Magic Of Mana Book 1 : Tragedi Pertama

Magic Of Mana Book 1 : Tragedi Pertama
Chapter 8: Kota Suci Topaz (Part 2)


__ADS_3

Chapter 8


Kota Suci Topaz (Part 2)


“Lihat, aurora sudah terlihat! Artinya kita sudah semakin dekat,” ujar Ricky yang berjalan pada posisi tepat di belakang Roah dalam barisan rombongan Shumi dan membuat semua orang di belakangnya menoleh ke arah langit, mencoba menelusik celah dedauan yang rindang.


Malam kembali tiba karena di musim dingin, matahari hanya beberapa jam saja berkunjung ke daratan bagian utara ini. Shumi dan semua rombongannya masih terus berjalan dan hanya beberapa kali berhenti sejenak hanya untuk mengambil air minum dan merenggangkan otot kaki mereka.


Hutan kali ini kembali lebat, tapi didominasi oleh tumbuhan merambat yang menjulang tinggi dan tanaman-tanaman pakis raksasa. Bebatuan yang ada juga telah habis ditutupi semacam lumut dan alga. Terkadang, tetes-tetes air terlihat membeku karena dinginnya udara di sekeliling mereka.


“Artinya malam ini juga kita akan tiba di sana?” tanya Shumi.


“Ya, tidak sampai tiga jam kita seharusnya sudah sampai,” jawab Ricky yang masih mengawasi Roah yang terus membuka jalan di depannya.


Shumi menoleh ke belakang. Ia mendapati Shukoi lalu para ogre di belakangnya. Ia mengangguk ke arah Shukoi dan dibalas anggukan pula, kemudian ia kembali mengarahkan pandangannya ke depan.


“Mungkin sesampainya di sana kita harus berpisah,” ujar Shumi, “kemungkinan yang bisa masuk hanya aku seorang, walau aku tak tahu akan ada penjagaan seperti apa disana.”


“Ya, kau sudah tahu kan mencari siapa di sana, kan? Aku hanya menitipkan hal itu saja!” sahut Ricky, “aku akan menunggu di bibir hutan ini.”


Shumi terdiam. Ia tak menyangka Ricky sudah akan berencana melakukan hal itu. Ia pikir, Ricky akan bersi keras untuk masuk ke kota itu. Artinya, Shumi tidak jadi meminta Shukoi untuk membantunya memecahkan keras kepalanya Ricky itu.


“Baiklah,” tanggap Shumi.


Tiga jam lebih sedikit mereka berjalan dan akhirnya yang mereka nantikan telah menampakkan wujudnya. Shumi sampai berlari mendahului Ricky dan Roah yang ada di depannya saat keluar dari hutan utara itu dan memasuki hamparan padang rumput yang hijau, tapi sangat berkilat-kilat.


“Akhirnya!” ujar Shumi agak lantang.


“Dingin sekali di sini! Tapi, rumput itu tetap hijau walau sudah dilapisi es, ya?!” ujar Ricky menghiraukan Shumi yang sedang bergembira.


Mereka semua keluar dari hutan dan berhenti di bibir hutan itu. Tampak ratusan meter di depan mereka, sebuah himpunan bangunan-bangunan yang dikelilingi oleh benteng kayu bulat besar, mirip batang pohon yang sangat besar dan dibuat runcing pada bagian ujungnya. Benteng itu terlihat berbentuk seperti melingkari kota itu, mirip seperti benteng di Kota Throttling.


Dari kejauhan saja mereka bisa melihat sekeliling kota itu yang menggunung pada bagian pusatnya. Terlihat juga aurora tepat di atas kota itu dan sesekali melintasi langit di atas mereka berdiri saat ini hingga ke atas hutan. Kota itu dipenuhi lampu-lampu seperti obor pada bagian luar setiap bangunannya dengan warna api yang berbeda-beda sehingga tampak sekali cahaya kota itu, tidak seperti Kota Throttling yang cukup gelap di malam hari seperti ini.


“Kota suci Topaz,” ujar Shumi menatap kota itu dengan mata yang berkaca-kaca.


“The Fallen City of Topaz!” koreksi Ricky.

