
Chapter 7 (Part 3)
Ogre dan Centaur
Malam telah datang. Shumi dan Shukoi memutuskan untuk beristirahat dahulu di tengah hutan yang kebetulan kali ini pepohonan yang ada di sekitar mereka bukan lagi pepohonan yang sangat rimbun seperti awal mereka masuk. Banyak pohon pinus, cemara, dan jenis-jenis pohon yang habitatnya berada pada suhu yang dingin.
Malam itu suhu sekitar terasa sangat dingin. Shumi sebenarnya sudah terbiasa dengan cuaca seperti ini, tapi kali ini suhunya dua hingga tiga kali lipat lebih dingin dari pada Kota Throttling yang biasanya memang bersuhu udara rendah.
Jubah tebal yang Shumi gunakan seakan kurang tebal. Untungnya, dihadapannya kini sudah ada sebuah api unggun yang lumayan besar dan sangat menghangatkan badannya.
Di sebelah kanannya, duduk juga Shukoi yang melakukan hal yang sama. Telapak tangannya mencoba meresap radiasi panas yang dikeluarkan sang api yang mereka terus tatap. Rasa lelah sudah mulai terasa di badan mereka.
Di hadapan mereka, duduk juga seorang pria yang memiliki tubuh gagah, tingginya seperti Zain, kulit tubuhnya putih cerah, bola mata dan rambutnya yang terjulur sepanjang leher sama-sama berwarna hitam. Wajahnya cukup tampan, menurut Shumi, tapi terdapat bekas luka di kelopak bawah mata kirinya sepanjang satu ruas jari tangan. Daun telinga kanan bagian atasnya juga terlihat bekas luka robek yang tidak dijahit, sehingga terlihat belahan yang cukup mengerikan di balik helai-helai rambutnya yang lurus itu.
“Kita akan lewati malam hanya dengan diam seperti ini, kah? Sudah hampir satu jam kita seperti ini” ujarnya memecah keheningan dan lamunan Shumi dan Shukoi.
Shumi menoleh. “aku belum tahu nama lengkapmu!” sahut Shumi agak angkuh. Ia masih sedikit kesal dengan apa yang pria itu lakukan sebelumnya.
“Kau masih marah ya? Aku malah yang belum tahu asal usul kalian! Dari pertama berkenalan, kalian saja yang terus menanyaiku bagai pemburu berita” balasnya mencoba membalas keangkuhan Shumi.
Sayangnya, Shumi dan Shukoi sama-sama diam tidak bicara. Keheningan terjadi lagi dan membuat pria ia menyerah.
“Baiklah!” ujarnya sedikit menghelah nafas, “bertemu dua wanita cantik yang sedang agak marah memang sedikit mengganggu, tapi selama perjalanan panjangku yang sendirian ini, bertemu mereka seperti bertemu dua surga! Baik, aku menyerah! Maafkan aku!”
Kali ini Shumi menimpalinya. “Baru sekarang kau sadar, Hah?!” ujarnya dengan nada agak tinggi menahan kesal. Ia masih sesekali mengingat bagaimana pria itu membunuh centaur yang hendak menyerangnya. “Jika kau memang kuat, mengapa tidak membuat centaur itu terganggu saja, sehingga setidaknya serangannya akan meleset?!” bentaknya.
“Wah, aku benar-benar di posisi yang sulit, ya?” jawab pria itu, “ya, mungkin kau memang tidak mengerti sihir yang ia ingin lepaskan, ya? Jika ia melepas tarikan busurnya, anak panah yang melesat itu akan terus mengejar targetnya! Itu sihir tingkat bencana, tahu! Serangan itu hanya bisa ditahan atau diadu dengan sihir pertahanan yang lebih tinggi lagi, dan ternyata kalian bukan penyihir, kan? Bagaimana bisa kalian melakukan hal itu? Untung saja karena waktu yang ia butuhkan cukup lama, jadi aku bisa segera menggagalkannya! Harusnya kau berterima kasih!”
