Magic Of Mana Book 1 : Tragedi Pertama

Magic Of Mana Book 1 : Tragedi Pertama
Chapter 4: Berita Lama (Part 3)


__ADS_3

...Chapter 4 (Part 3)...


...Berita Lama...


“Tuan Putri! Tuan Putri!” ujar seorang wanita dari balik pintu kamar Shumi. Ia mengetuk pintu itu dengan sedikit keras, “Tuan Putri, mohon bukakan pintu!”


Shumi terbangun dan kepalanya sedikit sakit karena terbangun mendadak. Ia melihat arloji di meja samping kanannya dan masih menunjukkan sekitar pukul tiga pagi. “Siapa, maaf?” balas Shumi sembari mencoba bangkit perlahan.


“Saya Lucy, Tuan Putri! Ada kabar buruk, saya mohon, Tuan Putri!” ujar wanita tadi.


Shumi bingung tapi tetap melangkah menuju pintu kamarnya. Sesampainya disana ia langsung membukakan pintunya. Tampak seorang pelayan istana yang menggunakan pakaian pelayannya. Ia tampak menangis dan menatapnya. Bibirnya bergetar.


“Ibu.. Ibu Ratu, Tuan Putri!” ujarnya terbata-bata.


“Ada apa dengan Ibu?” tanya Shumi mulai terkejut.


“Ibu Ratu sekarat, Tuan Putri," jawabnya dan ia menangis.


Shumi membelalak. Ia merasakan hatinya sekejab terasa seperti diremas kuat-kuat. Ia bergetar sedikit melangkah mundur. “I..Ibu..?” ujarnya pelan. Kemudian, ia langsung bergegas menuju kamar ibunya dan melewati pelayan tadi. Kepalanya penuh dengan ingatan-ingatan dengan ibunya semalam.


Ia berlari sembari mengangkat gaun tidurnya yang menyapu lantai. Tak terlihat penjaga sepanjang lorong hingga akhirnya ia sampai di depan lorong yang menghubungkannya dengan kamar orang tuanya. Disana barulah ia melihat beberapa penjaga berkumpul.


“Tuan Putri!” ujar para penjaga dan pelayan yang satu per satu Shumi lewati. Wajah mereka tampak sangat bersedih. Shumi terus berjalan agak cepat dan masuk ke dalam kamar yang sudah dalam kondisi terbuka.


Ia melihat Ayahnya duduk di tempat tidurnya dan memangku kepala istirnya yang terpejam. Ayahnya menangis sembari mengusap rambut istrinya itu. Shumi mendekat perlahan hingga benar-benar dekat.


“Ayah, A.. Apa.. yang ter..terjadi..?” tanya Shumi memastikan keadaan. Ia sudah sangat lemas, kepalanya sangat sakit, jantungnya semakin teremas, ia tak sadar air mata mulai menghancurkan bendungannya di mata hijau cerahnya.

__ADS_1


“Shumi?!” balas Raja Victor sembari terus mengelus rambut istrinya pelan dan terus menatapnya. “Ibumu… Sudah tiada,” jelasnya lagi.


Shumi sudah tahu jawaban itu akan keluar dari mulut Ayahnya, tapi entah bagaimana, ia merasa jawab itu sangat memukulnya sangat keras, sangat amat keras. Ia tak sadar berlutut dan melihat lebih dekat wajah Ibunya yang terpejam tak bergeming. Air matanya sudah mengalir deras membasahi pipinya dan menetes membasahi gaunnya.


“I..Ibu..” ujarnya lirih sembari menangis. Ia mengusap wajah Ibunya yang pucat, sangat pucat. Tubuh Shumi mulai goyah, hampir saja ia rubuh, namun tiba-tiba ada seseorang yang menahannya. Shumi menoleh sedikit ke sisi kirinya. Shukoi menahannya dengan lembut dengan wajah yang merah padam menahan tangis.


...* * *...


Dua hari kemudian, upacara pemakaman kerajaan dilakukan. Butuh dua hari untuk menunggu para adipati dan petinggi kerajaan berkumpul. Selama itu juga, Shumi selalu ada bersama peti mati Ibunya dan mengurung dirinya. Ia sangat sedih dan terpukul. Tapi, saat ini, di hari pemakaman Ibunya, air matanya telah mengering. Dan memang sesuai tradisi kerajaan bahwa tidak diperkenankan adanya air mata dalam proses pemakaman.


Shumi duduk di samping Ayahnya yang sama-sama menghadap pada peti mati Sang Ratu dan dihadapan khalayak ramai di area pemakaman kerajaan yang terletak di belakang istana. Semua petinggi kerajaan dan pahlawan kerajaan dimakamkan disana kecuali Raja sebelumnya, kakeknya Shumi. Peti mati sang ratu berada tepat di depan lubang makamnya dan di samping kanan dan kirinya, berdiri para adipati kerajaan.


