Magic Of Mana Book 1 : Tragedi Pertama

Magic Of Mana Book 1 : Tragedi Pertama
Chapter 6 : Hutan Utara (Part 2)


__ADS_3

Chapter 6 (Part 2)


Hutan Utara


“Anda luar biasa, Nona!” tiba-tiba suara yang Shumi kenal muncul dan membuatnya tersedak.


Shumi membalikkan badannya ke arah sumber suara dan berdiri. “Suu..Shukoi?!” ujarnya sangat terkejut, “ba..bagaimana bisa ka..kau disini? Sejak kapan???”


“Maaf, Nona! Tapi saya biasa menghabiskan waktu larut malam saya di savanna ini! Terkadang hanya tidur sambil menatap langit yang indah, terkadang saya berlatih hingga pagi," jawabnya tenang.


“Lalu? Kau melihatku berlari tadi?” tanya Shumi mulai panik karena rencananya bisa kacau.


“Ya sekitar beberapa meter sebelum Anda masuk ke hutan ini.”


“Berarti efek ramuan penghilangku sudah hilang sebelum aku sampai, ya?” Shumi berkata dalam hati.


“Anda kabur, ya?”


“Hah?! Ti..tidak..emm.. iya! Aku ingin pergi ke kota suci topaz, Shukoi!”


“Sebagai pengawal pribadi anda, saya harus membawa anda kembali!”


“Aku menolak! Aku mohon, Shukoi! Aku harus menemui saudariku disana! Aku harus tahu semuanya!”


Shukoi tampak bingung, “saudari? Maksud Nona?”


Shumi agak terkejut awalnya, tapi ia mengerti bahwa Shukoi pasti tidak tahu akan kebenaran tentangnya. “Baiklah, akan aku ceritakan, Shukoi! Ini karena aku percaya padamu, dan aku mohon apapun yang aku ceritakan, simpan saja sebagai informasi dirimu sendiri saja ya!”


Shukoi terdiam sejenak, kemudian berkata, “baik, Nona.”


Shumi pun menceritakan semua yang terjadi dan ucapkan Ayah angkatnya dan kembali menceritakan mimpinya tentang kelahirannya. Semuanya ia ceritakan tanpa ada yang ia tutupi lagi hingga membuat Shukoi terlihat tidak percaya dan bingung harus bereaksi apa.


“Ja..jadi…” tanya Shukoi masih tercengang.


“Ya, karena itulah aku ingin kesana! Dan aku juga ingin menanyakan tentang cincin ini!” Shumi mengeluarkan cincin Ibu angkatnya dari balik dadanya yang kini ia buat menjadi kalung, “cincin ini redup sekarang, dan ini yang membuat Sang Ratu terus hidup sebelumnya.”


Shukoi terdiam sebelum berkata, “ya, permata di cincin itu seharusnya berwarna jingga terang ”

__ADS_1


“Aku tidak memaksamu, tapi aku mohon! Kembalilah ke istana dan anggap aku tidak disini! Berpura-puralah kau tidak bertemu bahkan melihatku malam ini!” Shumi menyembunyikan kembali kalungnya.


“Tidak bisa, Nona! Mohon maaf sekali!”


Shumi kecewa, “kalau begitu, aku harus membuatmu pingsan disini!”


“Aku ingin menemani Nona Shumi!”


Shumi terkejut, “ta..tapi…”


“Saya mantan pasukan assassin kerajaan! Kemampuanku pasti sangat berguna untuk Tuan Putri! Walau setelah ini saya akan dihukum, bahkan jika dihukum mati pun, saya tetap bersedia menemani Tuan Putri!”


“Tapi aku bukan keturunan asli Sang Raja dan Ratu!”


“Anda tetap Tuan Putri yang harus saya lindungi!”


“Shukoi!”


“Jika Anda tidak bersedia, saya akan bunuh diri saja dari pada harus berbohong dan membiarkan Nona menghadapi bahaya sendirian.”


Shumi terdiam. Ia tahu Shukoi bukan orang yang hanya menggertak.


Shumi masih terdiam. Ia berfikir keras. Ia sangat terbantu dengan Shukoi menemaninya, bahkan jika Panglima Besar Arthur bersedia pun, ia akan sangat menginginkannya walau itu tidak akan mungkin. Tapi di lain sisi, ia juga tidak ingin hukuman kerajaan jatuh pada Shukoi saat pulang nanti.


“Saya mohon, Nona! Atau saya lebih baik mati sekarang juga ya?!”


