Magic Of Mana Book 1 : Tragedi Pertama

Magic Of Mana Book 1 : Tragedi Pertama
Chapter 5: Kaum Quartz dan Kerajaan Throttling (Part 1)


__ADS_3

Chapter 5 (Part 1)


Kaum Quartz dan Kerajaan Throttling


Shumi membukakan pintu kamarnya. Ia langsung melihat Ayahnya, Raja Victor, berdiri sendirian disana. Ia tampak sedikit lebih segar dan rapih dari pada saat di jamuan makan malam tadi. Shumi kemudian membungkuk sedikit memberikan hormat dan mempersilahkan Ayahnya masuk.


“Silahkan masuk Ayah”, ujarnya.


“Terima kasih, anakku”, balas Raja Victor, kemudian ia masuk ke kamar Shumi dan langsung duduk di bangku yang ada di sudut ruangan lurus dari pintu. Di hadapannya terdapat meja bundar dari kayu yang di cat putih, sewarna dengan bangkunya.


Shumi menutup kembali pintunya dan menyusul Ayahnya duduk di bangku satunya dan berhadapan dengan Ayahnya. Ia melihat ke sisi kanan dan kirinya, biasanya Ibunya duduk diantara bangku itu saat berkunjung ke kamarnya.


“Ayah juga kembali teringat Ibumu, Shumi”, ujar Raja Victor, “Ini kali pertama aku memasuki kamarmu tanpanya”.


“Iya, Ayah”, balas Shumi. “Kini ia sudah tenang disana”, Shumi menghela nafas sejenak, “Andai aku bisa lebih awal membuat ramuan itu, mungkin Ibu masih bisa selamat dari penyakitnya”, ujarnya.


“Tidak, Shumi”, sahut Ayahnya, “Ramuan dari mu sungguh fantastis, bahkan itu penemuan baru di dunia ramuan. Tapi, untuk kasus Ibumu, ramuan itu hanya akan menghambat usianya sebentar saja, bahkan harus Ayah katakan, sangat sebentar”.


Shumi terkejut. “Bagaimana Ayah tahu?”, tanyanya.

__ADS_1


“Itu cerita yang panjang, nak! Lain kali kita bicarakan kembali”, jawab Raja Victor, “Yang jelas, itu berkaitan dengan cincin yang kau gunakan sekarang itu”.


Shumi mulai teringat ada yang aneh pada cincin itu belakangan ini. “Shumi baru menyadarinya, Ayah. Cincin ini tidak berwarna kuning lagi seperti dulu. Sejak kapan cincin in..?”, ujar Shumi sebelum dipotong Ayahnya.


“Sejak beberapa minggu setelah kamu berulang tahun”, ujar Raja Victor. “Tak lama kemudian, ia sakit dan terbaring di kamar. Itu karena efek cincin itu hilang”.


Shumi terkejut. “Efek cincin ini? Memang apa pengaruhnya?”, tanyanya.


“Ibumu terkena kutukan dari makhluk yang sangat kuat saat masih kecil, dan cincin itu adalah penangkalnya hingga efek dari cincin itu hilang dan kutukan itu kembali melanjutkan fungsinya. Tidak ada yang tahu juga kutukan itu menyebabkan apa, hingga akhirnya ada informasi baru bahwa Ibumu mengalami proses penuaan yang sangat cepat”, Raja Victor kemudian menuangkan secangkir teh yang tersedia di atas meja di hadapannya, “Kutukan itu tidak dapat dibatalkan, bahkan Ayah sudah mencoba meminta bantuan para penyihir kenamaan dari Kerajaan Hutan Putih, satu-satunya negara sahabat kita”.


“Bagaimana bisa Shumi tidak tahu, Ayah?”, ia agak menyesal dan kecewa.


Shumi terdiam. Ia merasa putus asa sekarang karena berfikir bahwa walaupun ia mengetahui hal itu sebelumnya, ia tidak dapat melakukan apapun. Suasana hening beberapa saat hingga Raja Victor telah menghabiskan secangkir teh hangatnya.


“Mana perkamen itu, Anakku”, tanya Sang Raja.


Shumi bangkit perlahan dan mengambilnya di meja samping tempat tidurnya, kemudian kembali duduk di bangkunya tadi. “Ini, Ayah” ujarnya meletakkan perkamen yang masih tergulung dan terikat pita merah itu di meja.


