Magic Of Mana Book 1 : Tragedi Pertama

Magic Of Mana Book 1 : Tragedi Pertama
Chapter 3 : Mimpi (Part 1)


__ADS_3

Chapter 3 (Part 1)


Mimpi


Raja Victor dan Ratu Stephanie terkejut ketika Shumi menceritakan mimpi buruknya semalam. Mereka tidak dapat berkata apapun dan membuat Shumi semakin khawatir. Raut wajah sang Ratu pun tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya walau wajahnya pucat karena kondisinya saat ini dan masih terbaring tidak berdaya di tempat tidurnya.


“Kau yakin orang yang bernama Zahid itu telah tewas?” tanya Raja Victor terlihat terpukul. Ia menggenggam erat tiang kasur tempat istrinya terbaring dengan cukup kencang. Tapi Shumi tahu bahwa ia sedang menahan amarah dan menahan kekuatannya agar tiang itu tidak bengkok.


Belum sempat Shumi menjawab, Ratu Stephanie ikut bertanya, “apa Scarlet, ehm, wanita yang melahirkan itu mengenakan jubah merah bata? Ia bertudung coklat tua?”


Pertanyaan ini membuat Shumi semakin terkejut dan bingung. Mengapa Ratu tahu detail itu, padahal ia tidak menceritakannya. “Bagaimana Ibu tahu? Aku belum menceritakan soal pakaian mereka, kan?” tanya Shumi.


Sejenak keheningan membuat kamar sang raja dan ratu itu seakan tidak berpenghuni. Raja Victor pun menolehkan wajahnya perlahan dan memandang wajah istrinya tanpa suara sedikitpun. Hanya kicauan-kicauan burung dari kejauhan yang terdengar di telinga Shumi.


“Shumi,” panggil Raja Victor yang akhirnya memecahkan keheningan di antara mereka.


“Ya, ayah?” jawab Shumi, “aku bingung dan..dan takut Ayah, ada apa dengan mimpi ku ini? Mengapa Ayah dan Ibu berekspresi sangat terkejut seperti itu?” Shumi balik bertanya.


“Yang kamu liat dalam mimpi itu..," jawab Raja Victor kini menatap kembali ke Shumi dengan tatapan setengah kosong, “yang kamu lihat dalam mimpimu itu adalah sahabat lama Ayah dan Ibu, mereka adalah sahabat yang sangat dekat seperti kamu dengan Zain.”


Shumi bergeming dan menutup mulutnya. Apa yang sempat terfikir dibenaknya selama ini ternyata benar, bahwa apa yang ia lihat di mimpinya adalah suatu kenyataan. “Apa artinya orang itu sedang dalam masalah, Ayah?” tanya Shumi, “apakah itu adalah berita bahwa sedang ada kejadian itu malam tadi di suatu tempat itu?” Tata bahasanya cukup kacau seperti pikirannya saat ini.

__ADS_1


Raja Victor masih dalam tatapan kosongnya. “Sepertinya memang benar, Shumi, itu sebuah kenyataan, tapi kita tidak dapat berbuat apa-apa lagi sekarang,” jawabnya.


“Berarti mimpiku tentang cincin Sang Eidolon Pluto dan kejadian dimana para Eidolon itu memutuskan untuk membaur dengan alam adalah kejadian nyata yang sama?” tanya Shumi dan menyimpan berbagai pertanyaan lain yang ia sendiri ragu untuk melontarkannya.


“Sepertinya begitu, anakku,” jawab Ratu Stephanie, “tapi, kamu tidak perlu cemas, itu sepertinya hadiah dewa untukmu,” lanjutnya.


“Tapi, ini sesuatu yang mengerikan, Bu!” ujar Shumi dan badannya mulai lemas. Ia berfikir ini bukan hadiah tapi justru kutukan untuknya.


“Ini adalah kekuatan, Shumi,” tambah Raja Victor. Ia tampak sudah mulai terlihat tenang seperti biasa secara perlahan "aku tahu bahwa aku tidak bisa menolong sahabat kami itu, tapi itu sudah menjadi takdirnya sebagai ksatria.”


“Lalu bagaimana dengan wanita yang bernama Scarlet dan bayinya itu? Bukankah mereka pasti butuh bantuan?” potong Shumi “kita harus menolongnya, Ayah!”


