
"Tidak akan ada yang berubah selama sikapmu pun tidak berubah! " Jawaban dari Mahar membuat Saskia sedikit berpikir.
"Maksud kamu apa? Bukankah justru kamu yang nantinya akan berubah jika sudah mendapat keturunan dari Rani? Bukan aku. Karena kamu pasti akan lebih banyak memberikan waktumu kepada dia." tanya Saskia kemudian.
"Kita lihat saja nanti!" sahut Mahar sambil kembali melangkah menuju ke kamar.
Pikiran Rani di penuhi ambigu dari jawaban Mahar. Dari situ saja dia sudah merasakan perubahan yang di alami oleh suaminya, tapi suaminya malah berkata bahwa dirinya tidak boleh berubah. Saskia segera sadar dari lamunannya setelah dia ingat bahwa suaminya sudah menunggunya di dalam kamar.
Usai memberi nafkah batin kepada istri pertamanya selama beberapa kali, kini Mahar tengah tertidur pulas. Namun berbeda dengan Saskia, pikirannya merasa di teror oleh ucapan suaminya sendiri sehingga membuat matanya enggan terpejam.
"Aku tidak boleh diam saja. Aku harus bertindak." ujar Saskia dalam hati. Malam itu Saskia masih terjaga hingga pukul dua dini hari, hingga akhirnya dia menemukan satu keputusan yang harus segera dia ambil.
Hari telah berganti pagi, matahari sudah menunggu di ufuk timur untuk memancarkan sinarnya kepada sang bumi dan isinya. Saskia sudah lebih dulu bangun lalu mandi dan berhias sebelum Mahar membuka mata. Dan benar saja, usai terbangun Mahar di suguhkan dengan paras wajah Saskia yang cantik.
__ADS_1
"Mau kemana? " tanya Mahar karena melihat istrinya berdandan cantik di pagi hari.
"Nggak kemana mana, cuma pengen tampil cantik aja pas kamu bangun dan lihat aku," jawab Saskia dengan harapan Mahar akan tertarik.
"Oh, terima kasih. Aku mau mandi dan pergi ke kantor. Kamu baik baik di rumah. Pulang kerja nanti aku mau ke rumah Rani dulu." seketika raut wajah Saskia berubah mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan oleh suaminya.
"Biarlah dia tinggal di sana, buat apa kamu mengemis? Jelas jelas ayahnya tidak suka sama kamu!" celetuk Saskia.
"Apa hanya karena itu? Jika memang benar begitu, setelah Rani melahirkan, ceraikan saja dia. Kita besarkan bersama putra kamu, anggap saja kamu titip benih sama dia. Lagian pernikahan kalian kan karena hutang." ungkap Saskia.
Mahar menghela nafas dan menghembuskan nya kasar, sedikit dia pertimbangkan ucapan Saskia yang ada benar dan salahnya.
"Kenapa kamu bicara seperti itu? Jika aku mungkin menceraikannya karena pernikahan kami karena hutang, maka aku pun juga mungkin menceraikan kamu karena pernikahan kita dulu hanya karena taruhan."
__ADS_1
Jawaban dari Mahar membuat Saskia kesal, rupanya senjata yang telah dia siapkan untuk menyerang Rani justru berbalik menyerang dirinya sendiri.
"Apa maksud kamu?" tanya Saskia merasa tidak terima.
"Maksudku ya sesuai dengan maksud kamu. Aku bisa ceraikan kamu dan dia sesukaku jika aku mau. Karena pernikahan kita bertiga bukan berawal dari cinta." jawab Mahar sambil berlalu dari hadapan Saskia dan menuju kamar mandi.
"Mahar, aku tidak nyangka kamu akan tega bicara seperti itu. Selama ini hanya seperti itu anggapan kamu padaku, padahal aku sudah melakukan tugasku sebagai istri meski awalnya itu berat, tapi kamu dengan mudah bicara begitu!" seru Saskia sambil meraih tangan Mahar.
"Bukan aku yang tega, tapi kamu sendiri. Jika kamu ingin posisimu aman, jangan suka mengatur ku. Aku tidak akan membuang mu jika kamu tidak buat banyak aturan." tegas Mahar sambil menepis tangan Saskia dengan sedikit kasar.
Saskia mengepalkan kedua tangan sambil mengatur nafasnya, dia semakin geram dengan ucapan Mahar yang semaunya sendiri. Namun sebisa mungkin dia tahan amarahnya hingga Mahar berangkat kerja. Karena setelah suaminya berangkat, dia punya sebuah rencana besar yang akan dia lakukan.
"Aku sudah tidak tahan lagi dengan semua ini. Aku merasa tidak punya harga diri di hadapan pria terkutuk itu. Akan aku buat kamu menyesal dengan ucapan mu!" tekad Saskia sudah bulat, hari itu dia akan merealisasikan rencana terpendam nya.
__ADS_1