
Chapter 4 (Part 1)
Berita Lama
Tiga hari setelah mimpinya yang ketiga itu, keseharian Shumi dijalani seperti biasanya, seolah apa yang disampaikan oleh Modena merupakan kesimpulan dari semua kejadian ini. Shumi juga belum berbincang tentang itu dengan Ayahnya, karena malam harinya pada hari itu, Sang Raja hanya berpamitan padanya untuk pergi ke Provinsi Bumi Barat Daya untuk menghadiri pertemuan yang sangat penting terkait Kerajaan Hutan Putih.
Hal yang sama juga terjadi pada Ratu Stephanie dan Shukoi yang sudah tidak pernah menyinggung masalah mimpinya lagi. Zain juga sudah menjalani misinya dan berangkat berserta pasukannya pada pagi harinya sejak mereka bertemu terakhir di barak pasukan utama kerajaan. Ini membuat Shumi hampir melupakan semua keterkaitan pada mimpinya itu, walaupun ia masih sangat ingat bagaimana kejadian demi kejad ian dalam mimpinya itu.
Shumi kini cukup sibuk dengan penelitiannya dalam penemuan ramuan untuk penyakit Ibunya, bahkan selama tiga hari ini, ia hanya berada di labolatorium kerajaan beserta timnya. Ia hanya pergi ke ruang tidur Sang Ratu setiap jam makan untuk makan bersama dengan Ibunya itu.
Hasil investigasi dokter kerajaan kini berhasil mendapatkan petunjuk baru mengenai penyakit yang menyerang Sang Ratu. Hasil itu disampaikan pada penghuni istana sehari setelah kejadian mimpi Shumi yang terakhir itu. Hasil terbaru ini menyebutkan bahwa Sang Ratu mengalami penuaan secara fisik yang sangat cepat. Hal ini menyebabkan ia kehilangan tenaganya dan secara terus menerus kondisinya semakin memburuk. Namun, mereka masih belum mendapatkan informasi mengenai penyebabnya. Tapi, mereka mencoba mencari ramuan untuk memperlambat proses ini.
Shumi secara resmi langsung memfokuskan penelitian pembuatan ramuan itu. Oleh karena itulah, selama tiga hari ini, ia selalu ada di laboratorium kerajaan dan kembali ke istana pada larut malam. Namun, semua rasa lelah yang ia rasakan cukup membuahkan hasil. Ia berhasil membuat ramuan yang dimaksud dan memerintahkan timnya untuk mengambil bahan-bahannya dalam jumlah yang banyak dan memproduksinya. Hanya saja, ramuan itu menggunakan bahan-bahan yang cukup langka, sehingga akan sangat memerlukan waktu yang tidak sebentar untuk membuatnya lebih banyak lagi.
“Ibu, ramuan sudah berhasil dibuat dan sudah teruji cukup dapat menghentikan proses penuaan walaupun mungkin belum maksimal,” jelas Shumi yang dengan perasaan yang sangat senang, membawakan hasil penelitiannya itu langsung pada sang Ratu. “Tim sedang mencoba mencari bahan-bahan ini lagi, walau untuk saat ini hanya tinggal tersisa tiga dosis saja, Bu,” ujarnya lagi dengan sedikit rasa sesal.
Ratu Stephanie tersenyum lebar di dalam kondisinya yang tergeletak tak berdaya di tempat tidurnya. Ia kini memang tampak lebih tua dari tiga hari lalu. Kulitnya mulai keriput dan rambutnya mulai rontok. Ia semakin pucat dan lemah. “Terima kasih, anakku, kau sangat berbakat, Ibu bangga padamu,” pujinya.
__ADS_1
“Cepat sembuh, Ibu,” ujar Shumi kini duduk di kursi yang berada tepat di sisi tempat tidur Ibunya yang selalu ia gunakan saat makan bersama dengannya. Shumi mulai menitikkan air mata, “Shumi merindukan Ibu yang sehat.”
“Terima kasih, Shumi,” balas Ratu Stephanie. Ia juga mulai menitikkan air matanya. “Sudah, jangan menangis, Ibu akan sembuh dengan ramuan buatanmu,” ujarnya lagi.
Shumi memeluk Ibunya yang terbaring itu. “Shumi sangat sayang padamu, Ibu,” ujarnya. Ratu Stephanie mengusap punggung anak angkatnya itu perlahan dengan kekuatan yang ia punya saat ini.
Selang beberapa saat, Shumi kembali duduk dan membukakan tutup botol ramuan yang berwarna kuning terang yang ia gengam dari tadi. Ia perlahan menyuapinya ke dalam mulut Ibunya hingga Sang Ratu itu menghabiskannya tanpa tersedak walau meminumnya dengan posisi terbaring.
