
Chapter 1
Kelahiran Sang Bencana (Part 2)
Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari luar rumah tapi terdengar agak jauh. “Zahid, serahkan bayimu!” ujar suara laki-laki sedikit membentak.
“Mereka disini!” ujar Scarlet seraya bergegas pergi menuju pintu samping. Suaminya mengikutnya, “aku akan sangat merindukanmu.”
“Sampaikan maafku pada anak kita! Kienka akan aman, aku jamin,” ujar Zahid merujuk pada bayi pertamanya.
“Jangan mati!” balas Scarlet. Ia dan Zahid sampai pada kuda yang telah disiapkan. Warnamnya hitam pekat. “Self Instinct! Invisible Blanket! Silent Steps! Aura Zero!” Bertubi-tubi sihir pendukung dikeluarkan agar dirinya, bayinya dan kudanya dapat pergi tanpa ketahuan dan si kuda dapat bergerak sesuai perintahnya.
“Sebagai mantan komandan divisi, kau masih sangat handal,” puji Zahid kagum pada istrinya.
__ADS_1
“Aku juga tidak mau reputasinya sebagai mantan wakil kepala pasukan pengawas kota, hancur hanya karena penyerangan yang akan kau hadapi,” balas Scarlet yang tersenyum. Zahid juga membalas senyumnya itu. Di tengah hujan deras, kegundahan dan ketakutan, mereka mengekspresikannya dengan ciuman terakhir mereka, “aku sangat mencintaimu, Zahid,” ujar Scarlet pelan diujung ciumannya.
“Bergegaslah!” perintah Zahid pelan dan memberikan sihir perlindungan fisik pada Scarlet, “Protect!”
Scarlet hanya mengangguk dan pergi bersama dengan bayinya yang hendak ia selamatkan. Ia memacu kudanya yang berlari sendiri dengan secepat-cepatnya. Air hujan tampak tak dapat menembus pembatas sihir protect dari Zahid. Hanya deras air mata yang keluar dengan sendirinya yang mengalir deras membasahi wajahnya.
Mereka terus berpacu meninggalkan sebuah gubuk sederhana yang berada di luar Kota Topaz, kota yang suci bagi kaum Quartz. Semua yang tinggal disana adalah para penyihir tanpa terkecuali dan memiliki darah yang murni dari kaumnya. Mereka tidak menerima pendatang dan tidak ada seorangpun yang lahir disana boleh menetap secara permanen di luar kota itu. Kemurnian adalah sesuatu yang sangat mereka junjung tinggi dan dianggap sebagai penjaga kesucian. Para penduduk kota itu adalah keturunan langsung dari salah satu magicians pertama sejak mereka tercipta. Untuk menjaga kesucian kota itu, manusia biasa, yang bisa disebut humans, tidak diperkenankan untuk tinggal atau bahkan hidup disana. Terlebih lagi sejak tragedi berdarah yang pernah terjadi di masa lalu, Kota Suci Topaz menjadi pusat kesucian di dunia para magicians.
Akan tetapi, berbeda masalahnya jika sang ibu memiliki dua atau lebih bayi dalam perutnya. Jika ada yang terdeteksi sebagai penyihir sedangkan bayi yang lain adalah humans, maka mereka tidak dapat membunuhnya hingga bayi itu benar-benar lahir karena bisa membunuh kedua bayi itu. Hal ini lah yang terjadi pada bayi-bayi Scarlet. Saat ini, ia, suaminya dan sahabatnya , Charlote, sudah meneguhkan diri dan siap mati melawan aturan kota itu untuk menyelamatkan bayi yang akan dibunuh oleh 'kemurnian' itu.
Mereka sudah merencanakan hal itu satu bulan yang lalu. Mereka adalah mantan orang-orang kepercayaan di Kota Topaz yang memiliki keahlian yang di atas rata-rata penduduk kota biasa. Karena itulah mereka dapat melancarkan rencana itu dengan sangat baik tanpa ketahuan oleh pasukan pengaman kota, bahkan sang kepala sukunya.
