
Chapter 7 (part 2)
Ogre dan Centaur
Shukoi hendak bertindak, tapi Shumi memberi kode dengan tangannya. Keduanya kini sudah amat jengkel dengan Centaur ini. Kemudian, Shumi mengambil anak panahnya.
“Boleh saja, jika kau bisa mengalahkan kami berdua! Tidak, kami berenam!” ujar Shumi.
Para Ogre sedikit mengeluarkan suara seperti tercekik. Mereka sedikit terkejut.
“Ayo, kalian tidak bisa hanya diam saja kan? Kalian kuat! Aku yakin kalian bisa melawan!” ajak Shumi, “jangan biarkan dominasi melemahkan kalian! Jika tidak ingin mati, bertarunglah! Setidaknya kalian mati terhormat karena melawan ketidak-adilan!”
Para Ogre kebingungan. Shukoi tersenyum juga bersiap menyerang, emosinya lebih stabil sekarang. Perlahan Para Ogre bangkit dan menggenggam erat senjata mereka.
“Wah..wah… Jangan remehkan saya!” bentak Centaur. Ia mengangkat kedua tangannya ke depan dan menunjukkan telapak tangannya. Jari kelingking hingga jari tengah kedua tangnnya dilipat, tapi ujung telunjuk dan ibu jarinya di satukan sehingga menjadi bentuk seperti belah ketupat.
“Hati-hati! Centaur memang bisa menggunakan sihir!” Shukoi berlari ke arah Shumi.
“Thunder!” ujar Centaur itu, perlahan dari formasi jari-jarinya, muncul listrik-listrik kecil dan kemudian, Zuaaarr…. Sebuah petir kecil menyambar ke arah Shumi.
Untungnya, Shukoi lebih dulu merangkul Shumi dan merobohkan dirinya bersama ke sisi kiri Shumi berdiri. Tapi, petir itu terus menyambar dan mengenai Ogre yang berada di kanan ogre yang terpanah tadi. Anehnya, ia tidak merasakan atau terluka sedikitpun.
Shumi bangkit bersamaan dengan Shukoi. Ia sedikit bingung dengan apa yang terjadi.
“Sial!” ujar Centaur menurunkan tangannya.
“Ogre tidak mempan sihir seperti itu, rupanya?! Itu yang membuat dia repot-repot mengejar mereka dan mencoba melukainya secara fisik” jelas Shukoi.
Centaur berlari ke arah pedangnya tergeletak. Dengan sigap, Shukoi juga berlari mencoba menghelanya. Sayangnya, Centaur lebih dulu mendapatkannya. Ia mengambil gagang pedangnya dengan tangan kirinya kemudian berlari lagi menuju para ogre.
“Jika aku bisa membunuh kalian, pekerjaan ini sudah selesai!” ujar Centaur mencoba kembali menyerang Ogre yang masih tidak bergeming. Ia berlari dengan cepat dengan kaki-kaki kudanya yang kuat.
Shukoi menyerang. Ia melompat lebih tinggi dari pada tubuh Centaur. “Teknik Pernafasan Tanah: Cut Down!” ujarnya sembari menebas ke bawah dengan kedua katana-nya.
“Sharp Puch!” balas Centaur dengan meninju ke arah Shukoi dengan tangan kanannya. Kepalan tangannya beradu dengan katana Shukoi dan terdengar suara seperti logam yang beradu.
Shukoi terpental ke atas dengan posisi yang sama. “Cih!” ujarnya dengan mengeratkan gigi-giginya.
Bersamaan, Centaur melemparkan pedangnya dengan memutarkannya ke arah para Ogre yang hanya terdiam. Pedang itu berputar liar bagaikan gangsing yang siap melukai siapapun yang ada di hadapannya.
__ADS_1
Shumi langsung mengambil tindakan. Dengan cepat ia memposisikan, menarik, kemudian melepaskan anak panahnya, “Teknik Pernafasan Angin: Blow Up Straight!” ujarnya.
