
Bismillahirohmanirohim.
Kelompok kelelawar akhirnya tidak membuat kekacauan lagi di seluruh penjuru kota X, setelah melihat berita yang ditayangkan oleh channel tv grand media. Kelompok inti kelelawar langsung menuju lokasi untuk mengurus semua mayat kelompok mereka yang terdapat di laut kematian kota X.
Kelompok kelelawar juga sudah membuat perjanjian pada masyarakat kota X, jika mereka tidak akan mengganggu orang-orang di kota X, karena kelompok mereka sudah melanggar janji yang diucapkan sebelumnya.
Agar tidak menanggung malu, karena sudah ingkar janji terhadap sesama teman kelompok akhirnya ketua besar kelompok kelelawar memutuskan untuk tidak mengganggu ketenangan masyarakat kota X lagi, hal ini disampaikan pada channel tv grand media bertepatan pada hari yang sama tentang pembuahan antar kelompok kelelawar.
Semua masyarakat kota X merasa lega setelah ketua beras kelompok kelelawar mengatakan hal itu di depan media dengan langsung termasuk juga dengan Derrell yang sedang beristirahat di ruangannya dia merasa senang dengan pengakuan yang diucapkan oleh ketua besar kelompok kelelawar, sekarang memang waktunya istirahat untuk seluruh karyawan di car group.
"Akhirnya selesai juga satu" ucap Derrell lega.
Teng….
Seperti biasa Derrell langsung membuka henpon nya untuk memeriksa apa yang magic system kabarkan.
"Sungguh pencapaian yang luar biasa king Derrell anda sudah mencapai level 6 di magic system" pemberitahuan yang diberikan oleh magic system bukannya membuat Derrell senang, tapi malah sebaliknya Derrell tahu jika levelnya terus naik maka misinya akan lebih berbahaya lagi dari yang sebelumnya.
"Dan selamat anda mendapatkan bonus 10 milyar dalam level 6" yang tadinya Derrell tidak semangat untuk menanggapi magic system kini Derrell jadi orang yang paling bahagia.
"Asek gue kaya, gue kaya" ucap Derrell merasa senang.
Siapa yang tidak senang jika mendapatkan yang sangat banyak bisa menjadi orang kaya dalam waktu singkat. Apalagi di tahun 2039 ini orang miskin sudah tidak layak hidup sepertinya, padahal dunia bukan milik siapa-siapa, Dunia hanya milik sang pencipta.
Sekarang di tahun 2039 semua orang hanya memikirkan untuk menambah kekayaaan mereka, padahal orang yang miskin masih banyak yang membutuhkan bantuan.
Hidup di tahun 2039 menurut Derrell adalah hidup orang-orang yang egois, dia merasa beruntung karena mendapatkan sebuah aplikasi yang ingin menegakan keadilan, bukan malah membuat sebuah kekacauan.
Bagaimana orang miskin mau dipandang sedangkan pemimpinnya saja hanya peduli dengan harta saja. Semua masyarakat kota X merindukan kepemimpinan 5 tahun lalu, memiliki pemimpin yang adil dan dermawan.
__ADS_1
Derrell merasa tugasnya sekarang mencari pemimpin yang adil agar kota X bisa kembali seperti dulu lagi hidup damai dan tentram.
Ting..
Derrell yang terlalu senang karena mendapatkan uang banyak belum sadar jika masih ada pemberitahuan yang belum Derrell baca dari magic system. Derrell kembali membaca informasi yang diberikan oleh magic system. "Berhati-hatilah king di level 6 ada orang yang akan mengetahui jika king Derrell memiliki aplikasi magic system. Tugas king Derrell memastikan jika dia adalah orang yang baik, untuk yang satu ini magic system tidak dapat membantu king Derrell"
"Baiklah aku akan lebih berhati-hati lagi" ujar Derrell.
Derrell tahu sekarang dirinya bukan Derrell yang dulu, sekarang situasinya sudah berbeda. Dia akan menjadi penyelamat untuk kota X yang sudah hampir hancur secara perlahan-lahan, karena kepemimpinan yang dijadikan seperti boneka oleh seseorang yang belum diketahui pasti siapa orang tersebut.
