Magic Of Mana Book 1 : Tragedi Pertama

Magic Of Mana Book 1 : Tragedi Pertama
Chapter 5 : Kaum Quartz dan Kerajaan Throttling (Part 2)


__ADS_3

Chapter 5 (Part 2)


Kaum Quartz dan Kerajaan Throttling


“… Dan kau tahu? Kerajaan yang kini lebih tepatnya disebut sebagai negara yang mengusir kaum quartz itu adalah kerajaan bumi”, Raja Victor selesai bercerita.


Shumi memahami semua yang ia dengar itu. Ia merasa memang ada beberapa perbedaan dengan apa yang ia baca lewat buku-buku di perpustakaan kerajaan yang dimaksudkan untuk menyamarkan keburukan yang pendahulunya lakukan dan terlihat lebih baik. “Berarti, cerita tentang kaum magician putih yang menghianati humans itu adalah cerita bohong?”, tanya Shumi.


“Ya, itu agar tidak terjadi sesuatu yang buruk dari dalam kita, bahkan dulu sempat ada pemberontakan karena alasan cerita yang sebenarnya ini”, jawab Raja Victor. “Tapi, Ibumu sejak kecil dulu sudah mencoba memperbaiki konflik ini dengan kaum quartz. Ia ingin kita kembali bersatu atau setidaknya menjadi sekutu lagi, Tapi, semua ini tidak berhasil, seperti apa yang ibumu ceritakan malam itu”.


Shumi terkejut. Ia mulai menduga bahwa Ayahnya salah paham tentang cerita yang Ibunya sampaikan saat itu. Ia ingin memberi tahunya, tapi Ayahnya memotongnya.


“Ini juga berkaitan dengan mimpi yang kau alami selama ini, Shumi”, potong Raja Victor sesaat ketika Shumi ingin bicara. Namun, karena ia menyinggung masalah mimpi Shumi yang dulu sempat terhenti, membuat Shumi mengurungkan niatnya dan ingin lebih mengetahui tentang mimpinya lagi.


“Mimpiku?”, tanya Shumi, “Berarti mimpiku bukan hanya mimpi buruk biasa?”.


“Ibumu berarti belum membeberkan semuanya, ya?”, jawab Ayahnya, “Tapi, ini memang sudah saatnya, tidak ada yang perlu aku khawatirkan lagi. Ayah tidak tahu kau akan seperti apa setelah mendengar ini, Shumi. Tapi, dengan cerita dan isi perkamen dari Ibumu itu, Ayah rasa ia pun sudah ingin membeberkan ini”.


“Memangnya Shumi akan menjadi seperti apa, Ayah?”, tanya Shumi lagi. “Jika ini terkait pertanyaan Ibu malam itu, Shumi sudah berjanji akan terus berusaha menjadi penerus tahta yang cakap seperti wanita dalam cerita itu”. Shumi memancing agar Ayahnya terus bercerita tanpa ragu dan memberitahu bahwa ada kesalah-pahaman terkait cerita Ibunya dengan maksud Ayahnya itu.


“Ayah sedikit lega dengan itu, nak!”, jawab Ayahnya.


“Jadi, apa yang terjadi pada mimpiku, Ayah?”, tanya Shumi kembali penasaran.


“Pertama, maafkan Ayah karena telah menyuruh Modena dan yang lain berbohong padamu, tepatnya mengalihkan pemikiranmu tentang kenyataanya”, jelas Raja Victor, “Itu semua juga terjadi karena kami khawatir akan terjadi sesuatu padamu dan Ayah juga tidak menyangka Ibumu akan pergi secepat ini”.


“Jadi apa yang dijelaskan oleh Shukoi tentang Esper dan Indigo adalah kenyataannya?”


“Dan itu sebenarnya telah terjadi sejak kamu kecil dulu, mungkin kamu belum ingat saat itu dan kami tahu itu adalah kenyataan yang telah terjadi sebelumnya. Lagi-lagi, cincin itu yang sepertinya berhasil menahan kemampuanmu selama ini karena kejadian saat itu terjadi ketika Ibumu pergi beberapa hari tanpamu”. Raja Victor mengalihkan pandangannya. “Kita bahkan sempat terkejut kembali karena efek itu kembali padamu”.

