
...Chapter 4 (Part 4)...
...Berita Lama...
Upacara pemakaman Ratu Stephanie berakhir pada siang harinya. Raja menjamu para petinggi yang telah datang sebelum mereka akan kembali ke provinsinya masing-masing malam ini. Shumi lebih memilih berdiam diri di kamarnya dan terus mengenang kenangan dengan Ibunya. Ia memang sudah tidak dapat mengeluarkan air mata lagi, tapi membuat hatinya kembali seperti sedia kala masih sulit.
Ia berandai-andai ramuannya bisa ia buat lebih cepat, kemungkinan Ibunya bisa ia selamatkan. Atau jika saja ia punya kemampuan menyembuhkan, mungkin ia juga bisa menyelamatkan Ibunya. Ia terus berandai-andai, hingga akhirnya hari mulai kembali gelap walau ia tahu bahwa jam masih menunjukkan pukul empat sore.
Dug Dug..!
Suara pintu kamar diketuk.
“Iya?” jawab Shumi sebelum orang yang mengetuk pintu kamarnya itu memanggilnya.
“Yang Mulia Raja memanggil anda, Tuan Putri,” sahut seorang wanita di balik pintu. Shumi mengenal suaranya itu.
“Baik, Shukoi!” balas Shumi, “aku akan keluar, sebentar!” Shumi kemudian bangkit dari duduknya di meja bacanya dan berjalan menuju pintu kamarnya.
Shumi membuka pintu itu. Tampak Shukoi yang matanya sedikit bengkak berdiri dan kemudian menunduk memberi hormat. “Kau pasti mengenang bagaimana Ibuku menyelamatkanmu dulu ya?” tanya Shumi.
“Iya, Nona,” jawabnya, “bagaimana saya bisa lupa jasa-jasa Yang Mulia Ratu yang menyelamatkan saya dan keluarga saya dari para Elf itu?” Shukoi masih menundukkan kepalanya, “dan saya belum bisa membalaskan jasanya itu, Nona.”
“Kau adalah salah satu kebanggaan Ibuku, Shukoi," puji Shumi. “Ayo, temani aku ke aula, para adipati pasti akan pulang kembali,” pintanya.
“Baik, Nona,” jawab Shukoi.
Mereka berdua berjalan menuju aula utama kerajaan.
“Bagaimana kondisi Ayah?” tanya Shumi.
“Yang Mulia sepertinya masih sangat berduka, Nona,” jawab Shukoi, “beliau tampak mabuk berat, saya tidak pernah melihat Yang Mulia minum sebanyak malam ini.”
Setibanya di sana, mereka melihat para Adipati duduk di hadapan meja kayu panjang yang sangat megah. Di ujung meja itu, Raja Victor duduk sembari meneguk segelas anggur. Ia memang tampak berantakan dan mabuk. Di sebelah kanan Sang Raja, duduk panglima besar Arthur.
“Shumi, Anakku!” sapa Sang Raja. “Silahkan duduk!” pintanya menunjuk ke arah bangku di sampingnya yang kosong.
Shumi hanya mengangguk dan berjalan menuju bangku itu. Shukoi mengikutinya. Mereka melewati celah antara para adipati dan penjaganya masing-masing yang berdiri di belakangnya. Kemudian, Shumi duduk dan Shukoi berdiri persis seperti para penjaga adipati yang lain di belakangnya.
“Terima kasih, Ayah,” puji Shumi. Ia melihat semua adipati memandangnya.
__ADS_1
“Tuan Putri semakin dewasa dan cantik, Yang Mulia!” ujar Kylen sembari tersenyum.
Shumi melihatnya sepintas, kemudian memalingkan wajahnya. Ia terlihat sedikit jijik.
“Kau membuat Tuan Putri takut, adipati mesum,” balas Xhavier sembari sedikit tertawa dan diikuti beberapa adipati.
“Ha..ha..ha..” tawa Raja Victor, “kau selalu begitu, Kylen! Sepertinya gadis cantik di Provinsi Timur itu sudah membuatmu bosan, ya?” Semua adipati tertawa, termasuk Kylen sendiri.
“Maafkan saya, Tuan Putri!” ujar Kylen sedikit menundukkan kepalanya. “Saya hanya ingin anda tidak bersedih lagi!” tambahnya.