“Kau bukan hanya mengagalkannya, tapi juga membunuhnya!” balas Shumi, “padahal ia sudah minta ampun, lho!”
“Oke, aku minta maaf! Sayangnya aku tidak punya sihir untuk menghidupkan makhluk yang sudah mati.” Pria itu mulai kesal dan berkata, “awalnya aku cukup terkesan alasan kalian yang melindungi para ogre itu” ujarnya sembari menujuk ke arah belakang Shumi dimana terdapat para ogre yang tertidur, “tapi sekarang kau malah membela makhluk yang ingin membunuh mereka!”
Shumi terdiam sejenak dan berkata, “aku hanya ingin memberikan pelajaran, agar saat mereka kembali ke tempat mereka, maka mereka tidak akan melakukan intimidasi lagi pada para ogre!”
Mendengar itu, pria tadi tertawa, “ha..ha..ha…,” ia tertawa cukup lama dan keras.
Shumi tampak makin kesal, “apanya yang lucu, hah?!”
“Kau itu seperti seorang tuan putri yang terkurung dalam kedamaian di dongeng-dongeng anak kecil!” cela pria itu.
Shumi terdiam seperti membeku tiba-tiba. Ia tidak pernah memberitahu siapa dia pada pria itu, tapi mengapa ia berkata seperti itu.
__ADS_1
“Kau, siapa namamu tadi? Ya pokoknya kau harus tahu, ya!” lanjut pria itu, “kita tidak bisa memberi pelajaran dengan cara seperti itu pada pembunuh! Jika kau melakukan hal seperti itu, ia akan hanya dendam dan malah memperkeruh suasana! Ia akan melampiaskan pada ogre yang lain yang ada di tempatnya! Dan kau tidak akan ada disana untuk menolong mereka, kan? Lagi pula, ia benar-benar berniat membunuh kalian! Kadang membunuh orang yang bersalah malah membuat suatu pelajaran bagi mereka!”
Shumi masih terdiam. Ia berfikir bahwa yang dikatakan pria itu ada benarnya juga, walau baginya, membunuh centaur dengan cara seperti itu masih bukan solusi yang terbaik. Ia merasa belum pantas menjadi penerus tahta yang baik, karena masih belum bisa melindungi dengan cara yang benar dan memberikan solusi yang tepat. Sungguh pelajaran yang sangat berharga baginya.
“Masih terdiam?” tanya pria itu lagi, “hei, kau bantulah kawanmu mengerti apa yang aku maksudkan!” pintanya sembari menoleh ke arah Shukoi.
“Ya, aku mengerti! Aku memang tidak bisa melindungi dengan cara yang tepat! Tapi bagiku masih ada jalan tanpa membunuh seperti itu, seharusnya!” jawab Shumi, “tapi, baiklah! Untuk saat ini, aku kira aku harus menerimanya!”
Senyum tampak sangat jelas terlihat pada wajah pria itu. “Sangat diplomatik! Ha..ha..ha… Baiklah! Namaku, Ricky Zabura! Aku pengelana yang ingin berkunjung ke Kota Suci dan masuk dari sisi utara Negeri Hutan Putih” ujarnya.
“Aku Shumi dan ini Shukoi! Kami juga ingin ke sana untuk bertemu saudariku. Kami masuk dari utara kerajaan bumi” balas Shumi.
“Shumi? Nama yang tidak asing? Emm…” Ricky berfikir.
Shumi dan Shukoi saling pandang. Mereka tidak mau identitas itu diketahuinya, tapi Shumi sudah terlanjut memperkenalkan dirinya. Lagi pula, Shukoi sebelumnya beberapa kali memanggil nama Shumi dengan panggilan Nona.
“Ya! Shumi itu Putri Mahkota Kerajaan Bumi kan?” tebak Ricky.
