Magic Of Mana Book 1 : Tragedi Pertama

Magic Of Mana Book 1 : Tragedi Pertama
Chapter 6: Hutan Utara (Part 3)


__ADS_3

Chapter 6 (Part 3)


Hutan Utara


Shumi dan Shukoi berjalan hingga tidak terasa cahaya matahari sudah ada yang berhasil menembus celah-celah antar dedauanan di atas mereka. Walau begitu, kegelapan hutan masih cukup kental dan membuat pandangan masih seperti malam hari.


Shukoi kemudian mematikan obornya dengan menggulingkannya di tanah hingga padam. “Kita akan lebih aman tanpa api ini,” ujarnya.


Shumi tidak berkomentar tanda setuju. Ia juga malah khawatir menarik perhatian, tapi memang sebelumnya kegelapan hutan itu membuat langkah kakinya akan sangat sulit tanpa obor itu.


“Sejauh ini, tidak ada hambatan ya?” ujar Shumi.


“Iya, Nona.”


“Seberapa kau tahu tentang hutan ini, Shukoi? Apa belum ada dari kerajaan kita yang pernah melewatinya?”


“Pernah, Nona! Tapi sudah lama dan hal itu hanya menghabiskan tenaga saja! Hutan ini adalah hutan magis yang konon katanya sudah seperti ini sejak para anak dewa masih berperang satu sama lain.”


“Tujuannya untuk melindungi kota Topaz?”


“Entah untuk melindungi atau karena adanya kota itu, hutan sekitarnya menjadi seperti ini.”


“Ya, aku juga pernah baca, hutan magis ini mengelilingi kota suci topaz, membuatnya tidak semua orang bisa melewatinya, tapi kalau kita lihat di peta, seharusnya jaraknya tidak terlalu jauh ya?”


“Ya, jika kita terus bergerak lurus ke depan, tapi tanpa sihir khusus, kita akan seperti berjalan zig zag, Nona. Itu yang menyebabkan sulitnya melewati hutan ini, bahkan bagi penyihir sekalipun.”


“Tapi kompas ku tidak menunjukkan kita berubah arah.”


“Kompas yang kita punya umumnya itu hanya menujukkan arah mata angin saja, Nona! Di dunia ini, jarum akan selalu menujuk ke utara, tepat ke arah kota topaz itu, sedangkan jarum lainnya hanya sebagai pembantu arah saja, dengan sisi yang berlawanan dengan jarum adalah selatan, sebelah kirinya adalah barat dan sebelah kanannya adalah timur. Tapi, inti dari kompas itu hanya menunjuk ke arah kota itu saja, Nona.”


“Ya, aku paham, tapi kan dari derajat-derajat lainnya, kita jadi bisa tahu dari mana posisi kita, dan ini tidak berubah?!”


“Itu lah salah satu magisnya hutan ini, Nona! Mari kita lihat, jika kita berlajan ke arah barat, kompas akan terus seperti itu.” Shukoi mengajak Shumi berjalan ke arah barat, dan benar saja, sudah berjalan cukup jauh, kompas tidak bergeming.


“Wah, benar ya?! Artinya kita tidak akan bisa memastikan untuk masuk dan keluar dari titik yang sama?” Shumi terkejut. Shukoi hanya mengangguk. Mereka kembali berjalan ke utara.


“Jadi, bisa saja saat pulang nanti, kita keluar di negara Angkasa atau Hutan Putih ya?” tambah Shumi.


“Benar sekali, Nona! Tapi kita akan aman, tidak akan ada yang menjaga wilayah utara mereka itu, hanya kerajaan kita saja yang kebetulan ber-ibu kota di wilayah paling utara”

__ADS_1


“Baiklah, yang terpenting, utara tidak berubah!”


“Pernah ada yang meneliti, bahwa hutan ini memiliki suatu pusaran area yang berbeda-beda, mereka menyebutnya pusaran dimensi. Jadi bisa saja kita bertemu dengan orang yang masuk hutan dari sisi negara angkasa atau negara hutan putih.”


“Jika lewat udara? Kita punya armada tempur dengan balon udara, kan? Mungkin akan lebih mudah?”


“Sayangnya hal itu pun pernah dilakukan, Nona! Tapi, justru dari udara, kota Topaz tidak terlihat keberadaannya. Hanya hamparan hutan saja yang terus terlihat, walau menggunakan kompas, jarum akan terus menunjuk ke arah utara walau kita sudah mengikutinya.”


“Pusaran dimensi ,ya? Artinya memang hutan utara ini adalah gerbang menuju Kota Topaz itu, ya?”


“Benar, Nona.”


“Benar-benar terisolir ya?”


“Sebenarnya alasan itulah yang membuat para kaum quartz dulu menggunakan kota Throttling sebagai pemukiman dan meninggalkan kota topaz, sebelum terjadi penghianatan yang mereka lakukan itu yang akhirnya membuat mereka kembali kesana.”


“Kita, para human lah yang sebenarnya berkhianat, Shukoi!” ujar Shumi dalam hati mengingat sekilas cerita Raja Victor.


“Dulu, kota itu disebut The Fallen City of Topaz, karena dianggap suatu daerah yang suci dan sebagai pusat dunia ini. Kota itu ditinggali hanya oleh pendeta penyihir murni dari masing-masing kaum pendahulu yang murni, tapi saat ini para kaum quartz tinggal di sana juga.”


“Aku ingin melihat pusat dunia itu, Shukoi!”


“Ya, aku sempat mendengar info itu, jauh sebelum aku tahu bahwa ternyata aku keturunan kaum itu.”


“Oleh sebab itu juga, setelah mendengar cerita Anda, saya tidak ada alasan untuk menghentikan Anda, Nona! Karena jika memang begitu adanya, Anda mungkin bisa masuk kesana.”


