
Chapter 2 :
Shumi Mediane (Part 2)
Shumi menjalani harinya seperti biasa. Mimpi buruknya ia pendam selama ia sedang beraktifitas sehingga tiada orang yang mengetahuinya lagi selain Ibunya. Sebagai putri raja, ia sangat dikenal low profile. Dia sangat mudah bersosialisasi dan sangat peduli atas keadaan rakyatnya, baik yang ada di dalam istana maupun yang ada di luar istana.
Ia sangat terkenal, bahkan bisa dibilang ia lebih dekat dengan masyarakat dibandingkan sang raja. Tapi, bukan berarti Raja Victor tidak disukai rakyatnya, sebagai raja ke-9 sejak negara bumi terbentuk, ia adalah raja yang terbijaksana menurut pendapat para rakyatnya karena selama ia menduduki tahta, tidak pernah satu kalipun terjadi pemberontakan dan peperangan. Semua cinta keluarga kerajaan yang hanya tinggal bertiga ini.
Kerajaan bumi merupakan salah satu negara terbesar dari tujuh negara yang ada dan penduduknya adalah para humans yang terlahir tanpa bakat menguasai ilmu sihir. Ibu Kota negara ini adalah Kota Throttling dimana Shumi dan kedua orang tuannya tinggal saat ini. Sistem pemerintahan negara bumi dijalankan dengan membagi 9 wilayah provinsi dan masing-masing wilayah dipimpin oleh seorang adipati yang merupakan bangsawan, kecuali wilayah ibu kota Throttling yang dipimpin langsung oleh Sang Raja. Kekuasaan para adipati itu juga menggunakan sistem keturunan. Akan tetapi, segala hal yang menyangkut kebijakan masyarakat, tetap diatur oleh raja. Termasuk jika sang raja menganggap ada adipati yang tidak dapat bekerja dengan baik, maka ia punya hak untuk menggantinya.
Kerajaan Bumi juga terkenal dan disegani negara lain karena teknologinya yang sangat maju. Karena keterbatasan kemampuan yang dimiliki para humans, mereka mampu membuat alat-alat permesinan yang canggih walau hanya menggunakan kayu. Pertambangan mereka juga cukup baik dan mengekspor senjata-senjata ke negara lain karena kualitas tempanya yang hebat. Mereka juga memiliki senjata yang anti sihir, sehingga para magicians yang menggunakan sihir kekebalan pun bisa terbunuh dengan senjata mereka walau tanpa dilapisi ilmu sihir tertentu.
Selain dari menggunakan kekuatan alam yang dimanfaatkan sebaik mungkin, para human juga menggunakan berbagai macam ramuan untuk dapat menyaingi kekuatan para penyihir, sebagai ganti sihir-sihir pertahanan. Memang, Kerajaan Bumi bukan kerajaan dengan kepandaian membuat ramuan terbaik di dunia itu, tapi perkembangan ramuan cukup pesat disana, bahkan kerajaan bumi memiliki divisi militer khusus pembuat ramuan, dan Shumi merupakan salah satu yang terbaik dari anggota divisi itu.
Shumi, sebagai pewaris tahta kerajaan, sudah sangat dididik sejak kecil. Mulai dari ilmu tata kenegaraan, militer, sejarah, hingga bela diri ia sudah dilatih. Ia sangat berbakat dengan itu dan selalu memberikan hasil yang diinginkan sang Ayah. Ia sangat pandai membuat ramuan dan ia sangat tertarik pada dunia ramuan itu, bahkan ia sudah beberapa kali berhasil menciptakan ramuan dengan khasiat baru dan sangat bermanfaat untuk para prajurit jika terjadi perang.
Namun, walau ia telah memiliki banyak bekal dan bakat sebagai penerus tahta, ia sama sekali belum punya pengalaman secara langsung, bahkan ia belum pernah pergi keluar benteng Ibu Kota Negara Bumi itu.
Raja Victor dan Ratu Stephanie sangat memproteksi anak satu-satunya itu. Mereka khawatir kejadian masa lalu akan membuat putrinya terbunuh. Bahkan, Kota Throttling adalah kota yang sudah tidak menerima penyihir sama sekali walau hanya singgah. Sang raja membuat permukiman khusus di luar benteng kota dekat pintu gerbang selatan, yang dikhususkan untuk para penyihir yang sekedar lewat dan singgah, bahkan jika ada tamu kerajaan lain atau bangsawan dari kalangan penyihir, maka pertemuan akan dilakukan di luar kota.
Kenyataannya yang terjadi pada Shumi memang cukup membosankan, tapi ia tetap menjalankan keinginan ayahnya. Ia hanya mengetahui bahwa banyak musuh dari kalangan penyihir yang menginginkan nyawanya dan bisa menjadi masalah besar bagi negara jika mereka tidak memiliki pewaris tahta lagi. Akan tetapi, pengetahuan yang ia miliki tentang dunia luar sangat tinggi walau secara fisik ia hanya dapat mengamati keadaan sekeliling kota dari menara penjaga di pintu gerbang. Ia rutin melakukan hal itu seminggu sekali, termasuk hari ini.