Shumi sedikit bergeming, kemudian ia tertawa yang sedikit dibuat-buat. “Ha..ha.. Ya, mirip kan? Mungkin Ibuku terinspirasi dari beliau! Nama Tuan Putri itu kan Shumi Mediane, sedangkan aku Shumi Venezia!” ujar Shumi berbohong.
Shukoi terlihat lega. “Dan walau aku lebih tua, aku adalah keponakannya, dari silsilah keluarga, kau tahu? Jadi aku selalu menghormatinya” tambah Shukoi.
“Umm… Venezia, ya? Dari Provinsi Bumi Selatan ya?” tebak Ricky lagi, “aku pernah beberapa kali kesana, banyak elf kan di sana?”
“Ya, sebuah provinsi yang memiliki kota yang indah” sambut Shukoi, “para Elf di sana sangat ramah dan bekerja sama dengan para penduduk di sana”
“Ya, memang para elf dari Pulau Elf itu sudah dalam perlindungan Kerajaan Bumi. Perjanjian saling melindungi dari sisi militer menjadikan mereka sahabat yang dekat ya?” sahut Ricky.
“Perjanjian militer?” ujar Shumi dalam hati. Ya, ia hampir lupa akan hal itu. Sebuah perjanjian khusus pada Pulau Sigma yang mengizinkan para elf tinggal dan bersosial dengan para penduduk Kerajaan Bumi di sana. Mungkin hal ini mirip dengan yang dikatakan centaur tadi pada Negeri Angkasa. Mereka bekerja sama dengan para centaur dan saling melindungi. Artinya, jika Negeri Angkasa tahu akan hal ini, mereka akan dalam masalah yang besar.
“Berarti, kita dalam masalah dengan Negeri Angkasa, ya? Kematian centaur itu?” tanya Shumi.
“Tenang saja! Perjanjian mereka tidak seperti para elf dan Kerajaan Bumi Selatan itu! Para centaur itu awalanya adalah makhluk yang tidak mau bergabung dengan pihak manapun, mereka terlalu angkuh! Hingga akhirnya banyak yang ingin darah mereka sebagai obat dan jimat! Tanduk mereka juga berharga fantastis, jadi banyak yang memburunya. Untuk melindungi itu, mereka meminta perlindungan Negeri Angkasa dan mereka mengabulkannya asalkan para centaur mau tunduk pada perintah Negeri Angkasa”, jawab Ricky.
“Yang gemar memburu mereka juga para penduduk Negri Angkasa, bukan?” tanya Shukoi.
“Ya, benar! Negri itu penduduknya suka hal-hal magis seperti itu! Jadi ya perjanjian itu hanya agar penduduk Negeri Angkasa tidak memburu mereka lagi!” jawab Ricky.
Shumi paham sekarang. Hal ini tidak pernah dibahas di negrinya. Tapi, info dunia seperti ini sangat penting baginya. Shumi kini tertarik pada latar belakang Ricky dan bertanya, “apa alasamu ke Kota Suci? Apa kau keturunan kaum quarzt? Kau tidak akan bisa masuk ke sana kan jika bukan kaum quartz?”
“Emh…”, Ricky tampak sedikit terkejut dengan pertanyaan Shumi yang tiba-tiba membelok, “aku ingin penyihir di sana menyembuhkan Ibuku yang tengah sakit! Di dunia ini, penyihir yang memiliki kekuatan penyembuhan hanya kaum putih quartz kan?”
__ADS_1
“Begitu ya?” sahut Shumi yang sedikit mengenang Ratu Stephanie.
“Ya, tiap kerajaan di dunia ini memang memiliki perwakilan penyihir quartz yang ditugaskan untuk menjadi penyembuh,” ujar Ricky.
Shumi baru mengetahui informasi ini. Ia heran kenapa di Kerajaannya tidak ada hal seperti ini? Ia juga kembali teringat pada perkataan Ayahnya bahwa telah mencoba meminta bantuan pada penyihir di Kerajaan Hutan Putih, tapi tidak berhasil. “Tapi di kerajaan kami tidak ada penyihir putih seperti itu?” tanya Shumi.