“Semoga saja benar, tapi apapun hasilnya nanti, tidak akan menjadi suatu yang sia-sia, kan? Aku tetap butuh hal seperti ini sebagai penerus tahta, Aku tidak mau saat aku memimpin nanti, para Deputi itu membelot padaku dan melakukan pemberontakan hanya karena mengira aku lemah. Aku tidak ingin ada peperangan lagi, Shukoi!”


“Setuju, Nona! Walau saya terus berlatih tiap malam dan memang dari dibesarkan dari kemiliteran, saya tidak suka peperangan.”


Shumi cukup terkejut dengan jawaban itu, padahal yang ia tahu, Shukoi memiliki dendam atas kejadian yang menimpa keluarganya hingga ia pun masuk dunia militer. “Peperangan memang tidak akan pernah menyelesaikan masalah”, ujarnya.


9


“Tapi sayangnya jika kita sudah ditindas, menyerah tanpa melawan juga hanya memberikan jalan pada kejahatan, Nona.”


“Ya, jika sudah begitu memang tidak akan bisa dihindari sih, menundukkan hati sebelum perang terjadi itu yang sangat penting.”


Mereka terus berjalan. Selang beberapa menit, Shukoi menemukan sesuatu.

__ADS_1


“Sebentar, Nona! Akan saya ambilkan sesuatu!” ujarnya sembari berlari memajat sebuah pohon besar yang memiliki akar gantung. Ia dengan mudah sampai di atas pohon yang sangat tinggi itu seperti kaki dan tangannya memiliki sebuah lem yang sangat lengket.


Ia mengeluarkan senjatanya, sebuah katana kecil sepanjang lengan tangan manusia dan menusuk sebuah kantung yang ada di pohon itu. “Nona, mohon lemparkan botol minum anda!” ujarnya.


Shumi yang masih bingung tetap mengikuti permintaan Shukoi dan melemparkannya. Lemparan Shumi tepat ke arah Shukoi sehingga ia dengan mudah menangkapnya.


“Lemparan yang bagus, Nona! Terima kasih!” ujar Shukoi kemudian ia membuka tutupnya. Setelah itu, ia cabut katananya, dan air langsung mengucur cukup deras dari dalam kantung itu. Ia buru-buru mewadahinya dengan botol itu dan mengisinya hingga penuh bahkan luber.


Shumi terkesima. “Wah, aku tidak tahu jika pohon itu menyimpan air dengan cara seperti itu!” ujarnya, “Aku sunggung beruntung ditemani olehmu!”


Shukoi turun dan menyerahkan botol itu. “Pil anjing memang membuat kita berstamina dan tidak butuh makan, tapi akan membuat kita haus, Nona! Sepertinya ada banyak pohon seperti ini disini! Kita seharusnya aman," ujarnya.


Tiba-tiba, ada sesuatu yang menyerang ke arah Shukoi dari sebelah kanannya. Serentak, ia dan Shumi mencoba menghindarinya dengan melompat mundur ke belakang. Ia mencoba mencari tahu siapa yang menyerangnya tapi tidak terlihat. Ia mengeluarkan katananya lagi, kali ini kedua katana kembarnya. Tampak jelas seutas pita merah kecil di ujung kedua pangkal gagang katana miliknya.


“Siapa?” tanya Shumi yang juga mencari-cari sembari menyiapkan anak panahnya.


“Seperti lendir, Nona! Hati-hati! Ia masih disini!”


Serangan kembali dilancarkan, tapi kali ini Shumi dan Shukoi mengetahui arahnya. Sumber serangan berada di kanan dari posisi ia menyerang sebelumnya, tapi jaraknya agak jauh dari posisi mereka sehingga dengan mudah serangan itu dapat dihindari. Masih belum terlihat makhluk apa yang menyerang mereka, karena masih tersembunyi oleh semak belukar dan dahan-dahan pohon yang tumbang.


“Aku saja!” Shumi menarik anak panahnya, “Teknik Pernafasan Angin : Blow Up Strike!” Ia melesatkan serangan balasan dan Zaap…! Anak panah itu mengenai targetnya.


Muncul seekor laba-laba dari balik dahan pohon yang tumbang. Ia melompat kesakitan karena panah menancap di atas delapan matanya. Ukuran laba-laba itu cukup besar, setidaknya ia bisa menerkam 4 hingga 5 orang dewasa sekaligus. Warnanya juga gelap, tapi karena hutan itu juga gelap, warna asli hewan itu jadi tidak terlihat jelas.


“Laba-laba Hutan Utara! Hati-hati racunnya, Nona!” Shukoi memperingatkan, “Dan biasanya mereka berkelompok!”


Benar saja, muncul beberapa ekor laba-laba sama dengan ukuran yang bervariasi, bahkan ada yang lebih besar.


“Lebih baik kita pergi, Shukoi!”


“Baik, Nona!”


Serempak, mereka berlari ke utara dengan menggunakan dacht agar dapat berlari cepat. Begitu pula dengan gerombolan laba-laba itu yang mengejar dengan sangat cepat. Sesekali, Shumi harus melesatkan anak panahnya ke laba-laba yang cukup dekat dengan mereka, sedangkan Shukoi terus membuka jalan dengan memotong semak-semak agar jalan mereka tidak terhambat.


Tak lama mereka berlari, tiba-tiba ada yang muncul dari depan mereka dan menyerang dengan sesuatu semacam lidah tumpul yang memiliki lubang di ujungnya. Shumi menghindarinya ke arah kanan, sedangkan Shukoi melompat ke arah kiri hingga membuat keduanya berguling beberapa kali.


“Makhluk apa lagi ini?” tanya Shumi dalam hati.


(Bersambung ke part selanjutnya)

__ADS_1


__ADS_2