
Chapter 1
Kelahiran Sang Bencana (Part 1)
Malam, hujan sangat lebat lengkap dengan petir yang terasa sangat dekat. Seorang wanita muda berkulit putih pucat seperti salju, rambutnya yang panjang berwarna putih keperak-perakan, bermata indah berwarna hijau muda yang terang, sedang berjuang dengan sekuat tenaga. Ia tengah melaksanakan tugas terberat dan utama sebagai seorang ibu, melahirkan. Wanita itu bernama Minna Scarlet.
Scarlet dibantu oleh seorang penyihir baik hati yang bersedia membantunya walau seantero kota sedang mengawaasi kelahiran sepasang bayi kembar yang akan berpengaruh pada kekuatan dan eksistensi kaum quartz. Ia juga bersama juga dengan sang suami tercinta yang sedang sekuat tenaga membuat sihir selubung, yang merupakan sihir spesial dan terlarang untuk digunakan selain dalam perang, di luar rumah kecil tempat ia akan melahirkan saat ini. Ketakutan, kebingungan, kegundahan tapi juga kebahagiaan tengah menyelimuti perasaan dan pikirannya.
“Jangan melamun! Tunjukkan kekuatanmu Scatlet! Kita tidak akan bisa melahirkan seseorang dengan sihir, jadi kali ini lakukan dengan baik!” tegas penyihir wanita baik hati itu sembari membantu Scarlet memperahankan posisi kakinya yang sedang dalam posisi siap melahirkan.
Scarlet menjerit dan sekuat tenaga ia mendorong bayinya dengan otot-otot rahimnya. Dengan cekatan sang penyihir membantu kelahiran bayi itu dan dengan mudah lahirlah anak pertama Scarlet. Suara tangis bayi itu terbentur dengan suara derasnya hujan.
“Perempuan yang cantik, ia mirip denganmu” ujar penyihir itu sedikit tersenyum dan bergegas menyelimutinya dengan kain, kemudian berjalan menuju sebuah meja kayu di sebelah kanannya. Ia meletakkan bayi dari gendongan tangannya ke meja itu dengan alas kain yg ditumpuk beberapa lapis. Tak lama ia kembali ke tempat semula untuk menyambut bayi kedua yang akan lahir. “Aku yakin kau masih sanggup, Scarlet!”
Tiba-tiba pikiran Scarlet membayangkan kejadian tiga bulan sebelumnya. Ia ingat betul bagaimana kejadian kepala suku meramalkan bahwa salah satu anaknya akan menjadi salah satu magicians yang memiliki bakat sihir, sedangkan satunya tidak. Ingatan itu adalah ingatan terburuk dalam hidupnya. Scarlet pun tanpa sadar menangis.
__ADS_1
Tanpa bicara, Scarlet mencoba lagi mendorong bayinya dari dalam rahimnya. Dengan kekuatan yang tersisa, ia berhasil kembali melahirkan bayinya diikuti suara tangisan yang bersahutan dengan bayi pertamanya. Ia pun terbaring lemas tapi masih sangat sadar. Ia menahan sakit dan nyaris kehilangan tenaganya sama sekali.
“Semua anakmu cantik Scarlet. Sayangnya kita harus melakukannya dibalik tudung selimut ini.” ujar sang penyihir sambil melanjutkan tugasnya.
“Bisakah kau lakukan tugas terakhirmu, Charlote?” tanya Scarlet terengah-engah, “mana anakku yang bukan magician?”
“Kau yakin harus dila--”
“Sekarang Charlote!” Scarlet mulai gemetaran dan masih menangis, “jika kau menghawatirkan lukaku, aku bisa menyembuhkannya sendiri.”
“Baiklah”, Charlote meletakkan kedua bayi yang masih menangis itu agak berjauhan tapi masih di tempat yang sama. “Mirsani Getih Murni”, serunya ke arah bayi yang pertama lahir.
“Saatnya pergi Scarlet,” ujar Zahid, kemudian menoleh ke arah istrinya. Begitu tahu bahwa Scarlet masih memiliki luka dari proses persalinan, ia langsung mengeluarkan sihir, “Cure!”
Luka Scarlet menutup perlahan. Scarlet terlihat sangat menahan rasa sakit yang dia terima selama proses penyembuhan itu. “Kau yakin kau kuat sayang?” tanya Zahid lagi.
Scarlet mencoba bangkit dari tidurnya sembari mengumpulkan kembali tenaganya. “Andai ada yang bisa memberiku stamina lebih untuk saat ini saja,” ujarnya.
__ADS_1
“Aku sudah menyiapkan ramuan. Ambillah! setidaknya itu cukup untuk mu sampai kau tiba disana,” jawab Charlote menaruh sebuah kantung coklat yang terikat tali di atas meja disamping bayi kedua, lalu kembali menyiapkan bayi tersebut dengan selimut untuk pergi. “Bayi yang malang,” bisiknya menahan tangis.
“Mereka segera datang, Scalet!" ujar Zahid, “aku sanggup bertahan sepuluh menit jika mereka tidak langsung berniat membunuhku.”
“Kita berpisah disini. Semoga kita bisa bertemu lagi, sayangku!” ujar Scarlet sembari memeluk suaminya yang sedang melihat bayinya, “kau akan selalu ada dalam darah mereka.”
Scarlet pun menyiapkan diri. Ia mengambil sebotol ramuam biru dari dalam kantung yang diletakkan Charlote tadi dan meminumnya. Ia merasakan kembali sehat dan berenergi. “Aku ambil kantung ini Charlote, terima kasih banyak atas segalanya."
“Bayimu sudah siap, ini sentuhan terakhir,” ujar Charlote, “Sleep!” Sihir diberikan kepada bayi kedua dan seketika ia tertidur. Suara sahut menyahut tangisan bayi pun lenyap menjadi suara tunggal. Charlote kemudian memberikannya pada ibunya.
“Terima kasih, Charlote!" balas Scarlet menggendong anaknya dengan balutan kain gendong, “aku pergi sekarang.” Ia kemudian mengenakan jubah tebal dibantu oleh suaminya.
“Kudamu sudah siap, Hati-hati!” ujar Zahid.
Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari luar rumah tapi terdengar agak jauh. “Zahid, serahkan bayimu!” ujar suara laki-laki sedikit membentak.
__ADS_1
(to be continued...)