Magic Of Mana Book 1 : Tragedi Pertama

Magic Of Mana Book 1 : Tragedi Pertama
Chapter 7: Ogre dan Centaur (Part 4)


__ADS_3

Chapter 7 (part 4)


Ogre dan Centaur


Shumi mulai membuka matanya perlahan karena ada sesuatu yang menyilaukannya. Ia buru-buru bangun setelah sadar bahwa cahaya matahari telah menembus dedaunan di atasnya. “Sudah pagi?!” tanyanya tanpa ada yang mendengarkan. Ia menoleh ke kiri, Shumi masih tertidur.


Ia mencoba melihat sekeliling, ia mendapati sisa-sisa api unggun masih mengeluarkan asap kecil tanpa api. Ia bangkit agar bisa melihat lebih jelas. Ia tidak dapat melihat para ogre di tempat sebelumnya mereka tertidur. Ia berjalan pelan menuju sisa api unggun.


Dari tempat api unggun, ia baru bisa melihat Ricky yang juga masih tertidur besandar di bawah pohon pinus menghadap ke luar hingga ia hanya terlihat bagian belakang tubuhnya saja, tapi wajahnya menoleh ke arah kanan sehingga terlihat oleh Shumi.


Shumi agak kesal karena ia tidak dibangunkan untuk berjaga, tapi tampaknya tidak ada hal yang aneh. Shumi juga berfikir Para ogre pergi ke suatu tempat untuk melakukan sesuatu. Atau malah pulang ke tujuan mereka selanjutnya karena tidak ada tanda-tanda adanya serangan atau semacamnya.


Ketika mereka diselamatkan dan lukanya dirawat oleh Shumi, mereka ingin menemani Shumi dan Shukoi hingga ke Kota Topaz sebagai balas budi. Waktu itu, Shumi menolaknya dan menyuruh mereka untuk pergi melanjutkan tujuannya, tapi Ricky memberitahu bahwa bisa saja mereka malah tidak aman karena masih diburu oleh centaur yang lain. Akhirnya mereka ikut perjalanan Shumi hingga malam tiba, mereka yang kelelahan tertidur lebih dulu. Dan kini, Shumi berfikir mereka akhirnya memutuskan untuk pergi.


Shumi kembali berjalan ke arah Shukoi masih tertidur. Ia merasa udara malah semakin dingin dari pada semalam. Ia sedikit gemetaran karenanya.


Belum sampai Shumi pada tempat Shukoi berada, tiba-tiba ada suara gaduh muncul mendekat. Ia berhenti dan mencoba mengamati ke arah sumber suara yang semakin mendekat. Tak lama, muncul Para ogre dan dua di antara mereka membawa sesuatu di kedua pundaknya. Mengetahui Shumi berdiri dekat bekas api unggun, mereka terhenti sejenak.


“Se..selamat pagi, Madam Nona,” sapa salah satu ogre yang berdiri paling depan. Ia bernama Bissa, ogre yang terpanah saat itu. Balutan di lengannya yang Shumi pasang masih terlihat sempurna.


“Madam Nona sudah bangun,” sahut salah satu ogre yang membawa sesuatu di pundaknya dan berdiri di belakang Bissa. Ogre ini bernama Moah. Satu-satunya tanda yang Shumi hapal untuk membedakannya adalah bekas luka yang ada di dahi kirinya. Saat perkenalan ia baru menyadari luka itu sehingga ia bisa mencirikannya.


“Kami pergi berburu untuk makan pagi,” sahut salah satu ogre lagi yang juga membawa sesuatu di pundaknya dan berdiri sejajar dengan Moah. Ia satu-satunya ogre yang Shumi kurang begitu tahu pembedanya, hanya saja ia tidak memiliki luka sedikitpun, sehingga ia bisa mencirikannya. Ia bernama Roah.


“Ayam hutan ini siap dimasak,” sahut satu ogre yang berdiri paling belakang sembari menunjuk ke sesuatu yang dibawa kawannya. Ia bernama Suah, ogre yang terkena tendangan dari centaur setelah berhasil melawan saat itu. Ia juga diobati oleh Shumi dengan balutan perban di dadanya dan menyilang.


Shumi tersenyum. Ia memang belum makan dari kemarin, kecuali buah-buahan yang Shukoi ambil dari hutan semalam ketika memutuskan untuk membuat api unggun dan itu jumlahnya hanya sedikit. “Terima kasih banyak, kalian baik sekali!” jawab Shumi.


Moah meletakkan seekor ayam hutan yang sangat besar dan sudah mati, tapi masih segar. Ukurannya nyaris sebesar ogre. Shumi heran akan kemampuan berburu mereka, tapi tidak mampu melawan satu centaur.


