
Bismillahirohmanirohim.
Setelah pulang kerja Derrell, Fian dan Dul benar-benar pergi nongkrong bersama di tempat biasa mereka, setelah satu bulan lebih tidak ada waktu untuk nongkrong bersama. Dulu waktu Derrell dan Dul masih menjadi ob mereka bertiga sering sekali nongkrong bareng setiap pulang kerja.
"Akhirnya kalian berdua datang juga" ucap Dul semangat, saat melihat Fian dan Derrell sudah berdiri di depannya.
"Maaf dul kamu nunggu lama ya" ucap Derrell tidak enak.
"Nggak kok gue nya aja yang datangnya kecepatan saking senangnya mau nongkrong bareng kalian lagi" sahut Dul tersenyum.
"Pesen dulu, mau pesan apa" tambah Dul lagi.
"Biasa" ucap Derrell bersama dengan Fian.
Dul memesan makanan dan minuman untuk mereka bertiga di cafe sederhana tempat mereka nongkrong, di sana sudah disiapkan sebuah alat khusus untuk memesan makanan di setiap meja yang ada di cafe tersebut, semua meja sudah diberi fitur pemesanan agar membuat pelanggan lebih muda dan lebih nyaman.
Di tahun 2039 semua tempat hampir menggunakan sistem untuk mempermudah segala hal, tapi yang tidak mereka sadari sebenarnya mereka sedang membuat manusia punah, untung saja walaupun begitu car group yang merupakan salah satu perusahaan teknologi terkenal di kota X selalu mencoba terlebih dahulu setiap sistem yang mereka luncur kan ataupun yang diluncurkan oleh perusahaan lain.
Semua teknologi yang resmi muncul di kota X selalu diuji coba terlebih dahulu oleh perusahaan car group. Karena perusahan car group adalah salah satu perusahan terbesar yang bertanggung jawab untuk semua sistem resmi yang ada di kota X.
Maka dari itu car group harus benar-benar memastikan jika sistem tersebut tidak merugikan masyarakat. Tapi jika ada sebuah sistem yang tidak resmi di kota X atau belum dicoba oleh car group maka, car group tidak bisa bertanggung jawab, karena itu kesalahan dari pihak pemakai kenapa tidak memberitahu car group terlebih dahulu tentang sistem yang bisa mereka gunakan.
Kita kembali kepada tiga laki-laki yang sedang asik mengobrol sambil menghabiskan makanan mereka. "Wah ternyata makannya tidak berubah masih sama seperti dulu" ujar Derrell. Mendengar perkataan Derrell, Dul dan Fian memukul kepala Derrell secara bersama.
Duk.
"Yaak, kok kepala saya dipukul" protes Derrell tidak terima.
"Lagian lo kayak setahun baru dateng kesini lagi" komentar Dul yang digangguki oleh Fian.
__ADS_1
"Kita baru sebulan lebih Rel kagak kesini, jadi wajar sih rasa makanan nya masih sama" ucap Dul.
"Iya juga sih" Dul dan Fian menggeleng pelan melihat tingkah Derrell, mungking efek dari naik jabatan di car group membuat dirinya tambah pusing. Karena pekerjaannya semakin banyak.
Ting…
Suara hp Derrell yang berbunyi membuat Derrell buru-buru membuka hp nya, dia tahu suara dari hp nya barusan adalah notifikasi dari magic system. "Ajo berada disini, hati-hati jika ada yang mengenalinya bisa berbahaya" membaca pesan di dalam hatinya yang diberikan magic system membuat Derrell melotot sempurna.
Derrell menepuk kepalanya pelan. "Oh tidak aku melupakan pembunuh bayaran yang ceroboh itu" batin Derrell sambil menepuk jidatnya.
Melihat hal itu Fian dan Dul merasa bingung. "Lo kenapa Rel?" kali ini Fian yang bersuara untuk mewakili rasa penasaran dirinya dan juga Dul.
"Kagak" Derrell menjawab sambil celingukan untuk mencari keberadaan Ajo.
"Ada yang lo cari Re?" tanya Fian lagi.
