi juga melompat mundur melompati dahan pohon tumbang sembari mengarahkan anak panahnya pada laba-laba.
Zaaap. Shumi melesatkan anak panahnya. “Teknik Pernafasan Angin : Circle Blow!” ujarnya. Anak panahnya melesat cepat melintir dan menciptakan pusaran angin melintang kemudian melewati beberapa laba-laba. Angin itu cukup kuat untuk membuat beberapa terhempas ke kanan dan kiri. Saat panah itu menghujam sebuah batu yang tertutupi lumut dan semak belukar, Syuuut…! Tiba-tiba suatu lingkaran dari angin terbentuk, dari kecil hingga membesar hingga mirip potongan angin tornado dan memporak-porandakan sekitarnya. Cukup banyak laba-laba terpental atau setidaknya tergangu dengan angin ribut itu.
Saat Shumi membalikkan tubuhnya dan hendak berlari, ia melihat Shukoi mencoba menghindari serangan lidah katak besar tadi sekali lagi. “Sepertinya katak itu sulit untuk ditebas, ya?” ujarnya, mengamati lendir yang menyelimuti seluruh tubuh mahkluk itu. Ia yakin itu bukan lendir biasa.
Shumi berlari mencoba menolong, ia bersiap melesatkan anak panahnya lagi. Tatapannya kali ini menuju pada bola mata besar bergaris vertikal yang lebih gelap daripada sekelilingnya. Ia dengan cepat menarik tali busur panahnya dan melesatkan senjatanya itu, “Teknik Pernafasan Angin: Sharp Shot!”.
Anak panah Shumi melesat nyaris tak terlihat dan menghujam mata kiri sang katak besar. Namun, sayangnya anak panah itu seperti tergelincir dan berbelok terus melaju kemudian menancap di tanah. Shumi membelalak tidak percaya serangannya juga tidak mempan dan tanpa ia sadari, ada beberapa ekor laba-laba mencoba mendekatinya.
Untungnya Shukoi mengetahui hal itu. Ia buru-buru melompati kaki belakang katak dan berlari ke arah Shumi. “Awas, Nona! Di belakang anda!” teriaknya.
Shumi yang kembali tersadar menoleh sedikit ke belakang dan mendapati seekor laba-laba hendak menyerangnya lagi dengan sesuatu yang ia siapkan dari celah taringnya. Dengan sigap, Shumi melompat sembari berputar ke kanannya mencoba menghindar.
Bersamaan, rupanya Sang katak tidak membiarkan Shukoi kabur. Ia berbalik cepat dan melontarkan lidah panjangnya lagi. Shukoi mengetahuinya lewat insting dacht miliknya. Sesaat ketika lidah itu hendak mengenainya, Shukoi melompat dan berputar, kemudian ia menebasnya dengan bagian punggung kedua katana-nya. “Teknik Pernafasan Tanah: Hard Slash!”.
Lidah katak itu berbelok ke arah laba-laba yang menyerang Shumi tadi. Lendir yang tebal dan licin menyebabkan serangan Shukoi hanya membuatnya berbelok. Shumi yang berhasil menghindari serangan laba-laba tadi bersiap menyerang kembali dengan anak panahnya dan berdiri di atas dahan pohon kecil.
Plaak… . Lidah katak mengenai salah satu laba-laba yang tak sanggup menghindar. Melihat itu, Shumi langsung mundur dengan melompat ke belakang tapi tatapannya tetap waspada pada laba-laba di hadapannya. Shukoi juga tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Rencanaya sepertinya berhasil dan ia juga pergi menyusul Shumi.
“Ide bagus, Shukoi! Setidaknya kita bisa lari kembali!” puji Shumi sembari memutar tubuhnya dan berlari di samping Shukoi.
__ADS_1
“Terima kasih, Nona!” balas Shukoi dengan ekspresi yang datar dan tatapan lurus ke depan.
Shumi mencoba menoleh ke belakang, melambatkan langkahnya sedikit. Ia mendapati para laba-laba kini berurusan dengan sang katak karena salah satu kawannya telah masuk dalam mulut pemilik lidah yang menangkapnya itu. Shumi terseyum. Ia kembali menghadap ke depan dan terus berlari.
Mereka terus berlari beberapa menit hingga Shukoi merasa sudah cukup aman. “Kita sudah aman, Nona!” ujarnya pelan.
Mereka menghentikan langkah kaki mereka perlahan. Shumi langsung duduk di sebuah batu kecil di sampingnya. Ia kelelahan. Sembari beristirahat, ia mengambil botol minum dari tas pinggangnya.
“Mau?” ujar Shumi masih mencoba mengatur nafasnya.
“Terima kasih, Nona! Biar anda lebih dulu,” jawab Shukoi.