Roah juga meletakkan sesuatu yang ia bawa, yakni kantung pohon yang Shumi tahu berisikan air. Kantung yang persis dengan yang Shukoi robek untuk mengambil air minum.


“Kami sudah makan tadi,” ujar Suah.


“Jadi, ini hanya untuk Madam Nona dan kawannya,” sahut Roah.


“Akan kami siapkan untuk dimasak,” sahut Moah.


“Tapi kami tidak punya api,” tambah Bissa.


“Tenang, itu urusanku,” tiba-tiba Ricky menyahut.


Shumi langsung menoleh ke arah belakang. Ricky sudah terbangun tapi masih duduk di tempatnya. “Kau tidak membangunkan kami?” ujarnya.

__ADS_1


“Tapi aman, kan?” balas Ricky.


Shumi terdiam. “Baik lah, kau urus sarapan kita!” perintah Shumi.


“Baik, Tuan Putri!” balas Ricky lagi dan membuat Shumi sedikit terhentak. Tapi, Shumi tahu ia hanya bercanda untuk meledek dirinya.


Shumi tidak membalasnya, ia kembali melanjutkan perjalanan menuju Shukoi terbaring dan membangunkannya.


Pagi itu, mereka jalani seperti sebuah keluarga baru. Para ogre yang menemani mereka masak dan sarapan memiliki kesan tersendiri bagi Shumi. Hal yang tak pernah ada jika ia hanya berdiam diri di istananya. Mereka sama-sama tidak memiliki orang tua lagi, kecuali Ricky yang masih memiliki Ibunya seorang. Mereka juga memiliki masa lalu yang tidak indah. Mereka merayakannya dengan kebersamaan kecil mereka saat itu.


Ayam hutan yang hanya dibakar saja sungguh sangat lezat. Shumi baru pertama kali memakannya. Ia benar-benar banyak menemui hal yang baru.


Sayangnya, kegembiraan itu tidak berlangsung lama. Setelah beberapa saat dan acara makan mereka berakhir, tiba-tiba ada sesuatu yang mendatangi mereka.


“Ada yang datang dan bukan hanya satu,” ujar Shukoi tiba-tiba.


Shumi bangkit seraya mengambil busur panahnya dan mengambil sebuah anak panah dari tempatnya yang berada di punggungnya. “Dari mana?” ujarnya.


“Selatan kita! Dari derap langkahnya seperti kaki-kaki kuda dan jumlahnya cukup banyak,” jawab Shukoi.


“Insting datch ¬mu sangat hebat, ya?” tanggap Ricky.


Shumi sempat berfikir kemungkinan pasukan kerajaan sudah menyusul mereka, tapi semua langsung terjawab. Rupanya mereka kedatangan gerombolan centaur yang terlihat marah.


“Sudah ku duga, kalian pasti datang!” ujar Ricky tersenyum.


“Berpesta atas prestasi mengalahkan bahkan membunuh seorang centaur, kah?” ujar salah satu centaur yang berdiri paling depan. Wajahnya tampak lebih berumur dan sangar. Ia juga berjanggut cukup panjang dan dikepang hingga ke dadanya. Rambutnya hitam panjang tapi ikal, sehingga gelombang rambutnya menghiasi bahu baju zirah yang ia kenakan. Tanduknya juga melengkung ke depan.


“Kalian seperti ingin berperang?” tanya Shukoi.


“Tentu saja! Kami tadinya hanya ingin para ogre itu saja, tapi sekarang kami juga ingin nyawa kalian!” ujarnya lagi.


“Kita sudahi saja permainan ini! Biarkan para ogre ini bebas!” balas Shumi, “kematian teman kalian bukan hal yang disengaja! Kami meminta maaf akan hal itu!”


“Maaf? Ha..ha…” centaur itu tertawa kecil mengejek, “bukan soal nyawanya yang terjadi di sini! Tapi keberanian kalian yang telah melawan kami!”


“Sudah ku bilang, kan Shumi?! Mereka tidak mempermasalahkan nyawa! Mereka hanya ingin harga diri!” sahut Ricky.


“Tidak! Ini perlu diselesaikan tanpa harus ada pertumpahan darah lagi!” balas Shumi.


“Sayangnya, hal itu tidak mungkin, gadis kecil! Kecuali kau dan temanmu yang cantik itu mau menjadi budak kamar kami! Ha..ha..ha…” jawab centaur itu dan diikuti derak tawa dari kawanannya.


“Kurang ajar!” Shukoi hendak menyerang, tapi Shumi menghalaunya dengan tangan kirinya.

