
Malam itu mereka menginap di rumah Nenek Titin demi menghindari pencarian Mahar.
Tok..tok..tok..
Terdengar pintu kamar mereka di ketuk, lalu Saskia membuka kan pintu.
"Ayo kita makan dulu, ajak teman kamu untuk makan." ujar Nenek Titin.
"Iya Nek, tapi makanannya aku bawa ke kamar aja boleh nggak?" tanya Saskia.
"Makan kok di dalam kamar? Nggak boleh, kamu harus makan di luar." jawab Nenek Titin dan Saskia pun tidak bisa mengelak. Dia segera mengajak Rani untuk keluar kamar menyantap makan malam bersama.
__ADS_1
Setelah usai makan, Nenek Titin mulai mengajak bicara cucunya.
"Gimana kabar kamu Nak? Nenek dengar kamu sudah bercerai?" tanya sang Nenek.
"Iya Nek." jawab Saskia dengan singkat sembari menelan satu suapan terakhir dari sendoknya.
"Memangnya kenapa sih kalian harus bercerai? Bukankah sebelumnya rumah tangga kalian begitu bahagia?" tanya Nenek Titin lagi dan pertanyaan itu sempat membuat Rani mendongakkan kepalanya.
"Itu dulu, sebelum ada wanita lain yang hadir dalam rumah tangga kami." jawab Saskia dengan ketus, bahkan pandangannya sempat sejenak mengarah kepada Rani.
"Iya Nek. Aku nggak sedih kok, aku baik baik aja. Apalagi sekarang aku sudah mulai melihat penderitaan mereka, dan sebentar lagi aku akan melihat kehancuran mereka secara perlahan." jawab Saskia dengan senyum simpul seraya melirik ke arah Rani.
__ADS_1
"Ya sudah, mulai sekarang kamu harus lebih hati hati jika dekat dengan laki laki." Kakek Seno ikut memberikan petuah kepada cucunya.
"Oh iya, temen kamu ini masih lajang atau udah nikah?" mendadak Nenek Titin bertanya status Rani hingga membuat Rani kebingungan untuk menjawab.
"Udah nikah Nek. Lagi hamil malahan." Mendadak Saskia menyela.
"Loh loh, udah nikah dan lagi hamil kok kamu ajak menginap di sini? Nanti kalau di cari suaminya bagaimana?" Nenek Titin kembali bertanya dan lagi lagi Rani tidak mampu memberi jawaban.
"Nasibnya juga nggak jauh beda sama aku Nek. Suaminya kerja ke luar kota tanpa ada kabar. Mungkin sebentar lagi dia juga akan mendapat status yang sama seperti aku. Itu sebabnya dia aku ajak ke sini, biar nggak stress mikirin suaminya. Dia kan lagi hamil, jadi nggak boleh mikir yang berat berat." Saskia kembali menyela percakapan Nenek Titin dan Rani.
"Kasihan sekali kamu Nak. Apa benar begitu seperti yang dikatakan Saskia?" Tanya Nenek Titin kepada Rani untuk memastikan, kemudian Rani mengangguk menjawab pertanyaan dari Nenek Titin, karena dia sudah mendapat isyarat dari bawah meja. Kaki Saskia sengaja menginjak kaki Rani untuk memberi penekanan dan kode agar Rani mengiyakan semua ucapannya.
__ADS_1
"Ya sudah. Kamu bisa tinggal di rumah ini sampai kamu merasa tenang. Anggap saja seperti rumah sendiri. Nenek dan Kakek justru merasa senang jika kalian tinggal di sini, karena rumah ini tidak sepi lagi." ujar Nenek Titin.
"Iya Nek." jawab Rani dengan wajah penuh tekanan. Raut wajah Rani membuat Nenek Titin dan Kakek Seno semakin yakin jika Rani memang sedang mengalami masalah dengan suaminya. Padahal yang sebenarnya terjadi, masalah Rani di timbulkan oleh Saskia, cucunya sendiri.