__ADS_1


Kali ini Shumi terkejut. Pikiran yang selama ini lenyap, kembali merasukinya perlahan. Ia hanya terdiam tanpa kata dan tidak menyangka juga Ayah dan Ibunya tega menyembunyikan hal itu.


“Berarti Ayah membiarkan sahabat Ayah tewas begitu saja? Kita bisa menyelamatkan anak dan Ibunya, Ayah!”, ujar Shumi pada akhirnya memecahkan keheningan sesaat. Matanya mulai berkaca-kaca.


“Itu adalah kejadian 17 tahun yang lalu, Shumi”, jawab Raja Victor, “dan wanita yang dimaksudkan oleh Ibumu adalah istri orang yang tewas akibat serangan-serangan itu. Dia adalah penyihir kaum quartz yang memiliki impian yang sama dengan Ibumu untuk menyatukan kembali sesuatu yang dahulunya bersatu itu. Ibumu mengidolakan sifat-sifat wanita itu”.


Shumi terdiam. Pikirannya ternyata benar, Ayahnya salah paham dengan cerita yang sebenarnya disampaikan Ibunya malam itu. Namun, justru ini menjadi suatu info terbaru untuknya, terutama mengenai mimpinya.


“Ya, kau adalah seorang indigo, nak!”, lanjut Raja Victor, “Dan sekarang adalah waktu yang tepat untuk membuka permaken itu sebelum aku jelaskan apa yang terjadi sebenarnya”.


Shumi seperti terkena sihir yang membuatnya tidak dapat berbicara. Pikirannya berputar tak ada tujuan. Ia kemudian hanya menggerakan badannya untuk membuka ikatan perkamen dan mencoba mengetahui isi di dalamnya.


Tanggal 17 bulan Leo tahun 918 -Sangat rahasia-


Bersamaan surat ini, Sang Ratu memerintahkan bahwa beritakan ke seluruh penjuru negri bahwa Sang Ratu telah mengandung seorang anak dan akan melahirkan sembilan bulan lagi. Keberadaan Sang Ratu akan disembunyikan hingga anak itu terlahir dan berumur tiga tahun. Penghapusan berita tentang kenyataan itu adalah kewajiban dan hukuman mati bagi siapa saja yang mencoba membicarakan dan mempertanyakannya serta hadiah 1000 keping emas bagi yang dapat membuktikan pelaku yang merusak rahasia ini.


Tertanda,


Shumi membacanya dua kali karena merasa bingung dengan pikiran yang mengisi kepalanya saat ini. “Apa maksudnya, Ayah?”, tanyanya, “Mengapa kelahiranku dirahasiakan seperti ini? Ini sekitar 17 tahun yang lalu, kan?”.


“Iya, di bulan yang sama dari kelahiranmu”, jawab Raja Victor. “Ayah harap tidak ada perasaan atau setidaknya tidak ada perubahan pada dirimu, nak. Ayah dan Ibumu sudah berjanji, tapi memang Ibumu sadar bahwa suatu saat kau harus mengetahui semuanya”


“Apa maksudnya, Ayah?”


“Seharusnya, usiamu sekrang adalah 18 tahun, Shumi!”.


Shumi terkejut hebat. “Artinya aku sudah ada saat Ibu mengaku bahwa ia sedang mengandung. Kenapa?”, tanyanya dalam hati.


“Ya, semua perintah itu bertujuan agar khalayak umum mengira bahwa kau benar-benar anak kami”, jawab Raja Victor membaca isi hati Shumi.

__ADS_1


Seketika, Shumi merasakan seperti tersambar petir yang dahsyat. Ia membelalak dan terkejut bukan main. Pikirannya seakan mencengkram otaknya dan jantungnya terasa diperas hingga hancur lebur. Ia seperti mendidih hingga akhirnya ia merasa sangat amat lemas. Tangannya gemetaran seperti orang yang sedang demam.


“Ma..maksud..maksud Ayah… Aku bu..buk..bukan…”, Shumi mencoba sekuat tenaga untuk berbicara, “bukan anak.. anak kandung…ka..kalian?”.


Raja Victor terlihat menahan air mata yang ia sendiri tak sadar sudah memenuhi kantung matanya. “Ayah dan Ibumu sangat amat menyayangimu, nak! Bahkan seperti anak kandung kami sendiri! Bukan hanya karena janji yang harus ditepati, tapi memang kami sangat mencintaimu, Shumi!”. Akhirnya Sang Raja menangis.