“Tak Apa, Tuan Adipati,” balas Shumi. Ia masih merasa canggung karena sangat jarang bertemu dengan para petinggi kerajaan seperti ini. Tapi, ia ingin memulainya. Ia kembali teringat janjinya pada mendiang Ibunya untuk menjadi pemimpin yang cakap suatu saat nanti.
“Anakku, kenapa kamu seharian ini masih mengurung diri di kamar?” tanya Raja Victor. “Apa kau tidak kasihan pada Ibumu? Ia akan bersedih jika kamu terus menerus seperti itu," lanjutnya.
“Ti..tidak Ayah,” jawab Shumi, “aku hanya ingin menenangkan diri saja. Aku juga mengingat janjiku pada Ibu di malam sebelum Ibu meninggal dan aku masih ragu apakah aku bisa menjadi seperti yang diinginkan Ibu.”
Perlahan semua terdiam dan menatap Shumi seakan ada sesuatu yang membuat mereka semua terkejut. Shumi balas memandang semua adipati satu per satu.
“Anda..An..da pasti bisa, Tu..tuan Putri!” jawab Phicato tiba-tiba dengan suara agak lirih dan membuat semua adipati dan Shumi melirik ke arahnya. Ia tampak salah tingkah.
“Janji apa yang kamu berikan pada Ibumu, nak?” tanya Raja Victor.
Shumi menoleh ke arah ayahnya. “Aku berjanji akan menjadi pemimpin yang cakap untuk kerajaan ini, Ayah," jawabnya, “seperti seorang wanita yang ibu ceritakan malam itu. Wanita yang ingin menciptakan kedamaian di seluruh Arez ini!” Shumi mulai mengenang masa-masa itu kembali.
“Hah?” Shumi terkejut, “apa benar begitu Ayah? Shumi ini terlalu introvert ya? Shumi baru mendengar cerita itu dari Ibu kemarin lho?” Ia menjadi agak salah tingkah. Ia merasa hanya segelintir orang yang tahu cerita itu.
“Tentu saja, Tuan Putri,” tiba-tiba Charlie memotong, “itu cerita yang sangat membanggakan! Kita semua harus memiliki mimpi yang sama seperti wanita itu!” Semua adipati perlahan mulai mengiyakan dan mulai tertawa kecil.
“Ya, Ia adalah wanita yang tangguh,” sambung Franz tersenyum.
“Tentu saja, Tuan Putri bisa menjadi pemimpin yang cakap kelak," ujar Charlie lagi. “Kami sebagai orang-orang kepercayaan kerajaan, akan selalu menyokong Anda, jadi tidak perlu khawatir,” tambahnya.
“Bagaimana jika Tuan Putri pergi mengunjungi provinsi kami? Akan kami perlihatkan Kota Baland yang sangat indah,” ujar Fanish. Semua adipati mengangguk tanda setuju.
“Atau ke provinsi kami, atau kemana saja yang Tuan Putri mau?” sambut Xhavier. “Sudah datang waktu anda untuk mengetahui kondisi kerajaan secara lebih luas, bukan?” lanjutnya sembari menoleh kepada Raja Victor.
“Ya, saya dan kami rasa itu adalah ide yang bagus Yang Mulia,” sahut Frans dan diikuti persetujuan dari adipati yang lain.
“Dengan penjagaan yang ketat pastinya,” tambah Arthur, “aku bersedia mengawal Tuan Putri." Sekali lagi para adipati menyetujuinya.
__ADS_1
“Asalkan jangan ke rumah kau, Phicato!” ujar Robberty dan para adipati yang lain tertawa, kecuali Pasilic. Phicato juga terlihat sedikit tersenyum terpaksa. “Ada apa denganmu, Pasilic?” tanya Robberty kemudian.
“Mungkin juga akan lebih baik jika tidak ke provinsiku,” jawab Pasilic dan terdiam sebentar. “Atau lebih tepatnya lain kali saja setelah pergi ke tempat yang lain lebih dulu,” tambahnya. Kali ini semua orang yang duduk disana tertawa, kecuali Shumi yang hanya tersenyum manis.
“Semua tergantung Ayah,” ujar Shumi, “saya ingin melakukan itu, jika diizinkan.”
Perlahan suara canda tawa di ruangan itu berhenti. Semua menunggu jawaban dari Sang Raja.
