
Chapter 2
Shumi Mediane (Part 1)
Shumi Mediane, seorang gadis muda yang sangat cantik terbangun dari mimpi buruknya. Kejadian yang ia lihat jelas tentang salah seorang penguasa dunia bawah dalam mimpinya itu membuat tubuhnya yang berkulit putih bersih itu bergetar tanpa pemiliknya sadari. Ia bangkit perlahan dari tidurnya dan duduk di tempat tidurnya masih dengan ingatan yang mengerikan. Ujung rambutnya yang hitam terurai menyentuh kasurnya yang terbalut kain sprai putih yang sangat bersih dan halus. Beberapa saat kemudian ia baru bisa sadar untuk mengedipkan matanya yang berwarna hijau cerah. “Mimpi buruk lagi, kali kedua setelah malam hari ulang tahun ke-17 ku dan kenapa sejelas itu lagi?” ujarnya dalam hati.
“Ibu,” kini suara Shumi cukup terdengar ke seluruh ruangan tempat ia berada, ruang tidur seorang putri dari Kerajaan Throttling yang megah dan indah. Ia berdiri dan meninggalkan tempat tidurnya setelah berusaha merapihkan kembali selimut yang tidak terlalu berantakan. Ia kemudian bergegas mengenakan selimut bajunya yang terbuat dari bulu-bulu buatan yang sangat halus berwarna putih.
Shumi sedikit tergesa-gesa sedikit berlari keluar ruangan tidurnya. Pintunya yang besar dan megah dibukanya setelah ia membuka kuncinya dan tanpa menghiraukan penjaga yang berjaga di samping pintunya, ia melanjutkan perjalanannya. Lorong demi lorong ia lewati hingga ia berhadapan dengan pintu besar lagi. Ia menoleh sejenak ke penjaga di kanan dan kiri-nya dan mengetuk pintu itu dengan besi yang menempel disana, tepat dihadapanya.
Dug. Dug.
Pintu diketuk dua kali. “Yang Mulia Ratu belum keluar ruangan kan?” tanya Shumi pada penjaga.
“Belum, Tuan Putri,” jawab salah seorang penjaga dengan sigap.
“Ibu, ijinkan saya masuk,” teriak Shumi sedikit lantang. Ia kembali mengetuk pintu itu beberapa kali lagi.
Tak lama, terdengar suara kunci terbuka dari balik pintu. Perlahan orang yang membukakan pintu itu tampak. Sang Raja Victor. Ia terlihat sudah mengenakan pakaian kerajaannya. “Ada apa Shumi?” tanyanya.
“Ayah, aku ingin bicara pada ibu,” jawab Shumi. Ia agak terkejut melihat sang Raja sudah berpakaian formal kerajaan. “Sepertinya akan ada pertemuan hari ini,” ujarnya dalam hati. Setelah melihat sang raja, ia merasa sedikit membaik, tapi ia ingin tetap bertemu dengan ibunya.
__ADS_1
“Kau tampak berbeda, Shumi,” ujar Raja Victor yang memperhatikan anaknya itu seksama, “silahkan masuk anakku, ibumu ada di dalam, maaf Ayah harus segera ke ruang pertemuan sepagi ini,” jelasnya lagi.
“Baik Ayah” balas Shumi. Ia menerima pelukkan Raja Victor dan ciuman di keningnya, kemudian memberi jalan untuk ayahnya yang segera bergegas ke ruang pertemuan. Pasukan penjaga juga memberi penghormatan saat sang raja lewat. Setelah Raja Victor tidak lagi terlihat, Shumi segera masuk dan menutup pintu ruang kamar sang raja.
“Ada apa Shumi?” tiba-tiba Ratu Stephanie bertanya dari kamar tidurnya yang terbaring di sebelah ruang masuk itu.
Shumi bergegas melewati ruang masuk dan pintu yang sudah terbuka. Ia melihat sang ibu duduk di atas kasurnya berselimut tebal. Wajahnya agak pucat. Ratu Stephanie sudah sakit selama satu bulan, tepatnya sejak dua bulan setelah merayakan ulang tahun ke-17 anaknya itu.