Panah Shumi melesat dan tepat mengenai pedang centaur, membuatnya terpental dan melayang-layang tidak berenergi lagi. Begitu juga dengan panah Shumi yang melayang d tempat yang sama. Kedua senjata itu hendak turun oleh gaya gravitasi.
Shukoi kembali mencoba menyerang. Kali ini, Shukoi memutar ke depan dan mencoba menendang centaur yang masih ada di bawahnya. Ia berteriak sekuat tenaga dan memusatkan kekuatan datch pada kaki kananya. “Drop Kick!” teriaknya.
Centaur itu menyilangkan kedua tangannya menangkis tendangan kuat dari Shukoi hingga badannya sedikit membungkuk. Ia menggeram menahan tendangan itu.
“Serang dia!” teriak Shumi kepada para ogre yang hanya diam saja. Tapi, teriakannya menyadarkan mereka.
Para ogre secara bersamaan mulai bangkit dan berlari ke arah Centaur yang masih berurusan dengan Shukoi. Mereka berteriak mencoba menyerang dengan tongkat pemukul mereka.
“Sial!” Centaur melempar Shukoi hingga membuatnya terpental ke belakang. Ia buru-buru membalikkan badannya bersiap menghadapi serangan para ogre.
Para ogre sempat terkejut dan ingin menghentikan niatnya. Tapi, Shumi berteriak lagi, “jangan takut! Hajar dia! Limpahkan segala kemarahan kalian! Kalian lebih kuat jika bersama!”
Para ogre mendengarkan Shumi. Mereka terus berlari dan mengangkat senjata mereka dan…
Buagh…Buagh…Buagh…Buagh…
Centaur berhasil menangkis dua dari pukulan kayu para ogre, tapi dua serangan lainnya tepat mengenai badan kanan dan kirinya. Ia mengerang kesakitan, “Agrh…!” kemudian ia terhuyung mundur.
“Kurang ajar! Rasakan ini, makhluk rendahan!” bentak Centaur itu.
Shukoi yang sudah mendarat saat para ogre itu menyerang lawannya, mencoba menggagakan serangan Centaur itu. Tapi sayangnya, ia kalah cepat. Tendangan kedua kaki kuda itu telak mengenai dada ogre yang berada di samping ogre yang terkena anak panah. Ia terpental sekitar dua- tiga langkah dan tersungkur kesakitan.
Slash…Slash…
Tiba-tiba Shukoi menebas punggung centaur itu. “Teknik Pernafasan Tanah: Bear’s Claws!” ujarnya. Darah segar berwarna merah terpercik ke udara dari punggung centaur itu dan tersungkur ke depan mencium tanah.
Para ogre membelalak ketakutan hingga mereka mundur perlahan. Shumi juga langsung menutup mulutnya karena tidak menyangka Shukoi benar-benar ingin menghabisi nyawa centaur itu. Sedangkan Shukoi, ia kini berdiri menempelkan ujung katana yang berada di tangan kanannya tepat di leher centaur yang mengerang kesakitan.
“Mau pergi, atau ku lubangi lehermu!” ujar Shukoi. Hawa membunuhnya masih sangat terasa oleh Shumi, padahal jarak mereka agak jauh.
Para ogre gemetaran dan perlahan mundur hingga salah satu dari mereka tersandung dan terjatuh duduk dengan tatapan terus kepada Shukoi.
“Ba..baik! Maafkan aku! Aku mengaku kalah, biarkan aku pergi!” pinta centaur itu. Tapi, Shumi tidak berkata sama sekali.
“Shukoi! Lepaskan dia!” teriak Shumi yang berlari mendekat, “sudah, kita sudah memberinya pelajaran. Luka itu saja bisa membunuhnya dalam perjalannya pulang! Sudah cukup!” ujarnya lagi saat ia tiba di samping Shukoi.
