Magic Of Mana Book 1 : Tragedi Pertama

Magic Of Mana Book 1 : Tragedi Pertama
Chapter 1 : Kelahiran Sang Bencana (Part 3)


__ADS_3

Chapter 1


Kelahiran Sang Bencana (Part 3)


 


Scarlet tersenyum. Perlahan gerbang benteng yang kokoh itu turun dan membuka, membuat jembatan besar yang dapat dilewati sekitar 30 kereta kuda sekaligus. Rantai besar di kanan dan kiri gerbang itu perlahan menurunkannya hingga ketika pintu itu rata dengan tanah, kaki-kaki kuda yang ditunggangi Scarlet tepat dapat melangkahinya. Dan ketika ia berhasil melewatinya, gerbang besar tersebut kembali menutup.


 


Scarlet dan bayinya kini berada di balik tembok kokoh tadi, berada di dalam sebuah kota yang sangat indah dan sangat luas. Kota Throttling, kota pada humans yang bersatu. Tak lama, beberapa penjaga dengan baju zirahnya serta bersenjata lengkap mendekatinya dan menyambutnya. Ia dan bayinya segera turun setelah langkah kaki kuda tadi terhenti. Kuda itu tampak sangat letih. Para penjaga membawa Scarlet dan bayinya dengan kereta kuda yang indah menuju istana. Mereka melakukannya tanpa berkata-kata. Kali ini, Scarlet dapat bernafas lebih tenang dan memperhatikan bayinya yang masih tertidur nyenyak.


Sepanjang jalan, Scarlet terus menatap bayinya yang sangat ia sayangi itu. Ia terus menahan air matanya yang hampir habis karena sepanjang malam ini ia terus menangis. Dan akhirnya ia tiba di dalam sebuah istana yang megah, ia baru menoleh melihat keluar kereta. Ia sampai tidak sadar telah melewati gerbang pagar yang menjulang cukup tinggi hingga seekor tupai pun tak akan bisa melompatinya.


Kereta kuda terhenti dan seorang penjaga membukakan pintu untuk Scarlet. Ia pun segera turun dan berjalan masuk ke sebuah pintu kayu besar nan indah yang telah dibuka bersamaan ketika ia turun tadi. Tampak seorang pria berpakaian bangsawan tengah menunggunya di balik pintu itu.


Pria itu adalah seorang raja. Ia bernama Riccard Victor. Ia seorang raja yang gagah, tinggi badannya hampir 2 meter, memiliki rambut, kumis dan janggut panjang berwarna kuning. Matanya coklat terang memancarkan kebijaksanaan. Kulitnya berwarna tan cerah sangat terlihat dari lengannya dan wajahnya yang tidak tertutup pakaiannya. Terdapat bekas luka tersayat pada pelipis kanannya, bukti bahwa ia adalah seorang ksatria yang berani.


“Akhirnya kau tiba, Scarlet,” sambut Raja Victor dan segera ia mencoba melihat bayi yang digendong oleh Scarlet. “Ia sangat cantik. Seorang perempuan, kan?”


“Terima kasih atas segalanya, Victor! Kau sahabat terbaikku. A..aku..” balas Scarlet yang tidak dapat lagi membendung tangisnya.

__ADS_1


“Sudah, ini sudah takdir, Scarlet. Sekarang kau aman disini, setidaknya untuk sementara,” ujar Victor. “Ayo, Ratu Stephanie sudah ada di dalam, kita bicarakan di dalam saja, ” ajaknya menunjuk ke dalama ruang tamu kerajaan. Mereka segera kesana.


Begitu mereka memasuki ruangan, para penjaga dan pengawal pergi dan menutup pintunya. Tiba-tiba muncul seorang wanita yang sangat cantik dari pintu sisi seberang. Ia berkulit tan tapi lebih cerah daripada Raja Victor. Rambutnya hitam panjang sepinggang dan sangat bergelombang. Matanya coklat terang. Sangat anggun. Ia adalah istri sang raja, Ratu Stephanie.


“Selamat datang kembali, Scarlet,” sambut Ratu Stephanie.


“Terima kasih sahabatku, Yang Mulia Ratu Stephanie,” balas Scarlet.


“Duduklah, kau pasti sangat lelah,” ujar sang ratu. “Pelayanku sudah menyiapkan minuman. Teh hangat akan mengembalikan staminamu”.


“Terima kasih, Yang Mulia,” balas Scarlet dan mengikuti permintaan sang Ratu.