Pemandangan ini membuat Shumi semakin bingung. Ia belum pernah melihat Ayahnya menangis, tapi kini, ia bahkan melihatnya menangis tersedu-sedu, tangisan yang dapat ia rasakan benar-benar berasal dari hatinya yang terdalam. Tapi, dilain sisi, ia juga terpukul tentang kenyataan yang harus ia tahu ini, bahkan timbul kekesalan juga karena ia baru tahu saat usianya sebesar ini. Ia berfikir bahwa akan lebih baik jika ia diberi tahu semenjak ia kecil, sama seperti wanita yang diceritakan Ibunya dimalam sebelum kematiannya.


“Lalu, Shumi… Siapa orang tua kandung Shumi?”, tanya Shumi berjarak agak jauh dari perkataan Sang Raja tadi. Air mata juga membasahi pipinya.


“Wanita yang diceritakan Ibumu, Ia bernama Scarlet dan ia adalah Ibu kandungmu, sedangkan pria, sahabat kami juga yang ada di dalam mimpimu, adalah Ayahmu, Shumi”


Shumi sekali lagi merasakan tubuhnya seperti tersambar petir, bahkan kali ini kepalanya terasa sangat sakit. Ia kembali teringat kejadian yang ia lihat di dalam mimpinya saat itu. Pria yang mencoba melawan, tapi orang yang dihadapinya memiliki nafsu membunuh yang lebih tinggi. Pria yang sangat ia khawatirkan keadaannya saat itu.


“A..apakah bayi yang dibawa wanita itu adalah aku?”, tanya Shumi lirih hampir tidak jelas.


“Ya, mungkin kau melihatnya juga dalam mimpi itu”, jawab Raja Victor yang mulai dapat mengontrol air matanya. “Maafkan aku dan istriku, Shumi! Mungkin tidak pantas lagi kami dipanggil orang tuamu lagi”.


Shumi terdiam. Ia masih teringat mimpi yang tampak begitu nyata lagi sekarang. Bagaimana ia dilahirkan, ia dibawa lari oleh Ibunya. Ia juga mengingat jelas wajah wanita yang harusnya ia panggil Ibu dan bagaimana Ayah kandungnya melindunginya hingga ia harus tewas terbunuh. Bahkan, hujan yang ia rasakan saat itu begitu nyata hingga saat ini ia merasakan sensasi dinginnya yang menusuk hingga ke tulang-tulangnya.


“Ibu kandungmu menyampaikan bahwa ini satu-satunya cara untuk menyelamatkanmu dari kemurnian kaum quartz yang tidak memperkenankan seorang human menjadi keturunan mereka! Ia hanya mempercayai kami untuk mengasuhmu dan menjaga keselamatanmu!”, jelas Raja Victor. “Kebencian mereka terhadap humans begitu besar, walau itu adalah darah mereka sendiri”.


Beberapa saat keheningan mengisi kamar itu lagi hingga Raja Victor menyeka air matanya. “Aku harap kau tetap mau menerima kenyataan ini dan mengingat pesan istriku!”, ujarnya.


“Aku tidak memaksamu menjawabnya sekarang, Shumi. Tapi, sebagai seorang raja saat ini, dan suami dari orang yang membesarkanmu, Aku meminta agar kamu tetap mau menjadi anak kami dan suatu saat nanti akan meneruskan tahta kerajaan ini sesuai harapan mendiang Ratu”, ujar Raja Victor sembari bangkit dari duduknya. “Dan perlu aku sampaikan bahwa yang meminta semua ini agar dirahasiakan adalah Sang Ratu. Emm.. Mungkin lain kali akan ku ceritakan kenapa aku akan selalu mengikuti perintahnya dan sejarah tentang cincin itu, tapi saat ini mungkin belum penting bagimu”.


Kemudian Sang Raja berjalan perlahan membuka pintu kamar Shumi. Ia sedikit menoleh ke arah Shumi sejenak saat di ambang pintu itu. “Aku menyanyagimu seperti anak kandungku sendiri, Shumi”, ujarnya lirih. Ia melihat tatapan Shumi masih kosong memandangi cincin perak di tangannya yang bergetar di atas meja saling bergulat satu sama lain. Dan Sang rajapun pergi meninggalkan anak angkatnya itu sembari menutup pintu kamarnya rapat-rapat.


* * *

__ADS_1


(Bersambung ke part 3)


__ADS_2