“Terima kasih, Shumi,” ujar Ratu Stephanie.
“Jangan berterima kasih, Bu, Itu kewajibanku sebagai seorang anak,” balas Shumi tersenyum, “semoga Ibu jauh lebih baik.”
“Kenapa Ibu menatap Shumi seperti itu?” tanya Shumi pada akhirnya.
Ratu Stephanie tertawa kecil. “Tidak apa-apa, Shumi," ujarnya, “Ibu ingin bercerita sedikit, jika kau mau mendengarkan.”
“Tentu saja, Ibu,” jawab Shumi, “aku akan selalu disini dan mendengarkan hingga ibu selesai bercerita,” Shumi mulai mempersipkan diri untuk mendengarkan.
__ADS_1
“Dulu, sekitar 45 tahun yang lalu, lahirlah seorang perempuan di dalam kondisi peperangan yang sangat dahsyat,” Ratu Stephanie mulai bercerita, “peperangan yang disebabkan hanya karena kesalahpahaman dan kekuasaan yang tak kunjung terpuaskan.”
Shumi mulai membayangkan apa yang diceritakan Ibunya dan terus memperhatikan.
“Bayi perempuan itu langsung dibawa pergi dan tidak pernah bertemu dengan orang tuanya karena menurut kabarnya, mereka terbunuh beberapa jam setelah melahirkannya di sebuah kota yang secara tiba-tiba diserbu oleh pasukan yang banyak dan kejam. Bayi perempuan itu entah bagaimana terselamatkan dan dibawa pergi dari kota yang telah luluh lantah itu,” lanjut Ratu Stephanie, “bayi itu dirawat dan dibesarkan oleh seorang wanita yang menyelamatkannya itu hingga ia berumur 12 tahun. Mereka hidup di sebuah gubuk kecil dekat pantai dan hanya berdua saja. Anak perempuan itu selalu mempercayai bahwa orang yang membesarkannya itu adalah Ibunya walau sejak pertama kali ingatan yang ada dalam pikirannya itu, wanita itu selalu berkata bahwa ia bukan ibunya dan terus menceritakan bahwa orang tua kandung sang anak telah tewas akibat perang.”
Shumi terus mendengarkan dan Ratu Stephanie melanjutkan ceritanya.
“Sampai ketika mereka kedatangan sejumlah pasukan dan seorang Raja yang saat itu memimpin negri itu. Kabar bahwa kemenangan kerajaan menghabisi pemberontakkan ternyata benar dan Sang Raja itu sendiri yang sengaja menemui wanita yang membesarkan anak perempuan tadi. Anak perempuan itu awalanya sangat ketakutan karena tidak banyak orang yang datang ke rumah mereka sebelumnya, apalagi dikawal oleh pasukan yang bersenjata lengkap seperti itu. Biasanya yang mampir ke gubuk mereka itu, hanya pedagang-pedagang yang benar-benar berpergian dari suatu tempat ke tempat lain demi hidup walau di dalam kondisi perang.”
Ratu Stephanie meminta bantuan untuk duduk dan Shumi membantunya. Ia kemudian melanjutkan ceritanya, “entah apa yang disampaikan oleh Raja itu, mereka kemudian membawa wanita dan anak perempuan itu ikut bersamanya. Mereka pindah ke sebuah kota yang baru kembali dibangun setelah luluh lantah. Kota itu adalah kota kelahiran sang anak perempuan. Mereka akhirnya diberikan rumah dan tinggal disana. Raja itu meninggalkan mereka dengan beberapa harta dan beberapa kali di bulan bulan mendatang, ia sering menemui wanita itu dan pergi bersama untuk satu hingga dua malam dengan menitipkan anak perempuan tadi kepada seorang wanita pengasuh dan penjaga yang dibawa oleh Sang Raja setiap ia berkunjung.
“Namun, hanya selang kira-kita tidak sampai dua tahun, mereka kembali kedatangan seseorang yang sangat penting di negri itu. Mereka kedatangan Sang Ratu, istri sah Sang Raja saat itu. Dan,” Ratu Stephanie menelan ludahnya sendiri sejenak, “dan di depan mata anak perempuan itu, wanita yang ia anggap Ibunya itu, ditusuk dan dicoba untuk dibunuh setelah terjadi sedikit percekcokan. Dalam keadaan tak berdaya, Sang Ratu tadi meninggalkan mereka. Beruntung malam itu ada sepasang penyihir musafir yang membantu mereka dan memberikan sihir penyembuhan.”
“Mereka kaum Quartz?” tanya Shumi memotong.
“Ya, mereka adalah pengelana keturunan kaum putih.”
__ADS_1
(Bersambung ke part 2)