“Awalnya sulit. Seminggu terakhir ini mereka terus mengawasiku, jika aku tidak meminta kepercayaan pada Kepala Suku Yasmine, mungkin aku tidak bisa melahirkan di gubuk itu," jelas Scarlet, “mungkin beberapa saat lagi, mereka akan datang menjemputku dan mungkin aku akan dibunuh dalam perjalanan. Tapi aku siap untuk itu."


“Kau berencana untuk tetap pergi, Scarlet?” tanya Raja Victor.


“Bagaimana jika kau tetap disini? Kau akan aman, Scarlet!” ujar Ratu Stephanie, “ku kira kau akan tinggal disini?”. Tangannya saling berkelut tampak ia sangat cemas dengan kondisi sahabatnya itu. Cincin perak dengan batu berlian berwarna kuning cerah yang melingkar pada jari tengah tangan kanannya bersinar di dalam ruangan yang sedikit gelap itu.


“Tidak jika kita tidak ingin terjadi perselisihan antar negara, Yang Mulia,” jawab Scarlet.


Scarlet dan Zahid sebulan lalu datang ke kota ini untuk bertemu dengan Raja Victor dan istrinya dan menceritakan apa yang tengah terjadi pada mereka. Saat itu, terjadi perdebatan tentang apa yang harus dilakukan karena hal ini sangat menyangkut kedua belah pihak, yakni pihak kaum quartz dan Kerajaan Bumi. Tapi, Scarlet merencanakan sesuatu agar apa yang menjadi tujuan mereka ke pada sahabat mereka itu tetap terlaksana tanpa harus merusak hubungan tatanan antar negara.

__ADS_1


“Tidak apa-apa, Yang Mulia Ratu,” jawab Scarlet, “baik, saya atas nama pribadi dan atas nama suami saya, Zahid Salim, dan sebagai sahabat lama pada pribadi Yang Mulia Raja Victor dan Yang Mulia Ratu Stephanie. Dan atas kejayaan Kerajaan Bumi Throttling. Kami yang harus menjadi korban dari kemurnian yang dianut kaum kami…,” Scarlet menitikkan air mata lagi, “ka..kami memohon untuk..untuk..”


Scarlet tertahan sejenak. Raja Victor dan Ratu Stephanie tampak menahan kesedihan mereka. Mereka sangat iba atas kejadian yang terjadi. Tapi, mereka harus mengedepankan urusan khalayak luas dari pada kepentingan pribadi mereka.


“Kami memohon untuk menjaga dan membesarkan anak kami yang terusir ini,” lanjut Scarlet, “ini mungkin adalah permintaan maaf ku yang terakhir kali sebagai sahabat lama anda sekalian. Semua yang terjadi sudah menjadi takdir dan yang akan paling menderita adalah bayi tak berdosa ini. Saya harapkan Yang Mulia bersedia mengasuhnya.” Scarlet menangis sejadi-jadinya.


“Sejak kita bertemu sebelum ini, kami sudah menerimanya, Scarlet. Dia akan menjadi anakmu, selalu menjadi anakmu dan kami akan mengasuhnya seperti anak kandung kami sendiri,” jawab Ratu Stephanie, “kalian sudah seperti saudara bagi kami. Ikatan kita bahkan melebihi ikatan orang tua kami yang sudah meninggalkan kami sejak masih sangat kecil karena perang. Kalian jauh lebih banyak menolong kami, jadi biar kami menjaganya dan membesarkannya. Kami bersumpah dengan nyawa kami sebagai keluarga, bukan hanya sebagai sahabatmu.”


Mendengar ini, Scarlet sangat terkejut, “Yang Mulia sebagai seorang Ratu berani bersumpah?” ujarnya dalam hati.


“Dia akan menjadi seseorang yang akan mengubah dunia, Scarlet!” kemungkinan dialah yang akan mewarisi tahta kerajaan ini," tambah Ratu Stephanie, “kami tidak akan pernah punya keturunan langsung, dan mungkin ini juga takdir para dewa.”


Scarlet seperti tersembuhkan dengan sihir yang bukan dari dunia itu. Mendadak ia menjadi sangat tersanjung dan bahagia. Ia sangat lega. Kemudian, keheningan muncul beberapa saat sebelum ia kembali berkata, “te..terima kasih, Yang Mulia.”


“Beri dia nama, Scarlet!” perintah Raja Victor.


“Bayi ini bernama…” jawab Scarlet tenang dan menarik nafas pendek, “Shumi Mediane”, dan bayi itu pun terbangun dari tidurnya.


 


(bersambung ke chapter berikutnya)

__ADS_1


__ADS_2