Magic Of Mana Book 1 : Tragedi Pertama

Magic Of Mana Book 1 : Tragedi Pertama
Mini Chapter 1 : The Solomon Ring


__ADS_3

Mini Chapter 1


The Solomon Ring


 


“Sudah 500 tahun sejak aku pergi ke dunia ini, belum juga bisa ku bertemu dengan ibuku?” keluh Pluto. Ia sedang duduk di suatu singgasana besar di sebuah ruangan sangat besar namun gelap. Hanya dua buah obor besar di kanan dan kirinya dan berjarak agak jauh darinya yang memberikan cahaya disana. Tinggi ruangan itu seperti tidak beratap karena cahaya obor itu saja tidak dapat menyinari bagian atas ruangan yang tampak sangat gelap.


 


“Maaf, tapi paduka sudah beruntung tidak dihabisi oleh Yang Kuasa,” balas seseorang bertubuh lebih kecil dari Pluto yang berdiri dihadapannya sekitar 10 meter. Makhluk ini hanya memakai kain penutup tubuh bagian bawahnya dan bertubuh manusia. Hanya kain putih pucat yang terbalut di tubuhnya itu, dan sebuah kalung besar melingkar di lehernya. Hanya ada dia dan Pluto di ruangan itu.


“Ya, aku telah melawan aturan alam semesta, tapi aku malah diberikan sebuah kekuasaan disini,” balas Pluto yang bertubuh tiga kali lebih besar dari pada lawan bicaranya.


“Ini ada hubungannya dengan ibu mu, Rajaku.”


“Mungkin,” Pluto menoleh ke atas dan memandangi langit-langit ruangan yang gelap, “kau pengawal paling setia yang diberikan Yang Kuasa pada ku di dunia bawah ini, Anubis.”


“Saya akan selalu begitu, Rajaku,” balasnya sambil melipat tangan kanannya ke dada dan sedikit membungkuk. Ia bernama Anubis, sang pengawal setia Pluto di dunia bawah dan bertubuh manusia walau kepalanya berbentuk serigala.

__ADS_1


“Aku bahkan masih kaget bagaimana kehidupan dunia bawah ini ternyata seperti ini. Jauh lebih besar dari dunia atas yang mereka sebut Arez itu,” ujar Pluto, “ku kira menemukan ibuku akan lebih mudah.”


“Dunia yang paduka sempat tinggali itu hanya sebagian kecil dari alam semesta, tuanku,” jelas Anubis yang kembali berdiri tegap menghadap Pluto.


“Ya, dunia tempat ku tercipta adalah bagian yang sangat kecil, Anubis!” tambah Pluto, “dan dunia bawah ini hampir setengah dari seluruh alam semesta.”


“Anda dan saya belum tahu akan dunia langit paduka, kita tidak pernah tahu untuk itu.”


“Benar, bisa saja dunia itu lebih luas lagi sehingga dunia bawah ini akan terasa sangat kecil jika dibandingkan lagi. Ya, itulah yang membuatku merasa bahwa kekuatanku tidak ada artinya, bahkan di underworld yang merupakan neraka paling atas, ha..ha..ha..," balas Pluto. Tawanya cukup panjang dan mengerikan hingga terhenti perlahan dan ia menatap kembali Anubis. “Tapi, manusia tetap saja berpikir mereka hebat ya?” tambahnya.


“Saya tidak dapat berpendapat, Rajaku.”


“Berapa banyak orang yang mati dari peperangan itu?”


Pluto tertawa kembali, “hahaha, mungkin lebih baik aku bersama saudara-saudari ku yang bisa melebur saat itu sehingga aku tak harus melihat mimpi buruk ini.”


“Paduka, mohon maaf, ada yang ingin saya tanyakan,” pint Anubis beberapa saat kemudian.


“Silahkan, Anubis!” balas Pluto.

__ADS_1


“Mengenai cincin yang paduka ceritakan itu, apakah mereka bisa menggunakannya?” lanjut Anubis, “saya khawatir akan sangat merusak jika ia memiliki kekuatan yang sama dengan senjata yang lain di dunia itu.”


Pluto kembali tertawa, “hahaha, tenang saja Anubis, mereka akan sangat sulit menemukan cincin solomon itu dan kekuatanya akan sangat kuat sehingga yang menggunakannya akan mati, walau artinya mungkin akan jadi tanda akhir dari dunia itu,” jawab Pluto, “aku yakin kau tidak pernah benar-benar dapat melihat benda itu digunakan.”


“Baik, paduka,” ujar Pluto.


“Ada banyak senjata kuat disana, tapi hanya ada beberapa senjata kuno yang hanya orang tertentu yang dapat menggunakannya. Dan, cincin itu jauh lebih berbeda lagi, Anubis! Ia ada jauh di atas senjata-senjata itu!” jelas Pluto.


“Saya mengerti, Paduka,” jawab Anubis.


“Ya sudah, sekarang beritahu semua penjaga makam ini, kita harus mengurus manusia yang telah datang ke dunia bawah ini. Jumlah 1 juta itu cukup merepotkan, bukan?” ujar Pluto.


“Sama sekali tidak, tuanku,” balas Anubis sembari melipat tangannya seperti tadi, “Belphegor saja bisa mengatasi semuanya sendirian jika anda mau,” tambahnya.


Lagi-lagi Pluto tertawa, “ha..ha..ha..! Tidak, kita lakukan bersama saja karena ini baru pertama kalinya kita kedatangan manusia yang mati karena berperang dengan jumlah yang banyak, bukan?” ujarnya dan kembali tertawa.


 


 

__ADS_1


(bersambung ke chapter 2)


 


__ADS_2