
Waktu terus berjalan dan Rani semakin mengenal kepribadian Mahar, tapi hubungannya dengan Saskia semakin berselisih.
"Apa kamu masih tetap dengan pendirianmu untuk menunda keturunan?" tanya Saskia dengan sinis ketika menghampiri Rani di dapur.
Rani menoleh ke arah Saskia dan mengangguk untuk memberi jawaban.
"Dasar bodoh!" tukas Saskia sambil mengambil minuman dingin di lemari es.
Rani memilih diam dan tidak meladeni ucapan Saskia, dia lebih fokus pada sesuatu yang tengah dia pikirkan.
"Tapi, sepertinya kamu itu wanita yang berbahaya. Diam dan tenang, tapi kamu menghanyutkan. Pertarungan dingin kita masih berlaku, siapa di antara kita yang berhasil menghancurkan Mahar lebih dulu." ucap Saskia dengan melipat kedua tangan di dada.
Rani menggelengkan kepala mendengar ucapan Saskia, lalu beberapa detik kemudian dia mengatakan sesuatu.
"Kak, apa kakak masih tetap menjalankan rencana kakak? Sudahlah kak, mari berdamai. Jika kakak bisa memberi keturunan, pasti kakak bahagia." tukas Rani mencoba menasehati Saskia.
"Apa? Keturunan? Bahagia? Jangan naif kamu. Kalau kamu punya anak, bakal di tendang sama Mahar. Dia akan cari lagi istri baru yang bisa jadi budak nafs*unya." seru Saskia dengan yakin.
Rani mengerutkan dahi mendengar ucapan Saskia. Kemudian dia bertanya,
"Kenapa kamu bicara seperti itu?" Rani tentu saja merasa heran dengan pernyataan Saskia yang berbeda dengan ungkapan Mahar yang menginginkan keturunan.
"Asal kamu tahu ya, kalau saja Mahar mau menjadi laki laki bertanggung jawab, mungkin anaknya udah banyak di luar sana. Tapi dia sering meminta untuk menggugurkan kehamilan para wanita yang pernah dia tiduri. Sampai sampai dia melakukan vasektomi agar benihnya tidak tumbuh di rahim wanita. Kamu tahu itu?"
Jawaban Saskia benar benar mengejutkan Rani. Tapi pikirannya segera mengarah pada ucapan Mahar waktu itu, bahwa tidak ada rahasia di hidupnya. Bahkan semua orang tahu tentang keburukannya. Apa itu semua termasuk apa yang di ucapkan Saskia?
Rani termenung memikirkan hal itu, hingga kemudian dia di kagetkan oleh suara Saskia.
"Kenapa diem? Kamu kaget? Atau nyesel ngambil keputusan untuk tetap punya anak sama Mahar?"
__ADS_1
Rani masih saja membisu, pikirannya di buat bimbang dengan pernyataan yang di sampaikan oleh Saskia. Namun, wanita itu kembali meracuni pikiran Rani.
"Sebenarnya apa yang aku lakukan ini merupakan bentuk pembalasan dari banyak wanita yang sudah merasa tersakiti oleh Mahar. Jika kita tidak memberi pelajaran, maka laki laki itu akan bertindak seenaknya terus mentang mentang dia kaya. Jadi kuncinya, dia harus kehilangan hartanya agar bisa merasakan hukuman." kalimat Saskia terdengar begitu yakin. Dan hal itu sempat merasuk ke dalam pikiran Rani untuk menyetujuinya.
"Apa memang harus seperti itu ya kak?" tanya Rani dengan polos.
"Iya. Tapi ya terserah kamu aja gimana mikirnya?" sahut Saskia sambil berlalu dari hadapan Rani.
Setelah lima belas menit melalukan percakapan dengan Saskia, Rani menjadi kepikiran terus tentang hal itu. Dia ingin tahu kebenaran yang sesungguhnya, dan rencananya jika nanti Mahar pulang kerja, Rani akan menanyakan langsung tentang hal itu.
Hari telah berganti sore, Rani tidak sabar untuk menanti kedatangan Mahar untuk menginterogasi tentang hal yang di sampaikan oleh Saskia. Namun, ketika Mahar tiba dari kantor, dia lebih dulu menghampiri Saskia di kamarnya. Rani yang awalnya merasa tidak pernah mempermasalahkan tentang hal itu, entah mengapa sore itu dia menjadi kesal karena melihat Mahar selalu mendatangi Saskia lebih dahulu.