__ADS_1


“Selain itu, apakah ada hal lain yang bisa dijadikan titik tengah dari masalah ini?” tanya Shumi masih bersabar.


“Nyawa atau tubuh indah kalian! Itu saja! Maka pria itu dan para ogre akan kami perbolehkan hidup bebas!” jawabnya lagi, “ya, selama pelayanan kalian oke… Ha..ha..ha…!”


Para centaur kembali tertawa. Shukoi sudah terlihat hampir tidak kuasa menahan emosinya. Wajahnya sudah merah padam.


“Kalian akan ketagihan dengan keperkasaan kami! Jangan angkuh seperti itu! Ha..ha..ha…” ujar salah satu centaur yang berdiri di belakang centaur yang bicara sebelumnya sehingga membuat para kawanan itu kembali tertawa.


“Benar hanya itu caranya?” tanya Shumi lagi. Ia sedikit menunduk dan menurunkan tangan kirinya, seakan sudah mempersilahkan Shukoi bertindak.


“Hanya itu saja!” jawab Centaur yang berdiri paling depan tadi.


Shumi terdiam. Shukoi sempat berfikir bahwa Shumi akan menyetujui persyaratan makhluk itu. Ia ingin membuka mulutnya, tapi Shumi lebih dulu berkata, “Siapa namamu?”


“Ha..ha..ha… Sepertinya kau ingin menyerahkan tubuhmu ya?” jawab centaur itu lagi, “namaku Wawantoraute! Aku pemimpin pasukan yang gagah ini!” Ia mengejek lagi dengan memperlihatkan otot-otot tubuhnya dengan cara yang kurang sopan.


“Tidak, aku memilih nyawa saja! Tapi, ambil saja sendiri jika bisa!” jawab Shumi sembari berteriak dan dengan cepat ia memposisikan anak panah pada busurnya dan menarik talinya hingga tidak ada Centaur yang sempat bergeming.


Para centaur itu langsung bersiap. Shumi langsung melesatkan anak panahnya. Shukoi juga mencabut katana-nya, sedangkan Ricky masih terdiam di posisinya.


“Teknik pernafasan angin : Sharp Shot!” ujar Shumi dan panahnya melesat dengan sangat cepat bahkan nyaris tak terlihat.


Zlup! Panah itu tepat menghujam dahi Centaur yang berdiri dibelakang pemimpin mereka dan sempat memotong beberapa helai rambut Wawantoraute. Shumi kini berniat membunuh mereka.


Centaur itu berteriak dan terkapar jatuh ke samping. Centaur yang lain hanya menonton dengan mata yang membelalak lebar, tak percaya kecepatan serangan Shumi.


“Rupanya sudah berubah pikiran, ya?” ledek Ricky yang maju beberapa langkah ke depan Shumi. “Asal kau sudah memperbolehkan menghabisi mereka semua, biar aku saja yang urus ini! Aku sebagai manusia laki-laki satu-satunya di sini, tidak akan membiarkan tanganmu kotor lebih banyak lagi!” tambahnya.


“Sialan kau!” bentak Wawantoraute. Ia mencabut pedangnya yang bentuknya mirip dengan milik centaur yang terbunuh kemarin. Begitu pula centaur yang lain, sedangkan beberapa lagi yang berdiri di barisan paling belakang menyiapkan panah mereka.


“Wah..wah..! Kalian ingin mati dengan sihir apa? Sayatan atau membeku atau bahkan terbakar?” tanya Ricky yang kini berdiri paling depan dari sisi grup Shumi. Shukoi hendak menyerang juga tapi ia diisyaratkan olehnya. “Jaga belakang saja! Aku yakin mereka akan muncul juga dari belakang!” perintahnya lagi.


Shukoi mengangguk. Ia dan Shumi mundur juga bersama para Ogre. Dan benar saja, tiba-tiba mereka sudah seperti dikepung dari berbagai arah, tapi jumlahnya tidak sebanyak yang ada di hadapan Ricky.


“Kalian kalah jumlah! Bagaimana? Mau mengubah pikiran kalian?” tanya Wawantoraute lagi.


Shumi terdiam tetap bersiap. Ia agak ragu bisa menang atau tidak saat ini, tapi ia juga tidak ingin lagi berdamai dengan mereka. Setidaknya ia harus melawan.


“Sepertinya jawabannya tidak!” Ricky menjawab, kemudian dari tangan kanannya muncul sebuah api berwarna biru, “asal kalian tahu saja ya, aku ini penyihir tingkat tinggi lho, dan aku tidak akan merasa berdosa atau menyesal sedikitpun jika membunuh orang, apalagi kalian!”


* * *


Chapter 7 : Ogre dan Centaur

__ADS_1


-Selesai-


__ADS_2