
Chapter 7 (Part 1)
Ogre dan Centaur
“Aaah…!” Shumi tanpa sadar berteriak saat sebuah anak panas yang cukup besar menancap telak pada lengan kiri atas salah satu ogre yang ia lihat.
Shumi langsung menutup mulutnya dan sadar bahwa persembunyiannya akan ketahuan. Shukoi juga langsung membantunya merunduk agar tetap tidak terlihat.
“Maafkan aku!” ujar Shumi lirih pada Shukoi yang menjawabnya hanya dengan anggukan.
“Manusia?!” ujar salah satu dari makhluk itu, entah para ogre atau sesuatu yang menyerang mereka karena kali ini, Shumi dan Shukoi masih merunduk agar tidak terlihat. Terdengar juga erangan kesakitan dengan suara yang berbeda, lebih bulat dan keras.
Shukoi dan Shumi kembali mengintip pelan-pelan. Mereka melihat para ogre berjalan mundur seolah ketakutan, termasuk yang terkena panah yang kini memegangi tangannya yang terluka. Berjarak sekitar sepuluh meter, terlihat juga satu makhluk yang sudah tidak asing lagi.
Ia bertubuh kuda, namun pada bagian yang seharusnya leher, malah berwujud setengah badan atas manusia. Wajah makhluk itu juga sangat menyerupai manusia, hanya saja bagian daun telinganya lancip ke atas, memiliki dua buah tanduk kecil di atas kepalanya. Secara keseluruhan, ukurannya juga dua kali lebih besar dari kuda biasa.
“Centaur?!” tanya Shumi pelan. Matanya takjub tapi juga mencerminkan keheranan, “kenapa dia menyerang para ogre? Apa mereka makanannya?”
“Tidak tahu, Nona! Tapi ia sadar kita ada di sekitar sini, bersiaplah!” jawab Shukoi.
“Kalian, berlari ke sini karena ingin melindungi para manusia? Sejak kapan kalian begitu? Pantas saja kalian berani menentang kami!” ujar centaur sembari berjalan mendekat ke arah para Ogre.
Para ogre sedikit kebingungan dan ketakutan. Mereka memang bersiap dengan senjata mereka yang menyerupai gada besar dari batang kayu, tapi gerak geriknya hanya untuk menggertak. Mereka juga terus mundur dengan waspada hingga posisi mereka sejajar dengan posisi Shumi berada saat ini tapi jarak mereka masih cukup jauh.
“Maafkan… Kami…” ujar salah satu ogre yang berdiri di samping kiri ogre yang terluka.
“Heh?!” jawab Centaur mengejek “permintaan maaf artinya kematian! Setidaknya salah satu dari kalian harus membayarnya!” Ia mengeluarkan sebuah pedang besar yang lebar bilahnya semakin membesar dari pangkal ke ujungnya. Bentuknya juga melengkung. Sangat mengkilat dan terdapat ukiran-ukiran ornament pada ujung pedang itu.
Para Ogre terlihat semakin ketakutan. Mereka terus berjalan mundur, hingga rimbunan pohon bambu, yang sama lebatnya dengan rimbunan bambu yang ada di tempat Shumi sembunyi, menghentikan langkah mereka. Kini posisi mereka ada di sebelah kanan Shumi, sedangkan Sang Centaur masih di sisi kirinya.
__ADS_1
“Mau sampai kapan kalian lari, hah?!” ujar Centaur lagi, ia siap menyerang.
Shumi tidak ingin ini terjadi. “Shukoi! Kita harus menghentikan ini!” ujarnya.
Awalnya Shukoi terlihat seperti ingin menolak, tapi ia mengurungkan niatnya. “Baik, Nona!” ujarnya. Ia kemudian mencabut katana kembarnya.
“Aku akan mencoba menghentikan langkahnya dulu!” ujar Shumi yang juga bersiap dengan panahnya. Ia berdiri dan berlari ke kanannya, saat pandanganya tidak terhalang rumpunan bambu, dengan cepat ia kembali berkonsentrasi dan menarik busur panahnya, “Teknik Pernafasan Angin: Circle Blow!”
Panah melesat cepat bersamaan dengan pusaran angin ke arah antara centaur dan para ogre. Hal ini membuat mereka semua terkejut, tapi hanya Centaur yang bereaksi. Ia mengangkat kaki kudanya bagian depan dan tangan manusianya melipat mencoba melindungi wajahnya.
Syuuut…! Tornado kecil tercipta dan membuat centaur dan para ogre terdorong ke belakang. Rumpun bambu menahan badan besar para ogre hingga melengkung nyaris patah karena beban tubuh mereka, sedangkan centaur terdorong mundur hingga sekitar 5 – 6 langkah kaki kudanya.