“Baiklah! Kau memaksa!”


Shukoi tersenyum, “ini membuat saya lebih baik dari pada apapun. Terima kasih, Tuan Putri!”


“Aku yang harusnya berterima kasih, Shukoi! Tapi hentikan panggilan itu dulu! Panggil saja nama atau Nona masih tak apa! Ku tak mau ada sesuatu yang menyulitkan nanti.”


“Baik, Nona Shumi,” jawab Shukoi sembari sedikit membungkuk memberi hormat.


“Aku agak kelelahan, padahal aku sudah menggunakan ramuan penambah stamina tadi. Kita istirahat dulu, ya?”


“Jika begitu, pasukan kerajaan akan menemukan kita, Nona!”

__ADS_1


“Memangnya kamu tidak kelelahan? Bagaimana kau bisa kemari? Lewat pintu gerbang besar itu?Bukankah itu tidak pernah dibuka?”


“Lewat pintu gerbang selatan, kemudian memutari benteng kota, Nona! Kota Throttling memang dikelilingi padang rumput yang luas, tapi yang sepi dan sangat indah hanya pada sisi utaranya. Sangat jarang ada orang melintas atau berkeliaran disini.”


“Berjalan? Dan kau tidak lelah?”


Shukoi tiba-tiba mengeluarkan sesuatu dari jubahnya dan berkata, “saya selalu mempersiapkan diri jika bertemu musuh, jadi saya selalu mengenakan pakaian anti-sihir ini dan membawa senjata. Juga ini, Nona!” Ia menyodorkan sebuah obat berbentuk bulat dan berwarna gelap.


“Apa ini?”


“Pil Anjing, Nona!”


“Hah?! Tidak salah?” Shumi terkejut akan namanya.


“Saya memang tidak tahu nama aslinya, tapi para prajurit dari dulu menyebutnya demikian, Nona. Saya tidak akan tertidur selama 24 jam jika menelan 1 pil saja dan energinya sangat besar.”


“Baik, aku baru tahu kalian menggunakan ini, bukannya ramuanku?!”


“Ramuan buatan anda terlalu mahal dan ekslusif, Nona! Kami lebih baik menyimpan ramuan buatan anda jika benar-benar membutuhkannya. Dan maaf, ukurannya sulit untuk disimpan.”


Shumi sedikit tersinggung, "baiklah! Memang lebih praktis membawa ini, ya? Terima kasih Shukoi, akan aku minum.” Shumi langsung meminumnya dengan bantuan air. Rasanya sangat pahit dan tidak sedap. “Seperti makan daun busuk, ya?”


Shukoi hanya tersenyum dan menunduk. “Kita jalan perlahan saja, Nona," ujarnya.


“Baik, perlahan staminaku mengalir kembali, tapi ya untuk berjalan aku sudah cukup sanggup," ujarnya. Ia mencoba bangkit dan berdiri. “Ku kira aku akan menemui kuda, tapi adanya dirimu saja sudah cukup, kok,” candanya dan Shukoi juga tersenyum lebar.


Shukoi mengambil suatu ranting pohon kering berukuran cukup besar untuk ukuran sebuah ranting pohon, kemudian membalut ujungnya dengan kain pengikat rambut berwarna merah.


Shumi mengetahui maksudnya, kemudian mengeluarkan sebuah ramuan lagi, kali ini berwarna merah dan terdapat sebuah potogan kain kecil di dalamnya. Ia meneteskan isi ramuan itu beberapa kali pada kain yang telah melilit ujung ranting pohon tadi hingga basah.


“Anda pasti sudah sangat mempersiapkan segalanya, ya?” puji Shukoi sembari memeganggi pangkal ranting pohon, memperhatikan Shumi sedang mencoba menyalakan api dengan korek yang terus menerus ia gesekkan.


Beberapa saat kemudian, sebuah api kecil muncul dan dengan cepat Shumi membakar kain yang sudah basah tadi. Blam… api membakar kain itu. “Aku tidak yakin kita tidak akan menarik perhatian sesuatu di dalam sana dengan obor ini,” ujarnya.


“Sampai matahari tiba, seharusnya kita masih aman, Nona! Kita masih di bibir hutan, jadi seharusnya masih tidak masalah," jawab Shukoi. Kemudian, Shumi melanjutkan perjalanannya bersama Shukoi memasuki hutan yang sangat berbahaya itu.


* * *

__ADS_1


(Bersambung ke part selanjutnya)


__ADS_2