
Chapter 3 (Part 2)
Mimpi
“Shukoi, apa arti kekuatan bagimu?” tanya Shumi tiba-tiba dengan wajah yang masih sedikit pucat dan sedikit kontradiksi dengan penyataan Shukoi tadi.
Shukoi sedikit terkejut. “Bagi saya, kekuatan adalah energi yang harusnya digunakan untuk melindungi yang perlu dilindungi, Nona,” jawabnya.
Shumi seperti sudah menebak apa jawaban Shukoi. “Jika mimpiku adalah kekuatan, apa artinya aku harus melindungi orang yang membutuhkan ku?” tanya Shumi lagi menatap Shukoi.
“Saya belum tahu, Nona,” jawab Shukoi, “mimpi yang nona dapatkan sudah berlangsung tiga kali semenjak nona genap berumur 17 tahun, ya?”
“Iya, Shukoi,” ujar Shumi, “ayahku bilang ini kekuatan, Ibuku bilang ini adalah hadiah, tapi kenapa mereka terlihat sangat terkejut yang lebih cenderung pada kekhawatiran, bukan kebahagiaan.”
“Menurut saya, Paduka Raja dan Ratu hanya cemas pada anda, Nona,” jelas Shukoi, “dengan adanya kekuatan yang besar, berarti tanggung jawab akan mengikuti, bukan? Sedangkan seperti yang anda rasakan, kekhawatiran Paduka terhadap anda cukup lebih daripada yang anda butuhkan.”
“Ya, ku rasa seperti itu, tapi jika aku hanya berdiam diri saja, artinya aku melepas tanggung jawab itu, bukan?” tanya Shumi, “tapi memang, aku tidak punya kekuatan yang cukup untuk melindungi orang itu walaupun aku tahu ia dimana.”
“Saya tidak mampu menjawabnya, Nona. Jika menilai dari cerita mimpi anda yang anda sampaikan pada saya tadi, sihir-sihir yang orang-orang itu gunakan memang sihir-sihir mematikan dan mungkin saya sendiri tidak mampu mengatasinya jika situasinya sama dengan pria yang terbunuh itu, Nona,” jawab Shukoi.
Beberapa saat kemudian, keheningan mencoba merenggut pembicaraan mereka hingga raut wajah Shumi kini lebih berangsur kembali bersemi. Ia teringat suatu percakapan yang entah bagaimana, membuatnya menjadi lebih baik.
“Shukoi, apa ada orang lain yang memiliki kekuatan sepertiku?” tanya Shumi lagi, kali ini mengerucutkan rasa penasarannya, “kau kan mantan pasukan khusus assassin kerajaan, pengetahuanmu tentang hal-hal seperti ini pasti sangat luas kan?”
__ADS_1
Shukoi tersenyum. “Anda memang luar biasa, Nona!” ujarnya. Shumi terdiam sedikit bingung. “Anda selalu mengarahkan semua kejadian pada hal yang positif,” jelasnya.
“Ya, aku tidak mau terlalu larut dengan ketakutan, Shukoi. Aku tidak bisa berdiam diri saja akan apa yang terjadi padaku, apalagi menyangkut orang lain,” jelas Shumi.
Sembari tetap tersenyum, Shukoi mencoba menjawab pertanyaan Shumi, “saya rasa, anda termasuk para Esper, atau lebih tepatnya para Indigo. Ada beberapa kisah para Esper yang cukup terkenal pada zaman dulu, bahkan saat ini saya rasa ada beberapa tokoh penting dunia yang memiliki kemampuan itu, Nona.”
“Indigo? Esper?” tanya Shumi lagi, “apa bedanya? Tidak pernah dijelaskan di pelajaran keilmuan, ya?”
“Tentu nona, karena hal ini masih belum bisa ditafsirkan secara umum dan ciri-cirinya sulit dipelajari, akan berbeda untuk tiap Esper dan itu termasuk kekuatan rahasia seseorang,” jawab Shukoi, “perbedaannya adalah, indigo itu sesuatu kelebihan yang dimiliki seseorang yang berkaitan dengan alam ini, misalnya seperti anda, bisa mengetahui informasi yang anda seharusnya tidak tahu, tapi ini masih spekulasi saya pribadi, Nona.”
“Yah, aku juga belum mengetahui secara pasti apa arti kekuatan mimpiku ini,” sambung Shumi, “lanjutkan, Shukoi!”
“Baik, Nona,” lanjut Shukoi, “ada juga yang bisa membaca masa depan, mereka kadang disebut sebagai peramal karena tidak ada sihir yang mampu membaca masa depan, dan sebagainya nona. Salah satu indigo terkenal dahulu adalah Mustofa, ramalan terkenalnya adalah tentang terpecahnya kekuasaan dunia menjadi tujuh negara dan itu terbukti saat ini, ketika 500 tahun setelah kematiannya. Ia bahkan sudah menuliskan nama-namanya secara gamblang pada kitabnya.”