“Ibu sudah merasa lebih baik?” tanya Shumi sembari duduk dikasur yang sama dengan ibunya. Mereka saling berhadapan. “Ibu sudah makan?” tanyanya lagi sambil menatap wajah Ratu Stephanie.
“Ibu merasa lebih baik hari ini, walau ibu belum makan, Shumi,” jawab Ratu Stephanie, “dan tak perlu kau hidangkan, nanti jika ibu mau, ibu akan minta Via menyajikannya untukku.” Via adalah pelayan pribadi sang Ratu.
“Baiklah, Ibu!” ujar Shumi.
“Aku bermimpi lagi, Ibu!” jawab Shumi sembari mengelus punggung telapak tangan ibunya, termasuk cincin perak dengan batu berlian yang berwarna gelap yang melingkar di jari tengahnya. Ia melihat ekspresi wajah ibunya terkejut dan berkata, “mimpi yang buruk dan sangat jelas seakan-akan aku ada disana, sama seperti saat malam itu.”
“Mimpi tentang salah satu eidolon lagi?” sahut Sang Ratu, “dia lagi atau eidolon yang lain?” tambahnya.
“Eidolon Pluto lagi bu,” jawab Shumi, “tapi ia tampak berbeda dari saat mimpi yang pertama dulu. Kali ini ia lebih seperti kerangka hidup, tapi jubahnya sama. Ia sangat mengerikan. Ia bersama pelayannya yang ia panggil Anubis. Kemudian ia…” jelas Shumi dan terus menyampaikan mimpinya secara rinci dan detail sesuai apa yang ia lihat kepada Ibunya.
“Itu kejadian 500 tahun setelah ia ke dunia bawah ya? Artinya 500 tahun setelah mimpimu yang pertama,” Ratu Stephanie keheranan, “dulu kau bermimpi saat dia memutuskan untuk pergi ke dunia bawah, dan sekarang ia menjelaskan apa yang ia lakukan di dunia bawah itu.”
__ADS_1
“Apakah ini pertanda buruk Ibu?” tanya Shumi, “aku hanya tahu cerita penciptaan dunia ini dari buku yang aku baca di perpustakaan dan kisah itu hanya mengisahkan Eidolon Pluto menghilangkan dirinya. Buku itu menjelaskan bahwa saat ini ia masih bersama kita walau entah dimana, bahkan itu semua hampir seperti dongeng saja, Bu!” tambah Shumi.
“Ya, dan mimpimu seakan memberikan bagaimana kisah, bukan, tapi peristiwa itu terjadi sebenarnya,” jawab sang Ratu. Ia terdiam sejenak menatap langit-langit ruang tidurnya.
“Apa itu pertanda sesuatu?” tanya Shumi lagi memecahkan kesunyian sesaat itu.
Ratu Stephanie sedikit terkejut dan perlahan kembali menatap anaknya. “Tidak, Shumi,” ujarnya sembari kembali mengusap wajah anaknya, “itu mungkin hanya karena kamu terlalu berimajinasi dengan kisah yang kau baca karena memang sepertinya ibu juga belum pernah mendengar cerita yang kamu mimpikan itu.” Ratu Stephanie mencoba menenangkan diri dan anaknya.
“Tapi bagaimana aku bisa tahu nama Anubis itu?” tanya Shumi, “bahkan aku belum pernah berimajinasi tentang hal-hal seperti itu.”
“Ya itu adalah mimpi buruk, Shumi,” jelas Ratu Stephanie, “kadang hal-hal tidak masuk akal terjadi bahkan akan lebih tidak masuk akal lagi jika itu terjadi di dalam mimpi.”
“Aku harap begitu, Bu,” ujar Shumi.
“Tak apa, sayangku,” balas Ibunya, “tapi, jika kau bermimpi lagi, terus ceritakan hal itu pada Ibu, ya! Mungkin kau butuh terapi akan hal ini."
Sekali lagi mereka terdiam sesaat hingga akhirnya Shumi memeluk erat ibunya. “Baiklah, Bu! Semoga bukan pertanda buruk, aku sangat takut,” ujarnya.
“Tenanglah sayangku, kau bersama semua keluargamu disini dan semua akan menjagamu,” tambah Ratu Stephanie.
__ADS_1
(bersambung ke chapter 2 part 2)