Magic System

Magic System
Musuh Jaka


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim.


Masih di posisi yang sama Ajo dan yang lainnya sedang memojokan Amira dan Derrell. Ets tapi jangan salah bukan Derrell namanya jika tiba bisa membuat mulut orang-orang yang sedang memojokkannya ini bungkam. Jangan panggil Derrell jika dia tidak bisa membuat orang lain terdiam seribu bahasa. 


"Udah selesai ngomongnya?" 


"Belum"


"Bagus! kalau belum lo lanjut di kandang singa Jo"


Mendengar ucapan Derrell, Ajo tidak berani lagi berkomentar. "Sekarang mau tetap disini aja apa kembali sama tugas masing-masing?"


"Its oke kalau mau tetap disini nggak papa, tapi aja biar gue sama Fian aja yang nerusi projek ini karena dari awal kan memang ini hanya projek yang akan aku kerjakan bersama Fian"


"Rel kok kita kena juga" hanya pak Arton yang berani memotong ucapan Derrell"


Derrell tersenyum pada pak Arton. "Maaf untuk kali ini bapak Arton dan kakek Harto harus kena batunya juga" ucap Derrell tersenyum kecil.


"Jadi sekali lagi pilih mau terus mojokin gue atau out dari projek ini"


Mereka semua saling melirik satu sama lain tahu jika sekarang Derrell benar-benar sedang ada dalam mode marah.


"Kita kembali bekerja masing-masing" menjawab dengan kompak.


"Bagus jadi tunggu apalagi kakinya kok nggak bergerak"


Spontan mereka semua kembali ke tempat masing-masing lalu melanjutkan pekerjaan yang tertunda. "Dan anda mau kemana nona?" tanya Derrell pada Amira yang mengikuti langkah pak Arton.


"Saya juga akan melakukan pekerjaan saya yang tadi tertunda" cicit Amira. Sambil memainkan kedua jarinya.


"Bagus tapi tugas anda dengan saya!" tegas Derrell.


"Hmmm"


"Jangan cemberut nona anda sendiri yang mengantarkan diri kesini. Ingat satu hal tidak ada bayaran saat anda membuat projek yang sudah saya rancang, karena anda dan mereka semua" sambil menunjuk orang disekitar satu persatu. Kecuali Fian tentunya.

__ADS_1


"Kecuali Fian mengantarkan diri dengan sukarela untuk membantu saya membuat projek ini, sedangkan Fian sayang sendiri yang mengajaknya, jadi anda fahamkan apa yang saya maksud" 


Amira mendengus kesal mendengar ucapan Derrell. "Bapak Derrell yang terhormat tentu saja saya tahu ini akan terjadi, dan saya sadar diri memang kemauan saya sendiri untuk membantu anda yang belum berpengalaman ini membuat projek canggih"


Amira tersenyum dalam hati. "Dia kira aku nggak bisa bales dia" batian Amira. 


Amira dan Derrell masih adu mulut, tak ada yang mau mengalah sedangkan suara dentingan terdengar dimana-mana, suara itu berasal dari Dul yang sedang membuat bagian untuk ban mobilnya nanti.


"Hei tuan dan nyonya sampai kapan kalian berdua akan terus adu mulut, ini kerjaan kagak bakal kelar kalau kalian berdua dari tadi cuman adu bacot doang" suara Fian mampu membuat Amira maupun Derrell langsung terdiam tanpa berkata-kata lagi.


Seakan tak mendengarkan teriakan Fian. Amira dan Derrell mulai sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.


Seseorang menepuk pundak Fian. "Kalau udah selesai teriaknya lanjut kerja oke nak Fian"


"Hehehe, kakek Harto oke kek" Fian menjawab sambil tangan nya kembali bekerja.


Kini mereka semua benar-benar berada di dunia mereka masing-masing, sampai 30 menit kemudian keheningan yang tercipta kini mulai riuh kembali saat Derrell kembali bersuara.


"Fian boleh istirahat sedangkan yang lainnya lanjut bekerja" ucap Derrell enteng.


