
Siang itu Saskia membawa Rani ke tempat yang sangat asing. Mobilnya berhenti di suatu rumah terpencil di sebuah bukit yang tidak bertetangga.
Untuk menuju ke sana pun memerlukan waktu empat jam dari rumah Mahar.
"Cepat keluar mobil dan masuklah ke dalam rumah. Dan ingat, jangan sekali kali mencoba untuk kabur, karena salah jalan sedikit, kamu akan terperosok ke jurang." ucap Saskia memberi peringatan kepada Rani sebelum mereka turun dari mobil.
Rani akhirnya turun dari mobil tersebut dengan hati dan pikiran yang tidak karuan, air matanya pun mulai berderai membasahi pipi.
"Apa yang mau kamu lakukan padaku kak?" tanya Rani sambil menyeka air matanya.
"Apa yang mau aku lakuin? Aku mau ngasih tau sama kamu konsekuensi yang harus kamu terima karena dulu sudah menolak tawaranku." jawab Saskia sembari mengambil minuman di dalam lemari es.
__ADS_1
"Apa maksud kakak? Apa kak Saskia akan membunuhku dan bayiku?" Rani kembali bertanya dengan terus terang.
"Tidak sebodoh itu! Aku tidak ingin mengotori tanganku untuk melakukan kebodohan, yang aku mau hanya lah melihat kehancuran tanpa harus mengotori tanganku sendiri." ungkap Saskia sembari meneguk minuman dingin itu.
Di lain tempat, Mahar sedang panik mencari keberadaan Rani. Dia mendapat informasi dari satpam penjaga pintu gerbangnya, karena setelah beberapa menit Saskia meninggalkan rumah bersama Rani, satpam penjaga rumah Mahar itu segera menghubungi majikannya setelah di rasa ada yang janggal dengan kepergian Saskia serta Rani.
"Bodoh! Kenapa kamu tidak menghubungiku ketika Saskia datang ke rumah!" Mahar melampiaskan amarahnya kepada satpam tersebut.
"Maaf Tuan, saya tidak berpikir seperti itu karena kata Nyonya Saskia, Tuan yang menyuruh dia datang kembali pulang ke rumah." jawab satpam itu dengan jujur.
"Saat mereka pergi, apakah Rani terlihat seperti di paksa atau biasa saja ekspresinya?" Mahar kembali bertanya kepada satpam itu guna mencari tahu informasi lebih detail.
__ADS_1
"Maaf Tuan, sepertinya terlihat tidak ada paksaan. Sebelum berangkat Nyonya Saskia juga berpesan jika anda pulang dan mencarinya, suruh bilang jika Nyonya Rani sedang dia ajak pergi oleh Nyonya Saskia." jelas satpam itu tanpa ada yang di tutup tutupi.
"Kurang aj-ar! Apa jangan jangan mereka sudah bersekongkol? " Prasangka buruk mulai memenuhi pikiran Mahar.
Setelah sempat membuat asumsi yang negatif, Mahar meraih ponselnya untuk mengetahui di mana Rani tengah berada melalui GPS. Akan tetapi, sayang sekali hal itu sia sia karena ternyata ponsel Rani berada di rumahnya.
"Sial! Dia tidak membawa ponsel!" Gerutu Mahar dengan raut wajah yang garang.
Setelah sempat diam sejenak memikirkan langkah apa yang akan dia tempuh, Mahar kemudian berniat mencari ponsel Rani dan ingin mengeceknya. Namun, setelah di lakukan pengecekan, tidak ada yang janggal dari dalam ponsel Rani.
"Tidak ada hal yang mencurigakan. Atau mungkin dia sudah menghapus hal hal yang tidak aku ketahui? Nomor Saskia pun bahkan tidak ada di sini." gumam Mahar ketika sedang mengecek ponsel Rani.
__ADS_1
"Apa hal ini tandanya Rani memang tidak bekerja sama dengan Saskia? Tetapi, jika memang mereka tidak bersekongkol, lalu mengapa Rani tidak nampak terpaksa ketika Saskia membawanya pergi dari rumah ini tanpa seizin ku?" Beberapa argumen mulai membayangi benak Mahar dan membuatnya semakin bimbang.
Hingga hari sudah mulai gelap, masih belum ada tanda tanda kedatangan Rani dan juga Saskia. Mahar pun juga belum mendapat petunjuk kemana dia harus mencari keberadaan kedua istrinya yang pergi tanpa jejak.