Franz Sebastian, pria tampan dengan hidungnya yang mancung dan nyaris bengkok, berumur 35 tahun, berambut hitam pendek dan berkulit putih. Ia adalah seorang adipati provinsi Bumi Barat Laut yang mulai menjabat setelah kematian adipati sebelumnya, yakni adik dari ayahnya, pada sepuluh tahun lalu. Bola matanya yang coklat terus menatap jenazah Ratunya di dalam peti mati.


Roberto Saporo, pria yang menjabat sebagai adipati Provinsi Bumi Tengah. Ia berambut coklat muda sepanjang lehernya dan berkulit tan cerah. Bola matanya yang coklat terbenam dari wajahnya yang angkuh. Mukanya lonjong, dagunya melengkung ke arah depan. Ia adalah adipati termuda dengan usianya yang baru 27 tahun. Tapi, kemampuan bertarungnya sangat terkenal, bahkan ia tidak memerlukan penjaga pribadi atau pasukan khusus untuk menjaga dirinya. Keluarganya adalah mantan pembunuh bayaran dan tugas menjadi seorang adipati ia dapatkan dari Ayahnya yang tidak mau menerima jabatan itu dan memilih menjadi guru bela diri di provinsinya.


Kylen Silver Black, pria bertubuh paling pendek dari semua adipati kerajaan bumi, namun ia seorang petarung ulung juga. Sayangnya, tubuhnya yang gendut, perutnya buncit dan berwajah sedikit mesum, membuatnya terasa agak menjijikan jika kaum wanita melihatnya, apalagi umurnya yang sudah mencapai 42 tahun. Kulitnya putih cerah dan memiliki warna bola mata yang sama dengan Fanish. Warna rambutnya coklat, tapi lebih seperti perunggu dan bagian depannya botak sedangkan belakangnya pendek. Ia tidak fokus pada pemakaman dan terus memburu penduduk atau pelayan kerajaan yang cantik di sekitaran jangkauan matanya. Ia adalah adipati Provinsi Bumi Timur.


Pasilic Erward, adipati Provinsi Bumi Timur Tengah. Pria berumur 39 tahun dan berambut hitam panjang hingga ke pinggang. Warna kulitnya tan cerah dengan bola mata hitam. Tubuhnya biasa saja dan gerak geriknya sangat tercermin bahwa dia adalah seorang yang sangat malas. Matanya layu dan sangat tidak bersemangat.


Xhavier Trubae, pria berumur 41 tahun dan menjabat sebagai adipati Provinsi Bumi Tenggara. Kepalanya botak dan berkulit putih. Dari semua adipati, ia yang tampak sangat mengerikan. Wajahnya sangat licik, tenang namun senyumnya mengerikan. Ia terlihat seperti orang jahat. Ia juga terus menatap jenazah Ratu Stephanie yang berada di dalam peti.


Charlie Limbizkit, seorang adipati Provinsi Bumi Barat Daya. Menguasai dan mengatur perdagangan terbesar di kerajaan bumi. Jasanya terkait keuangan negara sangat membuat namanya harum. Ia juga adipati yang bertubuh paling tinggi di antara yang lain. Ia berumur 37 tahun, berambut pendek coklat tua, kulitnya putih dan berbola mata biru. Ia masih memiliki hubungan darah dengan Raja Victor. Tubuhnya kekar, penuh tato, berjanggut panjang dan terkepang hingga ke dadanya.


Dan terakhir, seorang adipati dari provinsi Bumi Selatan yang saat ini tengah dirundung masalah, berdiri agak gemetaran seperti ketakutan tidak ingin melihat sesosok orang yang telah mati di hadapannya. Pria berusia 43 tahun, berambut cepak berwarna coklat muda, berkulit tan cerah dan berbola mata coklat itu bernama Phicato. Rahangnya agak bengkok, mukanya sangat bulat. Ia sedang memegangi serangkaian bunga yang berwarna-warni sambil gemetaran.


Raja Victor berdiri dan diikuti oleh semua hadirin yang ada di pemakaman itu. Ia melihat sekeliling dan menarik nafas panjang. Semua orang disana terlihat dengan jelas sedang berduka. Hari di musin dingin itu juga seakan menambah suasana kedukaan bagi mereka.

__ADS_1


“Rakyatku, saudara saudariku, para sahabatku, dan semua pekerja di istana ini!” sapa Raja Victor lantang. Tak satupun suara yang berani mengusik perkataannya, “dua hari lalu, kita ditinggalkan oleh seorang jiwa pemimpin negri ini. Dan hari ini, kita akan ditinggalkan oleh jasadnya juga. Ratu Stephanie, Istriku, Ibu dari negara yang kita cintai ini, telah pergi dan menitipkan kedamaian negri ini pada kita semua. Perjuangan yang telah ia lakukan tak akan pernah bisa hilang dalam ingatan.”