"Kagak, tadi mendadak pusing aja" bohongnya, tentu saja Fian dan Dul tidak percaya mereka kenal seperti apa Derrell itu tapi ya sudahlah, nanti juga kalau Derrell sudah mau bercerita pasti dia akan menjelaskan semuanya.
Tak lama setelah itu ada seorang laki-laki seumuran dengan Derrell dan yang lainnya mendekat ke meja mereka. "Derrell akhirnya aku menemukanmu" ucap orang itu tanpa permisi.
"Lo siapa kok kenal Derrell?" tanya Fian penasaran. Pasalnya orang yang ada dihadapan mereka saat ini menggunakan masker dan topi.
"Awas aja kalau si pembunuh bayaran yang katanya mau tobat ini bikin ulah" batin Derrell merasa was-was. Derrell terus mengeluh dalam hatinya.
"Penasaran banget nih sama gue siapa tapi janji ya nggak akan kaget, soalnya kalau kalian kaget bisa bahaya" ucap Ajo sambil memelankan suaranya.
Ya siapa lagi pembunuh bayaran yang terkenal di kota X yang katanya mau tobat dan perna bertemu dengan Derrell kalau bukan sih Ajo.
"Tinggal ngomong jangan bikin orang penasaran" sahut Dul yang mulai tidak sabar siapa sosok dibalik masker tersebut.
__ADS_1
"Suruh duduk dulu kek apa gimana"
"Ribet benar dah, duduk tinggal duduk kursi banyak" sahut Derrell sinis. Derrell menatap tajam Ajo.
Ajo maksud dengan tatapan tajam yang Derrell berikan pada dirinya itu seakan mengatakan sesuatu. 'Jangan berulah Jo karena disini tempat berbayarah buat lo, bisa gawat kalau lo dikeroyok massa' seperti itulah maksud dari tatapan yang Derrell berikan pada Ajo.
Mendengar perkataan Derrell Ajo langsung duduk disebelah Fian yang berhadapan tepat di depan Dul. "Taraa.." ucap Ajo setelah membuka maskernya.
"Kalian tau kan siapa gue" ucap Ajo pede sambil menaikan satu aslinya.
"Yaak, mana kita tahu liat lo aja baru kali ini" sahut Fian dan Dul secara bersama.
Ingin sekali rasanya Derrell tertawa terbahak-bahak saat itu juga karena Fian dan Dul tidak mengenali Ajo.
Nama Ajo memang sangat terkenal di kota X namun hanya beberapa orang saja yang tahu seperti apa muka pembunuh bayaran yang sangat terkenal di kota X itu dengan sebutan Jo si pembunuh bayaran yang handal. Kalau banyak yang tahu bisa dalam bahaya dirinya dikeroyok massa.
"Sungguh menyedihkan buka Jo kau tidak dikenali oleh mereka" ucap Derrell dengan enteng setelahnya.
"Apa!" ucap Fian kaget.
"Fian pelankan suaramu, bisa gawat kalau banyak yang dengar" tegur Derrell.
"Sorry tapi yang benar dia Jo?" tanya Fian pelan, sedangkan Dul hanya diam saja karena dia memang benar-benar tidak tahu siapa itu Jo.
"Menurut lo gimana" ujar Ajo sambil mengeluarkan jurusan tatapan tajamnya pada Fian.
Memang selain terkenal sebagai pembunuh bayaran yang handal Ajo juga terkenal sebagai pemilik mata singa yang mematikan.
Derrell melempar sendoknya pada Ajo dengan pelan. "Jangan berulah Jo, berkelanalah dengan baik" tegur Derrell.
__ADS_1
"Baiklah, maafkan aku" ucapnya pada Fian. Fian tidak tahu situasi apa yang sedeng dia alami saat ini tapi lebih baik dia mengangguk saja, Fian berpikir bagaimana Derrell bisa berteman dengan orang berbahaya di sebelahnya dan bagaimana Derrell bisa berani sekali dengan Ajo, mungkin banyak pertanyaan sekarang yang muncul di kepala Fian.