Mahar Untuk Rani

Mahar Untuk Rani
Meminjam ponsel


__ADS_3

Hari itu Rani memutar otak untuk mencari cara agar bisa kembali memberi petunjuk kepada orang lain tentang keberadaannya. Hingga akhirnya dia mendengar jika hari itu, Saskia akan pergi bersama kakeknya untuk membeli mobil baru sebelum mobil lamanya terjual.


Tersirat sedikit harapan di benak Rani untuk menyusun rencana baru ketika Saskia pergi keluar rumah. Tetapi, hingga Saskia dan Kakeknya benar benar berangkat, Rani belum tau harus melakukan apa.


"Ayo Rani, kamu harus melakukan sesuatu!" ujar Rani dalam hati.


Setelah sempat mondar mandir ke sana kemari untuk memikirkan rencana barunya, tiba tiba terdengar pintu kamarnya di ketuk.


Tok..tok..tok..


Rani sejenak mematung, lalu dia segera berjalan menuju pintu untuk membukanya. Dan ketika pintu sudah terbuka, dia lihat Nenek Titin sudah berada di sana sambil menyapanya.


"Pagi Nak Rani, kenapa kamu tidak ikut sarapan? Ayo buruan sarapan, di rumah tidak ada orang. Saskia sudah pamit kan sama kamu?" tanya Nenek Titin.


"Emm, iya Nek. Maaf saya tidak tahu, tadi saya bangun kesiangan karena kurang enak badan." Rani mencoba berkilah.

__ADS_1


"Oh begitu, ya sudah. Ayo buruan makan, biar Nenek temenin," ujar Nenek Titin. Rani kemudian keluar dari kamar menuju ke meja makan dengan di temani oleh Nenek Titin.


Setelah tiba di meja makan, wanita tua itu masih setia menemani Rani menyantap makanannya seraya mengajaknya bercakap cakap.


"Ayo di makan, nggak usah sungkan sungkan. Anggap di rumah sendiri." ujar beliau.


"Iya Nek." Jawab Rani sambil menganggukkan kepala.


Ketika makanan Rani sudah habis, Nenek Titin masih saja mencoba mengajak Rani bercakap cakap agar tidak merasa kesepian.


"Apa kamu perlu berobat ke Dokter?" tanya beliau.


"Jangan terlalu banyak pikiran, kamu kan sedang hamil." Nenek Titin mencoba lebih akrab dengan Rani. Namun, di tengah tengah perhatian yang di berikan oleh beliau, Rani tiba tiba terpikirkan sesuatu. Meski sedikit ragu, tetapi dia mencoba melakukan cara itu.


"Sebenarnya aku rindu seseorang Nek, " ujar Rani dengan wajah memelas.

__ADS_1


"Rindu? Pada siapa?" tanya sang Nenek.


"Pada Ibu." Jawab Rani sembari menundukkan kepala.


"Ibu? Dimana ibu kamu? Apa kamu tidak pernah bertemu dengan dia?" tanya beliau, dan Rani pun menggeleng.


"Beliau tinggal di luar pulau, sementara aku di sini ikut suamiku. Tapi sayang sekarang kami malah berpisah. Aku tidak punya cukup ongkos untuk pulang ke sana, ponselku saja kemaren aku jual untuk makan Nek." ungkap Rani dengan penuh kesedihan.


"Kasihan sekali kamu Nak. Andai nenek punya banyak uang, pasti Nenek bantu kamu biar bisa pulang. Atau kamu bisa coba pinjam uang ke Saskia, dia sepertinya punya tabungan yang lebih." ujar Nenek Titin.


"Tidak Nek. Tidak perlu. Jika di izinkan, sebenarnya aku hanya ingin meminjam ponsel untuk menghubungi Ibu. Aku hanya ingin sekedar memberi kabar kepada beliau, bahwa di sini aku baik baik saja. Aku mau pinjam ke Kak Saskia itu nggak enak, karena aku lihat dia selalu sibuk dengan ponselnya."jawab Rani.


"Oha hanya itu, tentu saja boleh. Ini silahkan kamu pakai." sahut sang Nenek seraya memberikan benda pipih itu kepada Rani.


Merasa mendapat kesempatan emas, Rani pun lekas menerimanya, lalu dia segera mengirim pesan kepada Mahar. Dia bahkan bertanya kepada Nenek Titin tentang alamat rumah beliau, dan tanpa curiga, Nenek Titin pun memberitahunya.

__ADS_1


Setelah berhasil mengirimkan pesan kepada suaminya, Rani segera mengembalikan ponsel tersebut.


"Ini Nek, terima kasih."


__ADS_2