Shumi sedang memerhatikan permandangan di menara pengawas gerbang utara dengan teropong yang dipasangkan permanen disana, teropong pengawas. Hamparan padang rumput yang luas, menyatu dengan hutan rimba, kemudian terlihat bukit yang tampak kecil karena jarak yang cukup jauh. Ia mengetahui, di balik bukit itu, ada sebuah kota kecil yang dianggap suci oleh semua penduduk dunia. Kota yang merupakan pusat dunia, tempat dimana semua jarum kompas akan selalu mengarah kepadanya, tempat yang diyakini sebagai titik awal dunia diciptakan, tempat yang dijadikan sumbu rotasi oleh matahari dan bulan kala berputar setiap saat, kota yang terkadang selalu siang dan selalu malam selama seminggu. Shumi sangat ingin mengunjunginya.
“Maaf aku terlambat, Tuan Putri!” tiba-tiba terdengar suara langkah kaki sepatu besi berlarian menyusuri anak tangga. Shumi berhenti menggunakan teropongnya dan membalikkan badannya ke arah suara. Ia memberikan isyarat agar dua orang penjaga yang berada sekitar lima meter darinya untuk pergi dan mereka segera melaksakan perintahnya. Mereka segera menuruni tangga ketika seseorang pria yang bicara tadi sampai di tempat itu.
“Maafkan saya, Tuan Putri Shumi!” ujarnya lagi tampak masih mencoba mengatur nafasnya yang sidikit terengah-engah. Pria itu memakai baju zirah dari logam namun tanpa helm sehingga rambutnya yang pendek berwarna coklat terlihat dan sedikit basah oleh keringat. Wajahnya tampan dan ia berkulit tan cerah, secerah bola matanya yang berwarna coklat muda. Ia memberi hormat pada Shumi.
Shumi tersenyum. “Zain Mamoruntu, anak sang panglima utama kerajaan bumi yang terhormat, calon prajurit terbaik dari yang terbaik dari kerajaan ini!” ujar Shumi agak lantang sedikit menggertak.
“Saya, yang mulia!” balas Zain tegap.
__ADS_1
Shumi tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Ia sampai memegangi perutnya karena mencoba menghentikan tawanya. Zain merasa sedikit malu dan selang beberapa detik, ia juga ikut tertawa.
“Kau.. kau itu selalu saja seperti itu, Zain, hahaha,” ujar Shumi sambil tertawa. “Aku kan sudah memberikan perintah khusus padamu agar tidak seformal itu jika berhadapan denganku,” lanjutnya hingga akhirnya ia dan Zain berhenti tertawa.
Mereka saling berhadapan. “Kau ini bodoh ya? Kau itu sahabatku sejak kecil, jika kau benar-benar hormat padaku, aku mohon, perlakukan diriku sebagai sahabatmu,” lanjut Shumi.
“Maafkan aku, Shumi!” ujar Zain tersenyum lebar, “aku hanya takut kali ini kau marah karena aku lagi-lagi terlambat.”
“Tidak, Zain, aku tidak marah,” potong Shumi, “sudah, sekarang kamu sudah disini, bagaimana latihanmu hari ini? Ada berita baru?” tanyanya seraya perlahan membalikkan badannya dan metelakkan kedua telapak tangannya ke tembok batas Menara yang hanya setinggi perutnya. Ia kembali menatap hutan nan jauh di depannya.
“Ya, begitulah, untuk menguasai teknik pernafasan memang bukan hal yang mudah,” jawab Zain, “tapi aku akan menguasai semua teknik ini hingga gerakan pamungkas ayah menjadi gerakan andalanku juga suatu saat nanti,” tambahnya sambil memandang langit.
Shumi kembali tersenyum. “Aku yakin kau pasti bisa mewujudkannya, bahkan melampauinya,” pujinya. “Hari ini adalah hari pertama di tengah tahun dan akan menjadi awal dimana malam hari akan lebih panjang dari pada siangnya selama enam bulan ke depan," ujarnya.
Zain terdiam mendengarkan.
"Aku dengar, ada komplotan perampok yang mengganggu keamanan provinsi bumi selatan dan ternyata mereka itu kelompok besar ya? Apa ini termasuk pemberontakan?”
“Itu yang menyebabkan pagi-pagi sekali tadi, Yang Mulia Raja memanggil kami,” jawab Zain dan berdiri di samping kiri Shumi dan melakukan hal yang sama dengannya, “deputi Bumi Selatan meminta pasukan utama kerajaan untuk membereskannya. Tapi mereka itu murni kriminal, mereka tidak ada keinginan untuk menguasai atau mengkudeta daerah itu, kita akan menghabisinya ketika informasi yang sedang kita cari berhasil didapatkan.”
“Informanmu sangat banyak ya, Tuan Putri!” canda Zain tersenyum, “ini masih rahasia, tapi menurut intel kerajaan, mereka sangat terorganisir. Target mereka juga bukan pedagang-pedagang biasa. Mereka lebih cocok dipanggil komplotan mafia.”
“Dan, divisi apa yang akan kesana?”