__ADS_1


“Apapun namanya dan sejarahnya!” balas Shumi, “aku sangat takjub! Ini kota pertama yang aku kunjungi!”


“Hah?!” Ricky tiba-tiba terkejut.


Shumi salah tingkah. “Emm, maksudku, kota pertama kali yang aku kunjungi dengan cahaya yang terang seperti ini, dan tentu saja tingkat kesulitan yang sangat tinggi!” ujarnya mencoba kembali menutupi kebohongannya. “Aksesnya, kau tahu?” tambahnya.


“Ha..ha..ha…! Ya aku juga, baru kali ini sampai di sini dengan kesulitan seperti ini! Cukup merepotkan, tapi ya mau tak mau, kan?” tanggap Ricky.


“Jangan seperti itu! Kau seperti tidak ikhlas mencari orang yang bisa menyembuhkan Ibumu!” bentak Shumi dan Ricky hanya menyengir sembari menggaruk bagian belakang kepalanya.


“Nona, kita baiknya mencoba melihat sekeliling dulu. Saya khawatir penjagaan mereka di malam seperti ini!” ujar Shukoi.


Shumi menyetujuinya dengan anggukan, tapi Ricky menghelanya.


“Tidak perlu! Mereka tidak menyiapkan penjagaan apapun seperti kota kalian pada umumnya! Kota ini sudah sangat terlindung dengan lapisan-lapisan sihir kuno yang hanya mengizinkan orang yang memiliki darah kaum quartz untuk masuk!” jelas Ricky.


Shumi menajamkan kedua alisnya dan berkata, “kau yakin? Tahu dari mana kau soal itu?”


“Begini saja, kita sembunyi dulu saja di dalam hutan, lalu biarkan salah satu Ogre mencoba melintasinya, sehingga kita tahu juga dimana lapisan itu dimulai! Ogre kan tahan akan sihir, jadi akan lebih aman! Dan juga, para penjaga tidak akan curiga jika yang mencoba menembus pelindung itu adalah seorang ogre yang tersesat, kan?” jelas Ricky.


Semua rombongan kembali memasuki hutan tapi dengan jarak yang masih bisa memperhatikan yang terjadi pada kota itu. Moah lah yang terpilih menjadi aktor rencana Ricky itu sehingga hanya dia yang masih berdiri di sisi padang rumput dan menghadap ke arah kota.


Ricky memetikkan jarinya, tanda agar Moah memulai misinya. Ia berjalan perlahan menuju Kota Topaz dan mulai melewati padang rumput itu. Ia terus berjalan hingga cukup jauh hingga kira-kira di tengah antara benteng kota dan bibir hutan utara. Ia terhenti seperti melihat sesuatu dan menoleh balik.


Ricky memberi isyarat dengan tangannya untuk menyuruh ogre itu untuk terus berjalan. Sang ogre pun kembali berjalan dengan ragu-ragu dan…


Clang…! Suara seperti kaca yang pecah timbul dan bersamaan juga dengan terpentalnya ogre itu beberapa langkah ke belakang. Suara itu cukup keras sehingga menghancurkan keheningan malam. Sang ogre terhuyung dan jatuh duduk, masih menghadap ke arah Kota.


Tak lama kemudian, terlihat ada cahaya putih menyala di balik benteng kayu kota, tepatnya di sela-sela runcingan benteng kayu itu di sisi sebelah kanan sang ogre. Lama kelamaan cahaya itu menyorotinya yang masih duduk hingga membuat mata ogre itu terganggu.


Moah menyipitkan matanya dan mencoba menghalau sorotan sinar itu dengan tangannya sembari mencoba bangkit perlahan. Kemudian, ia berbalik dan kembali berjalan ke dalam hutan. Sepanjang perjalanannya itu, sorotan sinar putih terus mengawasinya.


Sang ogre masuk kembali ke dalam hutan dan beberapa saat kemudian, sorotan sinar itu lenyap. Malam kembali sunyi.


“Cahaya pengawas itu hanya akan muncul jika ada yang tidak berhasil menembus lapisan itu. Jadi, jika kau bisa melewatinya, maka sinar itu tak akan muncul, Shumi!” ujar Ricky mencoba menyimpulkan hasil telaahnya.


