Magic System

Magic System
Meja makan


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim.


Masih ditempat yang sama ruang kerja Zegra. Ketiga orang yang saling terikat darah satu sama lain itu, masih berbicara dari hati kehati mereka masing-masing.  


"Bocah kau ingat kan, perkataanmu yang kemarin? Aku yakin kamu tidak akan lupa dengan hal penting yang satu ini" Zegra berkata setelah suasana dari mereka bertiga membaik.


"Perkataan apa? Dan yang mana?" 


"Kau tidak ingat sama sekali, kalau begitu iya biar aku yang mengingatkanmu" Derrell memang benar-benar tidak ingat perkataan mana yang dimaksud oleh papa nya itu.


"Kau tahu kan jika orang yang akan menjadi pemimpin selanjutnya di kota X ini adalah penerusku"


"Ya benar, bahkan jika orang itu sudah ditunjuk tidak boleh menolak" sahut Derrell dengan cepat, dia belum sadar apa yang baru saja dikatakan oleh Zegra. Akan menyangkut pada dirinya.


"Bagus jika kau tahu bocah tengik"


"Jadi sekarang aku putuskan kamu lah yang akan menjadi penerus sebagai pemimpin di kota X ini, hal ini akan segera diumumkan pada masyarakat kota X " putus Zegra.


"Tidak ada penolakan, ingat yang sudah ditunjuk harus mau menjalankan amanah"


"Yaak!, anda licik bapak Zegra" dengus Derrell, dia terkena jebakan.


"Bukankah masih ada Mike yang bisa papa tunjuk kenapa harus aku" keluhnya.


"Ingat tidak ada penolakan" kakek Harto dan Zegra berbicara dengan kompak.


"Yak! Kakek kenapa ikut membela papa" Derrell sedikit tidak terima.


"Hei bocah nakal, kau sendiri yang bilang, siapa yang sudah ditunjuk oleh Zegra putraku dan papamu ini tidak boleh menolak dia harus menjalankan amanah" kakek Harto kembali menerangkan apa yang Derrell katakan tadi.


Saat ketiganya sedang sedikit berdebat, tiba-tiba handphone Derrell bersinar terang. Cepat dia mengambil handphonenya.  "Apa yang terjadi?" bingun Derrell.


Magic system yang terdapat di dalam handphone itu terbuka sendiri. "Sekarang ataupun nanti king Derrell menolak untuk menjadi pemimpin di kota ini, garis keturunan sudah menetapkan anda akan menjadi seorang pemimpin di kota X" 


Derrell menatap cuek magic system. "Tidak bisakah kau membelaku"


"Tidak bisa king karena itu yang sudah ditetapkan. Bahkan jika king Derrell ingin tahu sinar yang tadi keluar dari magic system, adalah sebuah sinar jika pemimpin sejati di kota X ini sudah ditemukan, dan semua tanda itu ada pada king Derrell sendiri"


"Sudahlah aku pasrah" lelah Derrell.


"Baik, sekuat apapun aku menolak jika sudah ditetapkan seperti ini aku bisa apa"

__ADS_1


"Boleh aku bertanya?"


Magic system mempersilahkan Derrell untuk bertanya dengan sebuah tanda tanya yang dikeluarkan oleh magic system, itu artinya dia boleh bertanya.


"Apa yang akan terjadi di kota X saat aku yang menjadi pemimpinnya?"


"Tentu saja kedamaian yang didapat oleh seluruh masyarakat kota X, karena sejatinya pemimpin sejati akan berlaku adil terhadap semua rakyatnya. Jika king Derrell ingin berbuat semena-mena pada maka tidak akan bisa, kenapa begitu? karena di dalam diri king Derrell sudah mengalir darah dan hati nurani yang baik untuk seorang pemimpi. Bahkan garis pemimpin selalu mengalir dalam diri king Derrell" magic system memperjelas semuanya pada Derrell.


"Nantinya tidak akan terbesit kejahatan di dalam hati seorang pemimpin sejati?" ucap Zegra yang meneruskan penjelasan magic system.


"kenapa bisa begitu pa?"


Zegra melirik pada sang ayah. "Tanyakan saja pada kakekmu ini" ucap Zegra setelahnya.


