Mahar Untuk Rani

Mahar Untuk Rani
Keturunan


__ADS_3

Rani masih termenung mendengar ucapan Saskia, dia benar benar merasa di posisi sulit. Sempat terlintas di benaknya untuk menceritakan kisahnya kepada kedua orang tuanya, tapi sepertinya itu adalah pilihan yang keliru karena kedua orang tua Rani pasti juga akan mendukung hal itu. Sementara Rani tidak cukup punya nyali untuk menjadi perampok dan penjahat lelaki.


"Kamu tidak perlu memikirkannya, karena aku tidak menyuruhmu untuk memilih. Aku mengizinkan dia menikah lagi dengan tujuan agar kamu bisa membantuku, tapi jika kamu menolaknya, maka kamu sendiri yang akan terbelit masalah!" tukas Saskia sambil berdiri dan hendak keluar dari kamar Rani untuk kembali ke kamarnya karena Mahar masih tertidur di sana.


"Tunggu,..." ucap Rani kepada Saskia ketika perempuan itu sudah mulai melangkah. Saskia berhenti dan menoleh kearah Rani.


"Ada apa?" tanya Saskia.


"Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak tahu." jawab Rani polos.


Saskia tertawa sumbang karena ucapan Rani terdengar begitu lugu.


"Apa kamu sepolos itu? Aku perlu waktu untuk mengenalmu, aku takut kamu hanya berpura pura untuk membodohi ku lalu menjebak ku!"


Satu jawaban dari Saskia semakin membuat Rani kebingungan. Dirinya kini merasa tertekan, dia pikir dia hanya akan menderita karena nikah paksa. Tapi ternyata dia harus menghadapi konflik antara istri tua suaminya dengan suaminya sendiri, dan bahkan dirinya juga ikut di libatkan.


Satu minggu kemudian suasana masih terasa nyaman seolah tidak ada sesuatu yang di pendam antara Saskia dan Rani. Mahar juga tidak mencurigai niat buruk dari istri tuanya, dia justru merasa termanjakan oleh dua istrinya tanpa adanya perdebatan dan pertengkaran. Mahar sendiri kadang juga heran sekaligus bersyukur karena dia termasuk laki laki beruntung yang punya dua istri yang saling mengerti dan hidup rukun dalam satu rumah.


Tapi ada satu hal yang sangat di nanti oleh Mahar, yakni keturunan. Saskia yang lebih dulu menikah dengan Mahar juga tak kunjung hamil, harapannya bertambah kepada Rani agar lekas memberinya keturunan. Tapi sepertinya harapan Mahar akan sia sia saja karena memang selama ini Saskia mengkonsumsi pil kontrasepsi, begitu pula dengan Rani. Saskia yang meminta Rani untuk meminumnya, tentu saja dengan tujuan agar mereka tidak memiliki keturunan dari Mahar. Terlebih sebelum melihat Mahar hancur.


Awalnya Rani selalu menolak perintah Saskia, tapi dia tidak bisa berbuat banyak karena dirinya takut Saskia akan berbuat nekat yang membahayakan dirinya. Dan sudah dua minggu Rani mengkonsumsi pil kontrasepsi tanpa sepengetahuan Mahar.


Hari ini Mahar mulai masuk ke kantor setelah sempat beberapa hari cuti, ketika dirinya tidak berada di rumah, Saskia selalu memberi masukan masukan negatif kepada Rani untuk menusuk Mahar dari belakang. Sepertinya Saskia memang ingin menggunakan Rani sebagai senjata, sehingga jika kejahatannya terbongkar oleh Mahar, maka Rani lah yang akan kena batunya.


"Tapi aku tidak berani melakukannya kak, aku juga tidak tahu dimana berkas itu di simpan," jawab Rani ketika Saskia memintanya untuk mencari berkas penting di kamar Mahar agar bisa mengambil alih hak kepemilikannya.

__ADS_1


"Bodoh, kamu bisa tanya sama dia saat kalian bercinta. Kamu rayu dia agar membahas soal itu, itulah caraku untuk mendapatkan surat surat berharganya." bentak Saskia kepada Rani.


"Maaf kak, aku takut." sahut Rani sambil menunduk.