“Divisi pedang yang akan kesana bersama dengan beberapa pasukan assassin,” jawab Zain, “ dan aku diamanahkan untuk memimpin pasukan itu.”
Kali ini Shumi sedikit terkejut dan menoleh kepada Zain. “Tugas terberat mu?” ujarnya menatap Zain.
“Pertamaku, lebih tepatnya,” sambung Zain balas menatap Shumi, “dan akan menjadi keberhasilan misi tingkat tinggi pertamaku,” tambahnya.
“Aku akan kehilangan sahabatku untuk waktu yang cukup lama, ya?” ledek Shumi, “ditambah malam akan lebih panjang, akan sangat membosankan.” Selang beberapa detik, ia dan Zain tertawa kecil.
__ADS_1
“Aku berjanji tidak akan lebih dari sebulan, tuan putri,” balas Zain meledek, “ini masalah perjalanan saja, kita tidak diperbolehkan menggunakan armada Buroq untuk kesana, khawatir musuh mengetahui pasukan utama kerajaan akan hadir disana.”
Shumi terkejut kembali, “Ayahmu membuatmu tak bisa berpergian cepat ya? Akan memakan waktu dua sampai tiga minggu untuk sampai disana ya?”
Zain menjawab, “ya, akan memakan waktu dua kali lipat dari yang biasanya. Bumi Selatan adalah provinsi terjauh dari sini, ditambah lagi kita harus berpura-pura sebagai pedagang biasa.”
Shumi sedikit tertawa.
"Tapi aku bisa menyiasatinya soal itu,” pungkas Zain.
Mereka melanjutkan perbincangan-perbincangan tentang apa yang mereka lakukan hari itu. Mereka selalu bertemu setiap hari ditengah kesibukan mereka masing-masing. Kadang di pagi hari, kadang di siang hari, dan sering kali di sore hari menjelang malam. Mereka jarang bertemu di malam hari kecuali jika ada acara resmi kerajaan. Hal ini dikarenakan protokol seorang putri raja dan tugas Zain yang kini menjabat sebagai salah satu kapten di pasukan militer kerajaan.
Pembicaraan mereka berakhir sesaat sebelum mereka berpisah setelah berjalan bersama menuju istana. Shumi menceritakan akan mimpi buruknya pada Zain dan membuatnya sangat terkejut, namun Zain mencoba menenangkan Shumi dan berfikir bahwa kebetulan bisa terjadi hanya dua kali dan tidak akan ada yang ketiga kalinya.
Sementara waktu, perkataan Zain ada benarnya, walau kenyataan tidak membiarkan spekulasi sepihaknya itu menjadi benar. Shumi Mediane, kembali melihat yang seharusnya ia tidak mengetahuinya.
Tepat pada dua malam setelah Shumi menceritakan tentang mimpi buruknya mengenai Pluto dan Solomon ring-nya, ia kembali bermimpi suatu kejadian yang sangat nyata ia saksikan. Seolah-olah ia benar-benar ada saat kejadian di mimpinya itu tergambarkan.
Ia melihat dengan jelas seorang wanita muda berkulit putih pucat seperti salju, berambut panjang warna putih keperak-perakan, bermata indah berwarna hijau muda yang terang, tengah melahirkan dua bayi perempuan yang lahir secara berurutan dan dibantu oleh seorang wanita paruh baya yang sedikit gemuk, berambut hitam pendek dan berkulit tan kecoklatan tapi cerah.
Ia juga melihat seorang pria gagah yang tampan dengan hidungnya yang mancung memanggil wanita salju itu selayaknya seorang suami yang sangat mencintai istrinya dan untuk pertama kalinya ia melihat sihir penyembuhan tergambar sangat amat nyata.
Ia melihat bagaimana mereka berpisah setelah wanita yang baru saja melahirkan tadi pergi dengan kuda dan membawa salah seorang bayinya di tengah derasnya hujan dan kemudian wanita itu terus pergi hingga lenyap ditelan rimbanya hutan.
Ia juga menyaksikan sihir-sihir penyerangan dilancarkan oleh suami wanita tadi kepada sekelompok orang bertudung gelap yang datang mengancam.
Shumi merasakan ketakjuban, kesedihan dan ketakutan yang luar biasa secara bersamaan. Ia takjub karena akhirnya ia dapat melihat bagaimana para penyihir bertempur, ia sedih setelah melihat bagaimana sepasang suami istri yang harusnya sangat bahagia karena kelahiran kedua putrinya tapi malah harus berpisah seperti itu, dan ia merasa ketakutan karena, untuk pertama kalinya juga, ia melihat bagaimana seseorang mati karena menerima sihir yang dilancarkan bertubi-tubi hingga orang itu tak berdaya.
Ya, seorang pria yang Shumi ketahui namanya saat istrinya memberikan ciuman perpisahan, terbujur kaku di tanah basah yang tergenang air hujan. Sesaat Shumi ingin berteriak, ia kembali pada tidurnya.
Chapter 2 : Shumi Mediane
__ADS_1
-Selesai-
(Bersambung ke chapter berikutnya)