“Baik, sebelum kau membuka itu, Ayah ingin bercerita sedikit, mungkin kau sudah tahu beberapa, tapi ini mungkin sedikit berbeda dengan apa yang tertulis di buku-buku”, ujar Sang Raja. “Ini mungkin juga berkaitan dengan cerita ibumu”.

__ADS_1


Shumi mengangguk dan kembali bersiap menerima cerita lagi. Ia memperhatikan Ayahnya yang mulai bercerita.


“Dahulu, entah kapan lebih tepatnya, sebelum tatanan kerajaan seperti sekarang ini, wilayah di dunia ini terbagi menjadi empat daerah berdasarkan kaum terdahulu, yakni kaum ruby, quartz, raiden dan blizzard, atau mungkin di buku tertulis kaum merah yang tinggal di wilayah barat, kaum putih di wilayah utara, kaum kuning di wilayah timur dan kaum biru di wilayah selatan, …”


Awalnya terjadi perang saudara dalam masing-masing kaum dimana manusia yang memiliki kemampuan sihir tidak mau disamakan oleh manusia biasa. Para manusia yang memiliki kelebihan itu menamai diri mereka magicians atau penyihir. Dan para Human atau manusia biasa pun lama kelamaan menjadi makhluk rendahan yang tidak bisa apa-apa. Mereka malah munuju ke arah budak bagi para penyihir. Hal ini lah yang menyulut perperangan.


Para human dari semua kaum bersatu dan melawan. Perlawanan berawal dari kaum merah yang memang praktek perbudakan dan jenjang sosialnya sangat buruk. Terjadi peperangan yang memakan banyak korban, terlebih dari para human yang hanya berharap pada kemampuan bertarung murni mereka. Perang ini terkenal dengan nama Perang Merah. Akhir dari perang ini dimenangi oleh para penyihir.


Hal ini malah memperburuk keadaan bagi para human. Di sana, mereka benar-benar menjadi budak para penyihir dan itu membuat sebuah komunitas penyihir yang pro terhadap human di daerah kaum putih bergerak. Mereka melewati batas daerah antar kaum dan menyebrang dari utara ke barat untuk membebaskan para human dari kaum Ruby. Peperangan pun kembali terjadi, kali ini human dari kaum ruby bertempur bersama sebagian penyihir kaum putih. Dan misi penyelamatan ini berhasil sehingga tidak ada lagi human di daerah kaum ruby. Perang itu dikenal dengan sebutan Death Candle War.


Beberapa tahun setelah itu, kaum human di daerah putih menjadi mayoritas karena banyak human dari daerah lain mencari perlindungan dan kebebasan ke daerah itu. Lama-kelamaan, jumlahnya melebihi jumlah penyihir putih yang sesungguhnya cinta perdamaian. Hingga akhirnya mereka menjadi kuat, dan mengkhianati kaum putih. Mereka mengusir para penyihir kaum putih dan mendirikan sebuah kerajaan disana.


Terusirnya penyihir kaum putih membuat para kaum merah yang memiliki dendam pada kaum human berencana menyatukan diri dengan para penyihir putih yang terusir itu dan membalas perbuatan human pada mereka. Namun para penyihir merah tidak berhasil. Para penyihir putih yang terusir itu lebih memilih tinggal di kampung halaman mereka di “The fallen city of Topaz”, karena petuah dari kepala suku mereka saat itu yang mengklaim telah meminta pendapat dari para eidolon dan membuat daerah tersebut menjadi teritori mereka. Untungnya saat pengusiran itu, penyihir putih tetap membawa dan menjaga senjata kuno batu Topaz dan tongkat Mare. Dan para penyihir putih tersebut terkenal karena akan bersikap netral pada apapun yang akan terjadi pada manusia dan disebut sebagai “The Quartz”. Mereka memang akan bersikap netral pada urusan-urusan di luar teritori mereka, tapi akan sangat menjaga keutuhan darah magicians disana. Setiap manusia tak tertandai, akan mereka bunuh.


Akibat kejadian inilah, terjadi serangkaian peristiwa yang membuat tatanan kaum dan negara berubah. Ada yang lewat perang, ada yang lewat aliansi. Awalnya membentuk kerajaan, kemudian menjadikan suatu negara yang terdiri dari beberapa kerajaan.


“… Dan kau tahu? Kerajaan yang kini lebih tepatnya disebut sebagai negara yang mengusir kaum quartz itu adalah kerajaan bumi”, Raja Victor selesai bercerita.


(Bersambung ke part 2)

__ADS_1


__ADS_2