***
"Yes akhirnya bebas juga! sudah bosan aku berada di dalam lapas"
Laki-laki paruh baya yang ada di samping orang yang berkata barusan menoleh pada dirinya. "Inget katanya mau tobat" ucap seorang kakek.
"Hehe, iya kek tenang aja Jo nggak bakal lupa, sekarang kakek Harto mau kemana dulu?" tanya Jo.
Tidak ada keluarga yang menyambut mereka, karena mereka memang tidak memiliki siapa-siapa lagi. Akan tetapi yang tidak kakek Harto dan Ajo tau ada seseorang yang sedang menunggu mereka di luar.
"Tidak tahu saya hanya akan mengikuti langkah kaki saya saja" jawab kakek Harto. Entah saking lamanya di dalam lapas ataukah karena memang tidak memiliki siapa-siapa lagi kakek Harto merasa berat untuk meninggalkan lapas tersebut tempat dia tinggal selama bertahun-tahun terakhir ini.
"Bagaimana kalau kita bertemu dengan Derrell terlebih dahulu, anggap saja sebagai kejutan untuk Derrell" usul Ajo.
"Baiklah nak Jo, kakek akan ikut kamu saja, asal di tengah jalan saya tidak dibunuh saja" ujar kakek Harto.
Ajo tersenyum mendengar perkataan terakhir kakek Harto. "Seharusnya saya yang merasa takut jika bersama kakek Harto" canda Ajo setelahnya mereka berdua tertawa bersama.
Saat kakek Harto dan Ajo keluar dari kantor polisi seorang sudah menunggu mereka di depan kantor tersebut, dengan wajah yang ditutupi sistem masker dan sebuah kacamata yang bagus.
__ADS_1
Orang itu mendekat ke arah kakek Harto dan Ajo. "Selamat akhirnya kalian bebas juga" ujar orang tersebut sambil berjabat tangan dengan kakek Harto dan Ajo.
"Mohon maaf anda siapa?" tanya Ajo yang merasa bingung.
"Kau melupakanku nak Jo?" orang tersebut balik bertanya sambil tersenyum pada Ajo.
"Sepertinya saya mengenal suara ini. Apakah benar nak Arton?" ujar kakek Harto yang ikut menimpali.
"Umurmu lebih tua pak, tapi ingatanmu lebih baik daripada anak muda satu ini" sindir pak Arton.
"Aku kesini menjemput kalian" ucap pak Arton.
"Tapi kami ingin bertemu dengan Derrell terlebih dahulu"
"Baiklah nak Jo, mari ikut saya" ajak pak Arton.
"Ini benar kan kita mau diajak ketemu Derrell, bukan mau dijebak sama detektif?" curiga Ajo.
Entah kenapa Ajo semenjak keluar dari lapas menjadi orang yang sangat curigaan. Sepertinya karena dia dulu adalah seorang pembunuh bayaran jadi dia takut jika dirinya juga dibunuh oleh orang lain. Ternyata pembunuh bayaran juga bisa takut dibunuh.
Kakek Harto memukul kepala Ajo sedikit keras. "Aduh! Kenapa kakek Harton memukul kepalaku" ucap Ajo tidak terima, sambil mengelus kepalanya. Sedangkan pak Arton yang sedang mengemudi hanya menggelengkan kepalanya.
"Seharusnya kakek yang bertanya kenapa sedari tadi kau selalu curiga dengan orang, seperti mau dibunuh saja kau"
"Memang saya takut dibunuh kek, kakek kan tahu kalau saya seorang pembunuh bayaran yang sedang bertaubat" ujar Ajo lirih.
"Momen langka seorang pembunuh bayaran yang sangat handal dan ditakuti banyak orang, jadi takut dibunuh" timpal pak Arton dari tempat duduknya.
"Namanya juga mau tobat pak"
__ADS_1
"Begini saja kamu takut, coba kemarin bunuh orang lebih dari satu nggak ada takut-takutnya"
"Takut itu sama sang pencipta, karena kita tidak tahu seberapa banyak dosa yang sudah kita lakukan" setelahnya kakek Harto dan Ajo langsung termenung begitu juga dengan pak Arton.