Semua hadirin terdiam memperhatikan Raja mereka berbicara.


Raja Victor melangkah sedikit ke arah peti mati dan membungkuk. Ia mencium kening jenazah istrinya dan perlahan mengambil cincin perak yang masih melingkar di jari tangan kanan istrinya itu. “Ini adalah cincin peninggalan Sang Ratu. Akan kita jaga segenap tenaga karena sejarah dibalik kekuatannya!” sembari mempertontonkan cincin itu kepada khalayak luas, “cincin ini adalah simbol perjuangannya karena selama ia menjadi Ratu kita, cincin ini selalu ia kenakan dan tidak pernah ia lepaskan.”


Shumi sedikit terkejut. Bukan karena ia baru menyadari bahwa ibunya selalu menggunakan cincin itu, tapi ia baru sadar bahwa ada yang berubah dari cincin itu.


“Kita, jika memang berduka saat ini, jika memang merasa kehilangan saat ini, jika memang mengingat kebaikan yang telah ia lakukan pada kita, maka kita tidak boleh terus terlarut dalam kesedihan! Kita harus bangkit dan meneruskan kedamaian yang ada di negri ini! Abadilah nama Sang Ratu!” ujar Raja Victor penuh semangat yang disambut oleh semua hadirin disana dengan sahutan yang sama.


“Abadilah Sang Ratu,” teriak para hadirin bergantian.


“Shumi!” panggil Raja Victor pelan namun terdengar oleh Shumi dan ia segera mendekat. Teriakan pujian kepada mendiang sang ratu masih terus terdengar dan bergemuruh. “Kita lakukan penghormatan terakhir,” ajaknya.


Shumi membalasnya dengan anggukan. Ia berdiri sejajar dengan Ayahnya dan memejamkan matanya. Sang Raja juga melakukan hal yang sama. Arthur Dominic yang berdiri di belakang mereka memberikan aba-aba pada para hadirin untuk diam dan perlahan mereka semua diam. Shumi dan Raja Victor berdoa agar orang yang mereka kasihi itu dapat beristirahat dengan tenang. Keheningan beberapa saat, kemudian Shumi dan Raja Victor membukakan kembali matanya.


“Silahkan berikan penghormatan terakhir kalian,” ujar Sang Raja. Tiba-tiba Arthur berjalan pelan menuju lubang makam yang siap menerima jenazah Sang Ratu masuk hingga ia bediri tepat di depan lubang itu, di seberang peti mati Sang Ratu.


“Terima kasih atas segala kebaikan, jasa dan kepemimpinan Yang Mulia Ratu!” ujar Arthur lantang, “terimalah hormat terakhir kami, Yang Mulia!” ujarnya lagi sembari membungkuk dan meletakkan kedua tangannya di dadanya dan menyilangkannya. Serentak semua orang disana mengikutinya, kecuali Raja Victor dan Shumi.


Tanpa komando, Robberty, Franz dan Charlie menuruni lubang dan masuk bersama-sama. Kemudian, Raja Victor, Xhavier dan Kylen mengangkat peti mati itu bersama dan memberikannya perlahan kepada para adipati yang siap menerimanya. Prosesi pemakaman dimulai. Serangkaian bunga indah yang dipegang Phicato kemudian diberikan pada Shumi yang langsung mengambilnya dan meletakkannya di atas dada mendiang Ibunya ketika peti sudah berada di tangan para adipati yang berada di dalam liang lahat itu. Kemudian, Fanish mengambil tutup peti yang ada disampingnya pada sisi kepala Sang Ratu dan ia dibantu Pasilic yang mengangkat pada sisi kakinya. Serentak mereka menutupnya.


Perlahan, Robberty, Franz dan Charlie menuruni peti mati itu hingga menyentuh tanah. Setelah itu, mereka serentak menunduk dan melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Arthur hingga saat ini. Selang beberapa detik, mereka keluar dari lubang itu dan serentak mereka melakukan penghormatan kembali bersama dengan seluruh adipati yang berada disekeliling makam.


“Berjayalah, Yang Mulia Ratu Kerajaan Bumi!” teriak Arthur sembari kembali berdiri tegap, kemudian semua orang disana melakukan hal yang sama. Tak lama, datang beberapa pasukan kerajaan yang membawa peralatan dan menguburkan peti mati berisikan jasat Ratu Stephanie secara perlahan hingga terbentuklah sebuah makam yang utuh.


...* * *...

__ADS_1


(Bersambung ke part 4)


__ADS_2