"Inget kalian semua 40 menit yang lalu sudah beristirahat semalam 20 menit sedangkan Fian belum istirahat sama sekali, jadi tidak ada bantahan" tegas Derrell.


"Kalau bosnya macam Derrell ini bisa mati satu persatu karyawannya"


"Saya masih bisa mendengarnya kakek Harto"


"Terserah kau saja Derrell! kau pemilik nya jadi otomatis lo yang menang" sela Ajo sebelum kakek Harto membalas ucapan Derrell.


"Bagus kalau sadar" 


"Lah lok kira selama ini gue gila gitu?" tanya Ajo dengan polosnya.


"Mungkin! ets tapi yang ngomong kalau lo itu gila mulut lo sendiri, ups keceplosan"


***

__ADS_1


Sementara itu di tempat lain, lebih tepatnya di luar negri kota London. Jefri tidak menyadari jika dirinya selama di London selalu diam-diam diintai oleh beberapa orang. Mereka semua tahu apa saja yang Jefri lakukan selama Jefri berada di dalam london.


"Jadi kapan kita akan bereaksi dan memusnahkan tikus satu itu dulu"


"Sepertinya dia orang yang ceroboh jadi lebih mudah  untuk kita memusnahkan tikus satu ini. Sepertinya juga dia tidak mengetahui bahwa kita selalu mengikutinya nya"


Mereka adalah  kelompok yang selama ini mencari keberadaan Jefri, mereka juga orang-orang yang dimaksud oleh Jaka, jika mereka merupakan musuh bebuyutan Jaka sejak dulu. 


"Kita akan beraksi besok tapi kita juga harus melihat situasi besok, jika sudah aman maka kita akan langsung bergerak menghancurkan satu kutu pengganggu itu"


Ucap bos dari musuh Jaka. Mereka semua mengangguk setuju dengan usulan yang dibicarakan oleh bos mereka. 


Mereka semua menikmati makanan sederhana yang dibeli oleh bos mereka. "Ingat jangan sampai rencana yang sudah kita susun dengan matang ini gagal" bos mereka mengunyah satu roti yang ada di depannya, sambil meneguk sebuah jus alpukat yang sudah tersedia.


"Saya mau kalian terus mengawasi keberadaan Jefri sampai besok waktunya tiba jangan sampai dia curiga. Dia tahu jika ada musuh yang mengikutinya kesini, tapi dia merasa tenang karena dia tidak tahu pergerakan yang kita lakukan"  


"Apakah kalian semua paham" dia menatap satu persatu anak buahnya yang menggunakan baju serba merah dan dilengkapi berbagai macam senjata kecil yang mereka taruh di antara badan mereka masing-masing.


"Kami semua paham bos!" ucap mereka mengangguk mantap.


Ting….


Sementara itu Derrell yang baru saja selesai mengerjakan projek nya dengan yang lain walaupun masih banyak bagian yang harus mereka kerjakan lagi, tapi mereka butuh istirahat terlebih dahulu untuk melanjutkan kegiatan mereka besok lagi. 


Seperti biasa Derrell langsung membuka hp nya untuk melihat notifikasi apa yang dikirim oleh magic system, tak lupa preman yang sedang Derrell **** untuk membuat mulutnya terasa segar.


"Apa!" 


"Gue kagak salah bacakan?" entah bertanya pada siapa Derrell, tapi dia kembali membaca sekali lagi notifikasi yang dikirim oleh magic system.


"Benar king Derrell, jika Jefri saat ini sedang diawasi sangat ketat oleh musuh Jaka dan mereka berencana besok akan menghabis Jefri" jelas magic system, sudah lama Derrell tidak mendengar suara magic system.


"Baguslah kalau begitu, aku akan menunggu kabar baiknya, pastikan jangan sampai besok dia lolos dari mereka"


Magic system mengeluarkan sedikit cahaya. "Baik king akan dipastikan besok Jefri tidak dapat lolos dari musuh Jaka, ayah dari Jefri itu sendiri" balas magic system.

__ADS_1


 


__ADS_2