“Iya, Nona. Ia seorang pemyihir dari kaum merah, akan tetapi tidak ada sihir yang mampu memanipulasi waktu secara umum seperti itu, Nona,” jawab Shukoi.
“Ya, memang hal-hal magis seperti itu sulit dibedakan, lagi pula kitab tentang ramalan dia banyak yang diselewengkan. Naskah aslinya hingga kini tidak ada yang tahu, bukan?” komentar Shumi lagi. Shukoi hanya membalasnya dengan sebuah anggukan. “Lalu, untuk Esper seperti apa?” tanya Shumi lagi.
“Esper memiliki kemampuan yang bisa ditransformasikan menjadi bentuk fisik atau kenyataan, seperti kekuatan sihir yang diatas normal, kekuatan pikiran yang mampu mengendalikan sesuatu, dan sebagainya. Yang saya tahu, salah satu yang termasuk Esper terkenal adalah Yang Mulia Raja sebelumnya, ia memiliki kemampuan penyembuhan, padahal beliau adalah human biasa yang tidak bisa sihir penyembuhan,” jelas Shukoi dan membuat Shumi mengerutkan dahinya, “tapi, kemampuan ini bukan hal yang diwariskan secara keturunan, selama yang saya pelajari, kekuatan ini adalah hadiah dari Dewa, seperti yang disampaikan Yang Mulia Ratu.”
“Aku baru tahu bahwa Kakek memiliki kemampuan itu, Shukoi,” ujarnya.
“Ya, seperti yang saya bilang, Nona, kemampuan itu tidak akan pernah diinfokan begitu saja karena itu bisa menjadi hal yang membahayakan, terutama pada penyihir-penyihir itu. Ada kepercayaan bahwa kekuatan itu akan selalu tersimpan pada jasat sang pemilik walau ia telah wafat. Orang-orang yang mempercayai hal ini, akan mencoba mengambil kekuatan itu pada orang yang telah mati itu, atau bahkan membunuhnya hanya untuk hal itu. Walaupun semua itu belum tentu benar,” jelas Shukoi, “mungkin Yang Mulia belum menceritakannya saja pada anda, Nona.”
__ADS_1
“Tidak, sepertinya Ayah pernah bercerita dulu, tapi aku mungkin kurang terlalu memperhatikan hal seperti ini. Ayah dulu pernah bilang bahwa kakek memiliki kemampuan luar biasa yang menjadikannya salah seorang ksatria terkuat dan menyatukan seluruh wilayah kerajaan bumi ini dari pemberontakan. Ia berjuluk The Heaven Light, bukan?” ujar Shumi, “tapi, apa mungkin hal ini menurun padaku namun dengan kekuatan yang berbeda?”
“Saya tidak mampu menjawabnya, Nona,” jawab Shukoi, “hal ini bisa menjadi iya, bisa juga tidak.”
“Sepertinya banyak yang harus aku tanyakan pada Ayah nanti malam,” ujar Shumi, “tapi Shukoi, memangnya kekuatan itu bisa diambil begitu saja?”
“Belum ada bukti mengarah bahwa pendapat itu benar, Nona. Hanya saja saat mendiang Raja wafat dulu, banyak sekali penyihir yang menginginkan jasatnya. Oleh karena itu lah, mengapa makam sang Raja diletakkan di dalam istana ini, demi mencegah hal-hal buruk terjadi,” jelas Shukoi lagi, “bahkan ada beberapa pasukan khusus yang menjaga makan itu.”
“Kalau ini adalah kekuatan, berarti seharunya aku bisa memanfaatkannya dan terus mengembangkannya, ya?” ujar Shumi dan perlahan bangun dari duduknya. Shukoi yang melihat itu juga ikut berdiri.
“Tapi sepertinya, hal ini sebaiknya dibicarakan dengan guru spiritual anda, Nona,” saran Shukoi.
“Iya, aku akan menemui Ibu Montana siang ini,” ujar Shumi mulai semangat kembali, “aku tidak bisa hanya diam saja, walau semakin lama mimpi ini semakin mempengaruhi psikologiku, jika aku hanya diam dan malah ketakutan, aku tidak akan pantas menjadi seorang penerus kerajaan ini.”
“Setuju, Nona,” ujar Shukoi sembari membungkuk sedikit dan melipat tangan kanannya ke bahunya.
“Terima kasih, Shukoi. Aku ingin kamu menemaniku terus hari ini, bantu aku mencari informasi sebanyak-banyaknya,” perintah Shumi, “ayah juga tidak bilang aku harus merahasiakan ini kan? Setidaknya Ibu Montana adalah orang kepercayaan kerajaan.”
“Saya akan selalu ada di sisi anda, Nona!” jawab Shukoi.
* * *
(Bersambung ke part berikutnya…)
__ADS_1