Shumi terdiam sejenak. Ia tidak bisa melupakan kengerian mimpinya. Ia khawatir semua mimpinya berhubungan dan menandakan adanya bencana saat ini yang ia bahkan sang Raja tidak mengetahuinya di belahan dunia yang lain. Apakah orang-orang itu mengicar sesuatu dan bayi yang tidak tertandai itu adalah kuncinya? Kepala Shumi dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya seperti ingin muntah.


“Kau terlihat kurang baik, Nak!” ujar Raja Victor. “Lebih baik kamu istirahat dulu, kita lanjutkan perbincangan nanti malam ya! Ini bukan hal yang perlu kau khawatirkan, Shumi.”


Shumi terdiam. Memang ia merasa sangat pusing saat ini. “Baik Ayah,” balasnya pasrah.


“Biar Shukoi menemanimu,” ujar Raja Victor sembari berdiri dan berjalan ke arah pintu kamar. Ia membuka pintu dan memanggil Shukoi yang tadi ditinggalkan oleh Shumi saat ia masuk ke kamar sang raja sebelum menceritakan mimpinya itu. Tak lama Sang Raja masuk kembali bersama Shukoi di belakangnya.


Shukoi adalah seorang wanita berumur 27 tahun dan ditugaskan sebagai asisten pribadi Shumi. Ia berambut coklat muda yang cukup panjang, namun ia selalu menyanggul rambutnya itu. Bola matanya yang coklat, kulitnya yang putih bersih dan tinggi yang sama dengan Shumi, menyebabkan ia menjadi salah satu pelayan kerajaan yang paling cantik. Ia seperti kakak bagi Shumi.

__ADS_1


“Kamu lebih baik istirahat dulu hari ini, anakku,” perintah Raja Victor seraya menggenggam kedua bahu Shumi yang masih terduduk lemas. “Jangan terlalu mengkhawatirkan mimpimu itu, semua akan baik-baik saja, Ayah akan mencari tahu segalanya,” ujar Sang Raja menenangkan hati Shumi.


“Baik, Ayah!” jawab Shumi dan berdiri perlahan dibantu Ayahnya.


“Biar Tuan Putri bersama saya, Paduka Raja,” ujar Shukoi langsung ikut membantu menopang tubuh Shumi yang lemas.


“Terima kasih banyak, Shukoi," balas sang Raja.


“Sudah tugas saya, Yang Mulia!” jawab Shukoi yang kini membantu menopang tubuh Shumi sendirian yang mulai melangkahkan kakinya perlahan.


“Shumi pamit, Ayah, Ibu,” ujar Shumi sembari membungkukkan kepalanya sedikit dan melihat Ayah dan Ibunya. Raja Victor mengangguk, sedangkan sang Ratu masih terpaku menatap Shumi dengan wajah menahan kekhawatiran. Shumi kemudian berjalan perlahan keluar.


Sesampainya di kamarnya, Shumi segera meminum teh hangat di meja kecil dekat meja riasnya, kemudian berjalan perlahan untuk duduk bersandar di kasurnya. Shukoi membuka jendela dan gorden kamar Shumi dan di luar masih tampak gelap, “Padahal sudah jam 7 pagi, ya?” ujar Shukoi menatap langit luar beberapa saat.


“Terima kasih banyak, Shukoi,” puji Shumi sambil memperhatikan Shukoi berjalan ke arahnya. “Duduklah!” pinta Shumi. Shukoi pun menggikuti perintahnya.


“Anda terlihat membaik, Nona,” ujar Shukoi. Ia memang diminta memanggil Shumi dengan sebutan itu agar lebih akrab, walau ia tetap memohon untuk memanggil Shumi dengan sebutan tuan putri jika ada Raja dan Ratu. Ia sudah menjadi asisten pribadi Shumi sejak Shumi berumur 10 tahun. Ia sangat dekat dengan Shumi bahkan selama 6 tahun, kemanapun majikannya pergi, ia selalu ada. Sejak Shumi berumur 16 tahun, barulah ia hanya menemani majikannya jika diminta saja, sehingga wajar saja jika setiap pertemuan Shumi dengan Zain, ia sangat jarang ikut serta.


“Shukoi, apa arti kekuatan bagimu?” tanya Shumi tiba-tiba dengan wajah yang masih sedikit pucat dan sedikit kontradiksi dengan penyataan Shukoi tadi.


(Bersambung…)

__ADS_1


__ADS_2