Kekesalan itu terjadi entah karena dia tidak sabar menanti untuk bertemu Mahar, atau karena dia mulai merasa cemburu? Karena tidak dapat Rani pungkiri bahwa Mahar adalah pria yang pandai merayu dan memberi sentuhan kepada wanita. Hingga pada akhirnya Rani pun terlena pada sentuhan Mahar.
Tapi Rani segera mengingat ucapan Saskia agar tidak terlalu terbuai oleh pesona Mahar hingga membuat dirinya nanti terbuang jika sudah memiliki anak. Hal itu tentu akan sangat merugikan dirinya.
Dengan sedikit menenangkan diri, Rani tetap menunggu hingga Mahar keluar dari kamar Saskia. Namun, kepalanya selalu di penuhi hal hal intim yang di lakukan Mahar dan Saskia seperti ketika Mahar sedang bersama dirinya. Dan hal itu sangat mengganggu hati dan pikirannya, hingga membuat ketenangannya berantakan.
"Kenapa lama sekali tidak keluar dari kamar kak Saskia?"
Satu pesan telah masuk, dan sayang sekali bukan Mahar yang membukanya. Melainkan Saskia. Perempuan itu tentu saja semakin membuat hati Rani semakin kesal dengan mengirim foto mereka berdua tanpa sehelai benang dengan di lengkapi satu kalimat.
"Sabar, aku sedang sibuk!"
Buughh,
Rani melempar ponselnya ke kasur, entah mengapa dadanya di buat sesak dengan nafas naik turun tidak karuan melihat foto itu.
"Apakah aku sudah mulai cemburu?" tanya Rani dalam hati kepada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak boleh mencintainya!" bantah Rani pada perasaannya sendiri.
Semakin dia berdebat dengan dirinya sendiri, Rani merasa semakin tidak tenang. Dia berjalan mondar mandir sambil mengamati jarum jam yang terlihat begitu lama untuk berputar. Hingga akhirnya jarum jam bergeser dan hampir enam puluh menit Mahar berada di kamar Saskia. Pria itu keluar dengan mengenakan kaos dan boxer. Dia berganti akan ke kamar Rani. Pria itu termasuk hiper dalam urusan ranjang, tapi dia juga berpikir bahwa memberi nafkah batin yang cukup akan menjaga hubungannya dengan dua istrinya tetap harmonis.
Ceklek,
Pintu kamar terbuka ketika Rani masih memasang wajah geram dan kesal. Rani yang tadi begitu menantikan kedatangan Mahar, entah mengapa kini justru merasa kesal dengan kehadiran pria itu di kamarnya.
"Hei sayang, kenapa cemberut gitu?" sapa Mahar sambil mencolek dagu Rani.
Rani menepis tangan Mahar lalu sedikit memalingkan wajahnya.
"Hey, kenapa?" Mahar kembali bertanya karena begitu heran melihat perubahan pada istri keduanya.
"Nggak apa apa. Kenapa kesibukannya tidak di lanjut saja?" pertanyaan Rani tentu membuat Mahar kebingungan.
"Kesibukan? Kesibukan apa?" tanya Mahar dengan polos.
"Udahlah, jangan pura pura lupa!" sahut Rani tetap dengan raut wajah kesal.
"Cukup, jangan berbelit. Aku tidak suka menebak nebak!" Mahar sepertinya mulai kesal jika harus menebak apa penyebab Rani merajuk.
"Ini!" tukas Rani sambil menunjukkan chat dan foto yang Saskia kirim.
Mahar dengan seksama memperhatikan foto itu, lalu dia berpikir pasti Saskia yang mengirimnya karena dia tidak merasa mengambil gambar itu. Namun, bukannya kesal kepada Saskia yang sudah memakai ponsel tanpa izin, Mahar malah menyalahkan Rani.
"Kamu marah karena hal ini?" tanya Mahar dengan terkekeh.
"Kenapa tertawa?" Rani merasa tidak terima karena suaminya justru menertawakannya.
__ADS_1
"Jelas saja aku tertawa. Kamu itu lucu, kamu tahu kan siapa dia? Dia istri pertamaku, apanya yang salah jika aku berlama lama di sana? Justru kamu harusnya berterima kasih karena Saskia tidak mempermasalahkan kita menikah, bahkan dia juga bersikap baik padamu. Bukan malah marah marah kalau aku lama lama berada di kamarnya!"