Kamu tidak terlihat terlalu lelah ya? Padahal sudah tujuh tahun kamu lepas dari militer,” puji Shumi, “aku akui, cukup jarang melakukan teknik dacht terlalu lama, sehingga energiku terlalu banyak terbuang.” Ia meminum isi botol di tangannya perlahan.
“Ya, memang ada penurunan, Nona! Tapi saya rasa, latihan saya setiap malam masih bisa cukup menjaganya,” balasnya memperhatikan majikannya meminum air yang ia ambil sebelumnya, “lebih segar bukan?!”
“Aah,” Shumi selesai minum, “bukan hanya lebih segar, tapi membuat badan menjadi sejuk!” Shumi merasakan efek yang begitu membuatnya seakan tidak percaya. Kualitas air yang sangat jauh lebih baik dengan air yang ada di kerajaannya, “ini, minumlah, Shukoi! Jangan sungkan!”
“Tidak usah, biar saja!” Shumi merebut kembali botolnya, “Ini pemberian Ibuku, aku memerlukan semuanya dalam satu tas ini! Tapi, terima kasih atas tawarannya, Shukoi.” Ia kembali berdiri dan berkata, “ayo, kita lanjutkan!”
“Apa nona tidak lelah? Kita bisa istirahat lebih lama lagi jika memang begitu, biar saya melihat sekeliling dulu, agar tidak terjadi serangan seperti tadi.”
“Tidak, Shukoi! Kita bisa beristirahat saat matahari sudah melewati hutan ini. Perjalanan di malam hari justru bisa membuat resiko bahaya lebih tinggi, bukan?”
“Baik, Nona! Semoga kita bisa menemukan tempat yang cukup baik untuk beristirahat nanti.”
“Pasti ada! Dan semakin ke dalam, sepertinya semakin berbahaya ya hutan ini?”
“Sepertinya begitu, Nona.”
“Baiklah, ayo kita lanjutkan, Shukoi!” Shumi berjalan.
__ADS_1
“Siap, Nona!” sahut Shukoi sembari ikut berjalan.
Kali ini semak belukar semakin sedikit, tapi pepohonan semakin bergagam dan ukurannya juga bervariasi. Shumi berjalan sembari menikmati suasana sekitarnya. “Pepohonannya sangat berbeda, mungkin ini hutan utara pada sisi yang berbeda,” ujarnya dalam hati. Serangga-serangga kecil pun kini terlihat sangat indah, kupu-kupu yang bermain-main, capung-capung yang besarnya seukuran telapak tangan manusia juga sesekali lewat di atas mereka, dan terkadang semut-semut api yang berbaris rapi membuat pemandangan tersendiri yang membuat kagum dirinya.
Tak berapa lama mereka berjalan, Shukoi kembali menemukan sesuatu di hadapan mereka.
“Sebentar, Nona! Ayo sembunyi di sana!” ia menunjuk pada sebuah rumpun pohon bambu yang cukup lebat ditambah dengan semak-semak yang tinggi.
Shumi mengikutinya dan bersembunyi di balik batang-batang bambu itu, “ada apa. Shukoi?”
“Itu Nona!” Shukoi menunjuk ke arah balik dari rumpun bambu tempat mereka sembunyi.
Shumi mencoba mengintip dari celah-celah batang-batang bambu. Ia melihat empat makhluk besar, menyerupai manusia tapi ukurannya tiga hingga empat kali lebih besar dari manusia biasa, kira-kira hampir sebesar katak yang sebelumnya menyerang Shumi dan Shukoi. Makhluk itu berkulit hijau tua, nyaris hitam. Memiliki rambut tapi hanya beberapa helai dan panjangnya hingga ke leher mereka. Dari sudut ini, Shumi hanya bisa melihat punggungnya. Mereka sedang bersiap dengan pentungan besar dari kayu di salah satu tangan mereka, seperti sedang menunggu sesuatu datang.
“Ogre?" ujar Shukoi pelan.
Shumi langsung membayangkan raksasa bertaring besar tumbuh dari gigi bagian bawah hingga keluar hampir sejajar dengan hidung mereka. Berwajah buruk dan tempurung kepalanya yang kecil membuatnya tampak menyeramkan. Tapi, bayangan itu selama ini baru ia lihat di gambar pada buku-buku di perpustakaan kerajaan.
“Sedang apa mereka?” sahut Shumi.
“Entahlah.”
Tak lama, muncul satu makhluk lagi yang langsung menyerang salah satu ogre itu dengan panah dan mengenai lengan kiri atas targetnya. Hal itu membuat Shumi membelalak serta membuka mulutnya dan mengeluarkan suara tanpa ia sadari. Sayangnya, suaranya mungkin terdengar lebih lantang dari ekspektasinya.
* * *
-Chapter 6 : Hutan Utara-
-Selesai-
(to be continued to Next Chapter)
__ADS_1