__ADS_1
Shukoi akhirnya melepaskannya. Ia memang mampu menghabisinya dari awal jika memang mau, tapi Shumi tidak bermaksud demikian. Tapi Shumi berfikir, mungkin emosinya sudah tidak terbendung lagi setelah melihat salah satu ogre ditendang cukup keras tadi.
Centaur itu bangkit. Perlahan ia mundur tanpa mengambil senjatanya yang masih tergeletak di tanah. Ia berlari menjauh. Shukoi dan Shumi terus mengamatinya. Shukoi memasukkan katana-nya dan juga dengan Shumi yang mengikat busur panahnya di punggungnya.
“Maafkan saya, Nona! Saya tidak bisa bermain lebih lama lagi!” ujar Shukoi menunduk sedikit ke arah Shumi.
“Tak apa, Shukoi! Aku tahu maksudmu yang tidak ingin para ogre ini semakin terluka” jawab Shumi.
Setelah agak jauh, tiba-tiba centaur tadi mengeluarkan anak panah dan busur entah dari mana. Ia kembali mengeluarkan energi mana-nya sembari menarik busurnya. Wajahnya tampak sangat kesal.
“Itu sihir pemanggil, Summoning?!” ujar Shukoi, “sepertinya serangan kali ini bisa sangat berbahaya, Nona!” Ia kembali mencabut katana-nya.
“Jadi setiap dia akan memanah, ia harus memanggil senjatanya itu?” tanya Shumi yang juga melakukan hal yang sama. Ia sudah menduganya karena makhluk licik itu pasti akan melakukan hal itu. Tapi, ia tidak menyangka serangan panahnya akan seperti itu.
Anak panah centaur itu bercahaya biru terang. Raut wajah makhluk itu juga tampak sangat gembira karena terlihat seperti tertawa sendiri. Cahaya itu terus semakin terang hingga menyilaukan, padahal jarak mereka sudah cukup jauh.
“Sepertinya begitu,” tanggap Shukoi, “ia bukan pengguna panah, jadi sepertinya itu senjata pamungkas yang ia pinjam dari kawanan lainnya, Nona!”
Salah satu ogre jatuh gemetaran dan berkata, “jangan bunuh kami!”
Salah satunya menyahutnya, “itu serangan yang membunuh teman kami!”
Satu ogre menyahut lagi, “panahnya tidak bisa terlihat dan kepalanya langsung berlubang!”
Ogre yang terakhir pun tidak diam saja dan berkata, “kami takut!”
Shumi semakin waspada. “Hati-hati Shukoi! Serangan ini bukan untuk ditahan!” ujarnya dan Shukoi menjawabnya dengan anggukan dan terus menatap arah centaur itu berada. Mereka bersiap menghadapai serangan itu.
Sesaat sebelum centaur melepaskan anak panahnya, tiba-tiba ada yang datang dari arah kanannya. Jaraknya tidak jauh tapi juga tidak sangat dekat dengan centaur itu. Dengan cepat, orang misterius itu langsung mengeluarkan semacam sihir yang mantranya tidak terdengar oleh Shumi.
Clash…
Hanya suara yang terdengar cukup jelas dari posisi Shumi berada saat ini. Tiga buah rangkaian suara sayatan benda yang sangat tajam dengan jarak waktu yang hampir bersamaan. Suara itu juga terdengar bersamaan dengan menghilangnya cahaya biru dari panah centaur itu.
Waktu seakan melambat, membuat Shumi dan Shukoi tak kuasa mengedipkan kedua matanya saat centaur itu tiba-tiba terjauh ke samping kirinya. Terlihat dari kejauhan, darah centaur itu terpencar ke udara setelah sesuatu yang kasat mata menerjangnya tadi. Yang paling mengerikan, terlihat jelas, kedua tangan centaur itu masih melayang di udara, ketika badannya sudah terjatuh lebih dulu. Kedua tangan centaur yang masih memegang busur dan anak panahnya, kini terpisah dari badannya.
* * *
Bersambung ke part selanjutnya.
__ADS_1