"Dasar lemah! Harusnya kamu jangan menikmati sentuhannya, otakmu harusnya tidak terlena dengan belaiannya. Mulai sekarang kamu harus tahu kelemahan Mahar, yaitu ketika dia sedang bercinta dia sangat lemah dan bodoh karena otaknya tidak sadar. Kamu harus manfaatkan moment itu untuk menghancurkannya. Kamu paham?" ucapan Saskia terdengar begitu menyudutkan Rani.


Wanita malang itu kini benar benar bingung harus berbuat apa. Dia harus merubah jiwa dombanya menjadi serigala yang sejatinya dia bukan serigala berbulu domba. Berbeda dengan Saskia yang selama ini pandai berpura pura.


"Banyak surat penting yang sudah aku ambil alih, dan sudah terlalu lama aku menunggu. Jadi dengan kedatanganmu ini harusnya mempercepat misiku untuk menghancurkan Mahar. Aku sudah lelah berada di sini. Aku sudah lelah menanti pria terkutuk itu mendapat hukuman!" amarah Saskia terdengar begitu menggebu gebu. Sementara Rani hanya bisa menjadi tempat pelampiasan amarah Saskia. Sebelum Mahar menikah lagi, Saskia selalu melampiaskan amarah kepada benda benda sekitarnya agar dirinya merasa tenang. Ambisinya untuk membalas dendam kian memanas sepanjang hari.


"Kak, ..." dengan ragu Rani memanggil.


"Apa?" jawab Saskia ketus.


"Untuk apa?" tanya Saskia dengan nada yang memekakkan telinga.


"Untuk ber, ber, berdamai saja?" Rani segera menutup telinganya dengan kedua telapak tangan karena dia pastikan Saskia akan menjawab dengan nada petir.


"Apa? Coba kamu ulangi sekali lagi? Mencoba untuk apa?" Suara Saskia sedikit melemah, tapi dia memasang tatapan bagaikan singa betina yang ingin menerkam mangsanya.


"Tidak kak, tidak jadi." Rani menarik lagi ucapannya karena tidak ingin menambah masalah.


"Aku tidak akan pernah berdamai, dan aku tidak terima dengan semua ini. Aku hanya ingin melihat kehancuran Mahar!" tukas Saskia dengan mata berapi api.


Keduanya saling terdiam. Saskia susah payah mengatur nafas di dadanya, sementara Rani menetralkan lagi pikirannya setelah sempat di beri tekanan yang menyudutkan oleh Saskia.

__ADS_1


Setelah saling menenangkan diri masing masing, Rani akhirnya memberanikan diri untuk bersuara.


"Kak, " panggil Rani kepada Saskia.


Saskia hanya melirik tanpa menjawab.


"Bukankah dengan lahirnya seorang anak membuat kakak lebih mudah untuk mengambil alih harta kepemilikan?" tanya Rani dengan ragu.


"Apa? Anak? Untuk membayangkannya saja aku tidak mampu dan tidak mau. Hidupku yang sekarang sudah terlalu menyiksaku, aku tidak ingin menambah tekanan hati gara gara mikir anak!" jawab Saskia dengan memalingkan wajah.


"Tapi kak,.." ucapan Rani terpotong.


"Tapi apa? Kalau kamu mau jadi ibu dan sekaligus pembantu, silahkan kamu bunting sana. Itu nggak penting bagiku, yang penting kamu harus tetap mengambil alih semua harta Mahar lalu kita singkirkan laki laki terkutuk itu. Tubuhku terasa kotor jika mengingat saat dia menjamahnya dengan semaunya sendiri." Saskia berkata sambil menggosok gosok tangan dan badannya seolah pertanda kalau tubuhnya begitu kotor.


Rani memikirkan ucapan Saskia, dia berusaha meyakinkan dirinya sendiri untuk mengambil langkah yang menurutnya tepat. Hingga akhirnya dia memilih satu langkah yang sepertinya kurang di sukai oleh Saskia.


Rani akhirnya memberanikan diri mengutarakan isi kepalanya kepada istri pertama dari suaminya itu.


"Kak, ada yang mau aku sampaikan sama kamu." tukas Rani.


"Tentang apa?" tanya Saskia dengan nada datar.


"Tentang, tentang, tentang ......"


"Tentang apa?"

__ADS_1


__ADS_2