Belum hilang sepenuhnya tornado angin dari Shumi, dengan cepat Shukoi mencoba menyerang centaur dari sisi kirinya. Ia ingin melucuti senjata yang digenggam Centaur itu. “Teknik Pernafasan Tanah: Strong Impact!” ujar Shukoi sembari melompat tinggi dan menghajar pedang centaur itu dengan katana-nya.
Centaur yang tidak siap itu pun melepaskan genggaman pedangnya dan senjata itu terpental ke kanannya cukup jauh dan tergeletak di tanah. Ia juga ikut mudur dan sedikit berputar karena efek serangan Shukoi. Tapi, ia tidak sampai roboh. Ia justru mencoba menyerang balik Shukoi yang masih melayang di udara. Kepalan tangan kanannya pun meluncur ke arah Shukoi.
Shukoi seperti sudah memprediksi serangan itu. Ia berhasil menghindari pukul itu dengan berputar sehingga badannya mundur dan pukulan centaur itu hanya melesat beberapa senti saja dari tubuhnya, memukul udara. Begitu mendarat, Shukoi segera melompat ke arah kanannya, mengamankan senjata yang dijatuhkan Centaur tadi.
Shumi berlari dan melompat ke depan, menghalangi para Ogre yang semakin ketakutan dan masih duduk di antara rumpun bambu yang rusak. “Kami manusia yang tidak merasa punya hubungan dengan para ogre ini!” ujarnya.
Centaur membelalak. “Jika tidak punya hubungan, kenapa menggangguku?!” ujarnya.
“Karena kau ingin membunuh mereka! Apa salah mereka?” Shumi membalasnya dengan nada yang agak tinggi juga, “mereka kan sudah menyerah dan meminta maaf? Apakah mereka ini pembunuh juga?”
“Ti..tidak! Kami… bukan pembunuh!” potong Ogre yang berada paling kiri.
“Ka..kami tidak jahat!” sahut Ogre yang ada paling kanan.
“Centaur ingin kami mati!” tambah Ogre yang ada di kanan Ogre yang terluka.
__ADS_1
“Kami hanya tidak mau bekerja lagi!” ujar Ogre yang terluka.
“Sepertinya sudah jelas, Nona”, ujar Shukoi, “centaur ini memperbudak para Ogre!”
“Bukan kah seharusnya kalian memiliki kawanan sendiri?” tanya Shumi pada centaur, “kenapa kau mengganggu kawanan lainnya?”
“Sepertinya kalian ini bukan dari Negeri Angkasa, ya?” centaur itu malah balik bertanya, mengabaikan Shumi, “darimana kalian?!”
“Tak penting kami darimana! Kami hanya ingin kau pergi membiarkan para Ogre itu bebas!” jawab Shukoi mulai emosi karena lawannya semakin tidak sopan pada Tuan Putri.
“Ha..ha..ha…” tawa Centaur itu sangat besar, “kalian tidak tahu ya? Kami pada Centaur sudah memiliki hak untuk mendirikan pemukiman kami sendiri sebagai ganti pengabdian kami pada Kerajaan Angkasa! Jadi, memperbudak makhluk yang lebih lemah sudah lazim!”
Entah kenapa, Shumi merasa terbakar mendengar hal ini. Tapi, ia masih mencoba menahan emosinya. “Apa yang kalian berikan pada para Ogre yang kalian jadikan budak itu?” ujarnya.
“Kesempatan hidup! Ku rasa itu sudah sangat layak! Ha..ha..ha..” jawab Centaur itu, “makhluk bodoh seperti mereka, hanya butuh makan, **** dan tidur! Ha..ha..ha…”
Shumi membalikkan badannya. Ia menatap para Ogre satu per satu yang masih sangat ketakutan dan berkata, “apa kalian memiliki pilihan untuk tidak bekerja pada mereka?”
“Ti..tidak, No..na!” jawab Ogre yang berada di kanan ogre yang terluka.
“Sejak lahir, kami sudah disuruh bekerja, Nona! Kami tidak tahu orang tua kami,” tambah ogre di kanannya.
“Kami ingin bebas, Nona! Kami selalu disiksa! Kami sakit!” sahut Ogre yang terluka.
“Teman-teman kami banyak yang mati, Nona! Kami tidak mau mati, Nona!” tambah ogre sebelah kirinya.
Shumi kembali membalikkan badannya. Tatapannya kini tajam. “Kau dengar itu?” tanyanya pada Centaur.
“Sayangnya, tidak! Ha..ha..ha…” jawab Centaur berbohong, “kalian bukan dari Negeri Angkasa, lebih baik jadi budak ku saja! Kamu juga cantik lho Nona! Kau akan suka dengan badan gagahku ini! Aha..ha..ha…”
__ADS_1
Shukoi hendak bertindak, tapi Shumi memberi kode dengan tangannya. Keduanya kini sudah amat jengkel dengan Centaur ini. Kemudian, Shumi mengambil anak panahnya.
Bersambung ke part selanjutnya.