
Mahar berjalan dengan langkah lebarnya menuju kamar Rani, bahkan dia terlihat sedikit berlari. Dirinya juga terkejut tatkala dia lihat pak Malik dan bi Siti mengangkat tubuh Rani dari lantai ke kasur atas perintah Saskia.
"Dia kenapa?" tanya Mahar panik.
"Tidak tahu Tuan, ketika saya masuk, nyonya sudah tergeletak di lantai." jawab pak Malik.
"Aku udah telepon ambulance," sahut Saskia.
"Baiklah, kita bawa dia ke Rumah Sakit." tukas Mahar sambil mengusap kasar wajahnya.
"Ada ada aja ulang nih anak, pakai ngunci diri di kamar pula?" gerutu Saskia dengan lirih.
"Sudahlah, ini bukan waktu yang tepat untuk menyalahkan. Yang penting kita selamatkan dulu dia, kalau sudah sadar, baru kita tegur." rupanya Mahar mendengar suara lirih Saskia.
Tak lama kemudian, terdengar suara sirine datang mendekat ke arah rumah Mahar. Beberapa detik kemudian tiga orang tim medis mengangkat tubuh Rani dan membawanya masuk ke ambulance. Sementara Mahar, Saskia dan pak Malik, mengikuti dari belakang dengan menaiki mobil.
Hanya butuh waktu lima menit untuk sampai di Rumah Sakit karena jarak rumah Mahar dan Rumah Sakit tidaklah jauh. Di sana, Rani segera mendapat pertolongan medis. Dan setelah sempat di lakukan test laboratorium, satu fakta mengejutkan di terima oleh Mahar dari keterangan Dokter.
"Kondisi pasien drop karena kurang asupan makanan hingga membuat asam lambungnya meningkat, tapi sebab lain juga menjadi pemicu karena pasien sedang hamil muda".
"Apa Dok? Hamil muda? Istri saya hamil muda?" tanya Mahar merasa tidak percaya.
"Iya, betul." jawab sang Dokter.
__ADS_1
Raut kebahagiaan terpancar di wajah Mahar, tapi sebaliknya dengan wajah istri tuanya yang sontak berubah menjadi geram. Saskia terlihat sangat geram bukan karena cemburu, tetapi Saskia geram karena rupanya Rani benar benar menentang perintahnya.
"Kurang aj*ar! Nih anak ternyata nggak main main!" umpat Saskia dalam hati.
"Apa istri saya sudah siuman Dok?" Mahar melontarkan satu pertanyaan lagi untuk sang Dokter.
"Belum, mungkin sebentar lagi." sahut pria berseragam putih itu.
Sejak mendengar ucapan Dokter tersebut, Mahar tidak mau berpaling sedikit pun dari sisi Rani yang masih belum sadarkan diri. Sementara Saskia dengan berat hati juga ikut menunggu Rani siuman.
Lima belas menit kemudian, jari Rani bergerak dan matanya mulai terbuka. Dan saat itu bertepatan ketika Rani akan di pindah ke ruang perawatan.
Mahar belum di perbolehkan berkomunikasi sampai Rani tiba di ruangan barunya. Dengan setia, Mahar menurut perintah para tim medis dan menahan rasa gembiranya.
"Terima kasih untuk semuanya dan aku minta maaf atas ucapan kasar ku kemaren" lirih Mahar tepat di telinga Rani. Dan hal itu terlihat sangat memuakkan di mata Saskia.
Rani yang baru saja kembali ke alam sadarnya itu masih di buat bingung dengan maksud ucapan suaminya, apalagi dia juga di herankan kenapa bisa berbaring di kasur Rumah Sakit? Padahal terakhir dia ingat, dia bangun tidur dan hendak ke kamar mandi lalu terjatuh di lantai dan tidak sadarkan diri.
"Dimana aku?" kalimat pertama yang di ucapkan Rani.
"Di Rumah Sakit, kamu tadi pingsan." jawab Mahar sambil menyingkap rambut Rani yang menutupi keningnya. Rani di buat heran dengan sikap Mahar yang tiba tiba terlihat begitu memanjakannya meski di belakang Mahar sedang ada Saskia yang tengah berdiri menemani.
"Pingsan?" tanya Rani selanjutnya.
__ADS_1
"Iya, karena kamu telat makan dan nggak mau keluar kamar. Dan karena kamu sedang....." ucapan Mahar terputus, dia malah mencium kening Rani di sela sela ucapannya. Tentu saja hal itu membuat Rani semakin heran.
"Sedang apa?" tanya Rani polos.
"Sedang menjadi calon ibu." sahut Mahar dengan senyum bahagianya.
"Apa? Calon ibu?" Rani kembali bertanya guna mencari kepastian.
"Iya, kamu sedang hamil muda sayang. Terima kasih ya, kamu akan memberiku keturunan." tukas Mahar selanjutnya sambil mencium punggung tangan Rani.
Mata Rani seketika berkaca kaca mendengar berita yang baru saja dia dengar, tapi rona kebahagiaannya tiba tiba berubah menjadi kekhawatiran setelah tatapan mata Rani sekilas bertemu dengan tatapan mata Saskia yang di penuhi sorot kebencian.
"Kenapa ekspresi kamu seperti itu? Apa kamu tidak bahagia?" tanya Mahar yang sempat meneliti perubahan ekspresi wajah Rani dari bahagia menjadi gelisah.
"Aku bahagia, hanya saja aku takut." jawab Rani.
"Takut? Apa yang kamu takutkan?" tanya Mahar dengan mengerutkan dahi.
"Aku takut jika..." ucapan Rani terputus dan hal itu sempat membuat Saskia ketar ketir jika sampai Rani berkata yang tidak tidak. Apalagi sampai membuka semua kedoknya, karena sepertinya Rani terlihat begitu berbahaya bagi Saskia.
"Jangan banyak pikiran, lebih baik kamu banyakin istirahat biar cepat pulih kesehatannya." Saskia segera menyambar ucapan Rani agar di mata Mahar dirinya tidak terkesan memiliki image yang buruk.
"Benar apa kata Saskia, kamu jangan miki macam macam. Istirahat aja yang banyak ya, biar kamu cepat di perbolehkan untuk pulang." sahut Mahar membenarkan ucapan istri tuanya.
__ADS_1
"Iya." Rani terpaksa menghentikan ucapannya. Sepertinya dia akan mendapat masalah baru karena rupanya Saskia mulai berakting di depannya selama dia hamil demi mendapat gelar istri tua yang pengertian dari Mahar.