“Setelah aku dapat kabar baik dari putranya Arthur, masukan ini akan aku pertimbangkan,” jawab Sang Raja. Sontak, semua adipati tampak senang.
“Mari bersulang!” ajak Kylen dan disambut oleh semua adipati disana.
“Sebentar!”, potong Raja Victor, “aku memanggil anakku kemari karena ada sesuatu yang harus kalian saksikan!” Semua terdiam dan perlahan meletakkan kembali cawan mereka.
“Ada apa, Ayah?” tanya Shumi.
Raja Victor mengeluarkan sebuah cincin perak dari dalam sakunya dan berdiri, kemudian memamerkannya pada semua orang disana. Cintin itu tidak asing lagi bagi para adipati, terlebih bagi Shumi. “Cincin ini adalah perlambang kekuasaan dan kearifan Sang Ratu yang telah meninggalkan kita semua. Dan sebagai penerus tahta kerajaan dan ketentraman kerajaan ini, di hadapan kalian semua, akan aku serahkan kepada anakku, Shumi Mediane," ujarnya.
Serentak semua adipati dan Arthur bangkit dari duduknya, kemudian mereka meletakkan tangan kanan mereka pada dada kiri mereka, diikuti oleh semua penjaga yang ada di sana. Raja Victor memberikan isyarat pada anaknya yang sedikit bingung.
“Silahkan, nak!” ujar Raja Victor.
Shumi bangkit dari duduknya dan berhadapan langsung dengan Ayahnya. “Apakah Shumi sudah pantas menggunakannya, Ayah?” tanya Shumi.
“Sudah sangat pantas!” jawab Sang Raja. Ia kemudian mengambil tangan kanan Shumi dan memasangkan cincin itu. “Berjayalah, Putri Shumi!” ujarnya lagi.
“Demi Tuan Putri Shumi dan Yang Mulia Raja Victor! Berjayalah Kerajaan Bumi!” ujar Charlie lantang dan mengambil kembali cawan anggurnya. Raja Victor, semua adipati dan Arthur juga mengambil cawan mereka.
“Berjayalah Kerajaan Bumi!” teriak Raja Victor dan disahuti dengan perkataan yang sama oleh semua orang disana, kemudian meminum anggur di cawannya masing-masing, kecuali Shumi dan para penjaga yang berdiri di belakang mereka.
Tiba-tiba Shumi teringat perkamen yang diberikan Ibunya. Tanpa berpikir lagi, ia langsung bicara pada Ayahnya dengan suara lirih. “Ayah, Shumi diberikan sebuah perkamen tua oleh Ibu saat malam itu dan Ibu bilang aku baru boleh membukanya setelah ibu atau ayah ada yang sudah meninggal," ujarnya.
Raja Victor terkejut hingga sedikit tersedak. Para adipati tiba-tiba menatapnya. Semua terdiam.
“Tidak apa, aku hanya terlalu banyak minum. Lanjutkan minum-minumnya!” ujar Raja Victor sembari duduk, kemudian semuanya juga kembali duduk dan berbincang satu sama lain. “Perkamen apa? Kau sudah membukanya?" ujar Raja Victor lirih kepada Shumi.
“Belum, aku ingin membukanya bersama Ayah,” jawab Shumi.
Raja Victor terdiam sebentar. Ia tampak berfikir keras, kemudian kembali menuangkan anggurnya dan meminumnya. “Aku mulai paham apa yang dibicarakan Ibumu malam itu. Ku kira soal dirinya, ternyata bukan,” ujarnya kemudian terhenti sejenak menenggak minuman di hadapannya. “Baiklah, malam nanti kita bicarakan, Itu mungkin adalah perkamen berisikan berita lama, Shumi. Ayah tidak tahu akan seperti apa kondisi kita setelah kamu membaca isinya, tapi mungkin memang saat ini adalah saat yang tepat,” tambahnya.
__ADS_1
Jamuan makan malam itu bergulir hingga waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Semua adipati memohon pamit dan pergi ke kotanya masing-masing. Setelah itu, Shumi pergi lebih dulu ke kamarnya, dan Raja Victor berjanji akan segera menyusulnya. Malam itu akan menjadi malam yang sangat panjang dan penentu perjalanan selanjutnya. Perjalanan sang takdir masa depan.
...-Chapter 4 : Berita Lama - End -...