Derrell menatap kakek Harto untuk meminta penjelasan. "Nanti saja kita bahas kakekmu ini lapar" ucap kakek Harto sambil berlalu meninggalkan ruang kerja Zegra.  


"Kenapa menghindar" kecewa Derrell.


Zegra menempuk pundak putranya. "Bukan menghindar tapi kakekmu itu benar-benar lapar, kasihan dia sudah  tua jangan terlalu dipaksa" ucap Zegra yang berjalan menyusul kakek Harto ayahnya.


"Baiklah" Derrell juga ikut menyusul mereka.


"Akhirnya yang ditunggu-tunggu tiba juga, ayo makan, aku sudah lapar dari tadi, tapi kalian tak kunjung keluar" curhat Ajo.


"Kenapa tidak makan saja" Derrell menyahut pertanyaan Ajo dengan senakanya.


"Gue sih maunya gitu, tapi tak segampang yang anda ucapkan" dengus Ajo.


"Sudah mau makan atau mau cerita dulu?"


"Makan!" mereka semua menjawab ucapan Titan dengan kompak. 


Derrell yang sudah duduk di kuris menatap sekeliling. Seperti sedang mencari kendaraan seseorang. "Apa yang kamu cari Derrell?" tanya pak Arton.


"Gadis nasi kucing itu mana pak Arton?"


"Aku disini" sahut Amira, dia tahu siapa yang Derrell sebuat dengan nama gadis nasi kucing, karena sudah beberapa kali. Derrell memanggilnya dengan sebutan demikian.


Amira menarik kursi dia duduk tepat di sebelah Derrell dan pak Arton. "Makan kenapa kalian menatapku seperti itu" heran Amira. Amira tadinya sedang membantu para koki menyiapkan makanan.


"Apakah kamu terbiasa makan membawa kucing?" kata Fian langsung pada intinya.

__ADS_1


Karena Amira meletakan kucingnya si Mike di pangkuannya. "Ya! Setiap hari malah Fian"


"Apakah mereka tidak protes" tunjuk Dul pada Zegra dan Titan.


Amira melihat sebentar siapa yang dimaksud oleh Dul, setelahnya dia menggeleng dengan yakin.


"Kenapa yakin sekali" protes Derrell. 


"Tidak ada yang bisa protes pada gadis kucing ini, termasuk aku" keluh Zegra.


Mereka semua terbelak dengan kata yang keluar dari mulut Zegra. "Sungguh gadis yang hebat" batin Derrell.


"Sudah jangan terlalu heran begitu dia memang seperti itu, sekarang ayo makan, saya sudah lapar sedari tadi, tapi kenapa kalian di meja makan masih berbicara"


"Makan!" interuski kakek Harto 


"Baik kek" mereka semua makan dengan tenang.


Semua masakan yang mereka makan dimasak oleh para koki Zegra. "Tidak ku sangka aku akan makan enak seperti sekarang ini, bahkan aku tidak pernah membayangkan jika akan memakan-makanan enak dan mewah" senang Ajo. Sambil bersenandung ria.


"Aku pun begitu" sahut Dul.


"Aku juga sudah lama tidak menikmati makanan-makanan ini semenjak tinggal bersama Jaka" Mike ikut menyambung.


"Aku sangat bahagia" Fian dengan refleks langsung menyahuti ucapan Mike.


"Bukan hanya kalian saja tapi aku juga, lumayan kita bisa makan enak dengan gratis dari orang kaya" sepertinya Derrell lupa jika sekarang dialah orang yang paling kaya di kota X. 


"Berisik! Maka saja yang tenang, tak usah menyanyi lagi" suruh Amira. Mereka semua langsung tak bersuara lagi, mereka melirik satu sama lain, mereka tak menyangka jika gadis mata-mata ini jika marah sedikit saja sebegitu menyeramkan.


"Bagus" 


Suasana di meja makan kembali hening sampai mereka menyelesaikan makan mereka dengan keadaan tenang.


"Aku sudah selesai, apakah ada buah yang bisa dimakan?" tanya pak Harto.


"Lalu di depanmu itu apa detektif Ar yang paling teliti tapi buah saja tidak kau lihat" ucap Titan.


"Terima kasih Titan atas pujiannya"


"Anda waras siapa yang sedang memuji anda" dengus Titan. 

__ADS_1


__ADS_2