“Baiklah, aku akan mencobanya, tapi tidak dengan jalur yang sama!” tanggap Shumi. Ia kemudian bangkit dan bersiap. Ia melepaskan tas pinggangnya, kemudian merapatkan mantelnya. Ia mengambil sebuah botol ramuan bening dari tasnya, bentuknya mirip botol parfum.

__ADS_1


“Ramuan apa itu?” tanya Ricky.


“Ini, Shukoi! Aku titip ini!” ujar Shumi memberikan tas pinggangnya. “Tolong jaga ini, ya!” tambahnya. Ia kemudian menyemprotkan isi dalam botol yang ada di tangannya ke seluruh badannya hingga habis.


Shukoi dan Ricky terus mengamati. Beberapa saat kemudian, perlahan Shumi menghilang dan membuat Ricky terkejut.


“Luar biasa! Kau ahli dalam membuat ramuan, ya?” puji Ricky terkesima.


Shumi yang tidak memperdulikan pujian Ricky langsung bersiap. “Aku pergi!” ujarnya kemudian berbalik berlari keluar hutan.


Begitu ia menginjakkan kakinya di padang rumput yang terlapis air yang membeku, ia berlari ke arah barat. Ia menoleh sedikit ke posisi kawanannya berada dan mereka mengira ia masih berlari lurus sejalur dengan Moah tadi dan ini membuatnya tersenyum.


Ia berlari dengan cepat. Tiba-tiba ia teringat gubuk dan suasana di mimpinya saat dirinya terlahir dulu. Sempat ia ingin mencari gubuk itu, tapi ia sadar bahwa kejadian itu sudah sangat lama, kemungkinan sudah dimusnahkan, sehingga ia mengurungkan niatnya. Ia berlari hingga sekitar lima menit dan tidak lagi melihat kawan-kawannya, kemudian berhenti.


“Semoga berhasil!” ia berjalan agak cepat menuju kota. Ia terus berjalan, hingga melihat seperti ada selubung transparan yang membumbung tinggi seperti kubah. Selubung itu melindungi kota yang ada di dalamnya. “Ini yang membuat Moah berhenti sesaat, karena dengan jarak yang dekat, selubung ini terlihat,” ujarnya pada diri sendiri.


Ia kembali melangkahkan kakinya perlahan, mencoba membenturkan dirinya pada selubung itu, dan…


“Berhasil!” ujarnya dalam hati. Ia melewati selubung itu. Ia menoleh ke belakang untuk memastikan dan memang melihat selubung itu kini ada di belakangnya. Ia senyum sendiri puas akan hasil yang ia telah lewati.


Ia kembali melangkahkan kakinya ke depan. Kini ada selubung lagi dengan bentuk dan warna yang sama. Ia penuh percaya diri dan terus melangkah dan berhasil melewati tidak kurang dari lima lapisan selubung.


Setelah melewati beberapa lapis selubung tadi, Shumi melihat seperti tidak ada lapisan selubung lagi dan benteng kayu yang ada di hadapannya sudah menghalanginya melihat isi kota. “Sudah sangat dekat!” ujarnya.


Penuh percaya diri, ia kembali berjalan hingga benar-benar dapat menggapai benteng kayu itu. Ia sangat gembira akan hal ini. “Tapi aku harus mencari pintunya dulu!” ujarnya lirih.


Ia kembali berjalan agak cepat ke arah barat menelusuri benteng kayu di sampingnya. Ia terus berjalan cukup lama hingga akhirnya berhasil menemukan pintu kayu besar yang tertutup rapat yang berada sedikit menjorok ke dalam. Ia berjalan masuk menghampirinya.


“Pintu itu sepertinya harusnya terbuka ke luar,” ujarnya dalam hati sembari mengamati engsel pintu yang terbuat dari besi di kedua ujungnya, “bagaimana aku bisa masuk?”


Shumi kembali berjalan, mencoba mencari celah dengan meraba-raba pintu itu, tiba-tiba…


Clang…! Suara kaca pecah kembali terdengar dan membuat Shumi terpental ke belakang hingga sejajar dengan barisan benteng kayu di luar. Benturan itu sangat kuat hingga perlahan Shumi tak kuasa menahan kelopak matanya untuk menutup.


* * *


(bersambung_

__ADS_1


__ADS_2