“Ya, kecuali Kerjaan Bumi dan Kerajaan Hutan Hitam! Mereka punya masalah yang kelam di masa lalu dengan para kaum quartz, kan?” jawab Ricky.
Shumi terdiam. “Ya, memang masalah yang sangat kelam,” ujarnya dalam hati, “lalu, sebagai gantinya?”
“Sebagai bayarannya, semua kebutuhan kota suci itu di-supply dari negara-negara yang menggunakan jasanya,” jelas Ricky, “tapi, karena aku bukan siapa-siapa dan tidak punya uang untuk membayar pada kerajaan, maka aku ingin ke kota itu sendiri dan meminta mereka.”
“Lho? Bukannya kau bisa meminta langsung pada perwakilan mereka yang ada di kerajaanmu?” tanya Shukoi tiba-tiba ikut bicara.
“Sudah pernah aku coba lakukan, tapi tidak diizinkan oleh pihak kerajaan! Aku kemari, karena kemurahan hati penyihir putih yang tiba-tiba memberikan surat agar aku menemuinya di Kota Suci agar terbebas dari biaya,” jelas Ricky.
“Tak ku sangka Kerajaan Hutan Putih sejahat itu, ya?” sahut Shumi. Ia menjadi memiliki beberapa alasan mengapa Raja Victor gagal meminta bantuan pada kerajaan Hutan Putih yang sebenarnya adalah negara sahabat. Banyak alasan yang sangat kuat.
“Ya, aku juga membenci Negri Hutan Putih itu!” balas Ricky. Kali ini kebenciannya terasa oleh Shumi.
Hening beberapa saat, hingga Shumi akhirnya berkata, “baiklah, kita akan ke sana bersama-sama.”
“Oh ya, kau bilang mau menemui saudarimu? Berarti kau orang quartz? Tapi kenapa kalian tinggal di kerajaan bumi?” tanya Ricky.
“Erm…” Shumi mencoba berfikir mencari jawaban yang pas, “ya, aku punya sejarah kelam… A.. Aku…”
“Orang tua Nona Shumi salah satunya adalah keturunan kaum quartz,” potong Shukoi, “aku tidak tahu bagaimana, tapi orang tuaku pernah bercerita bahwa saat Ibunya berkunjung ke Negri Hutan Putih, ia menikah dengan penyihir di sana, kemudian, ya kau tahu lah! Ia tidak pernah mengetahui Ayahnya!”
Shumi tersenyum menatap Shukoi. Semua cerita bohongnya ada benarnya dan ini membuat matanya berkaca-kaca.
“Oh, maafkan aku!” sahut Ricky, “tapi, artinya aku punya harapan untuk bertemu orang yang ku cari juga, bukan?”
“Ya, mari kita bersama-sama ke sana! Aku harap ibumu bisa disembuhkan!” ujar Shumi yang kembali menatap Ricky.
“Terima kasih!” ujar Ricky yang terlihat senang, “baiklah, kalian lebih baik istirahat dahulu, biar aku yang jaga. Malam hari di musim dingin berlangsung lebih lama, kan? Nanti jika ada sesuatu atau aku sudah lelah, akan aku bangunkan kalian!”
“Ti---” Shukoi hendak menolak, tapi Shumi memotongnya.
“Baiklah, kita percaya padamu! Shukoi dan aku memang butuh istirahat! Terima kasih!” ujar Shumi, kemudian berdiri mengajak Shukoi. “Kita akan istirahat di bawah pohon itu,” ujarnya lagi pada Shukoi sembari menunjuk pohon ek besar di sisi selatan api unggun itu.
“Baiklah,” sahut Shukoi.
__ADS_1
* * *
Bersambung ke part selanjutnya.