Scarlet sedikit menoleh ke rumah yang ia tinggalkan tadi. Ia melihat suaminya bersama sahabatnya mencoba menghadang pasukan yang hendak mengejarnya. Ia terus mencoba menyaksikannya hingga ia masuk ke dalam hutan yang sangat lebat dan gelap. Barulah ia menghadap kembali ke depan dan melihat jikalau ada sesuatu yang akan menghadang perjalanan mereka.
__ADS_1
“Hutan ini termasuk yang berbahaya, apalagi di malam seperti ini, tapi jika aku menggunakan sihir ini, mereka tidak akan bisa mendeteksiku walau akan membuat aura zero berhenti berfungsi. Ini akan membuat para pasukan akan merasakan kemana arahku berlari,” ujar Scarlet dalam hati. “Hidden Physic!” ujarnya lantang.
Sihir yang ia layangkan pada dirinya menyebabkan semua sifat fisiknya tidak terdeteksi. Banyak makhluk di hutan itu yang dapat menemukannya dengan mendeteksi aliran darah, bau badan, dan hal-hal lainnya yang berkenaan dengan fisik. Akan tetapi, dengan sihir ini, efek sihir zero aura yang membuat selimut untuk kekuatan mana yang ia miliki menjadi dapat kembali terdeteksi jika ada seorang penyihir yang melakukan deteksi mana. Tapi, Scarlet merasa jaraknya cukup jauh untuk memberi rasa aman walau dia akan dikejar.
Butuh waktu sekitar tiga jam hingga ia berhasil keluar dari hutan itu dan berkuda di hamparan savanna yang hijau. Terlihat dari kejauhan menara dari sebuah benteng yang ia tuju. “Ini sudah melewati daerah yang anti sihir, akan ku berikan beberapa sihir agar mereka tidak langsung dapat mengejarku.” ujarnya.
“Invisible wall! ” serunya dan muncullah sebuah tembok tak terlihat membentang sepanjang 100 meter ke kanan dan ke kiri dari jejak kudanya di belakang. “Sedikit lagi,” tambahnya.
Scarlet terus berkuda hampir setengah jam hingga ia akhirnya melihat gerbang istana yang dikelilingi parit besar. Pintunya tertutup rapat. Ia tahu bahwa akan ada penjaga disana yang melihatnya dan akan menyerangnya jika ia mendekat. Ia kemudian mengeluarkan sihir dan menciptakan sinar biru yang ia maksudkan sebagai tanda. Ia nyalakan, beberapa saat kemudian ia matikan, kemudian dinyalakan kembali. “Flame torch!” ujarnya.
Semakin dekat ia melihat istana yang tadinya jauh kini terlihat sangat megah. Tembok bentengnya terlihat sangat kuat dan kokoh bahkan ketingggiannya menyebabkan apapun yang ada di baliknya tidak terlihat sama sekali. Ia melihat beberapa penjaga di bagian atasnya yang terus memperhatikannya. Ada juga yang bersiap dengan panahnya walau mereka belum menarik busurnya. Hingga akhirnya Scarlet melihat sinyal balasan dari penjaga yang mengeluarkan obor merah biasa yang dilambaikan padanya.
Scarlet tersenyum. Perlahan gerbang benteng yang kokoh itu turun dan membuka. Gerbang itu menjadi sebuah jembatan besar yang dapat dilewati sekitar 30 kereta kuda sekaligus. Rantai besar di kanan dan kiri gerbang itu perlahan menurunkannya hingga ketika pintu itu rata dengan tanah, kaki-kaki kuda yang ditunggangi Scarlet tepat dapat melangkahinya. Dan ketika ia berhasil melewatinya, gerbang besar tersebut kembali menutup.
(bersambung ke chapter 1 : Kelahiran Sang Bencana (part 3))
__ADS_1