
Rani berhasil membuka pintu jendela, tetapi meski bisa keluar dari jendela itu, sepertinya Rani masih mengalami kesulitan untuk kabur karena pintu pagar besi yang ada di depan rumah itu terlihat di gembok oleh Saskia. Untuk menaikinya pun tidak mungkin karena Rani sedang mengandung. Dia tidak mau mengambil resiko jika sampai jatuh, atau bahkan sampai mengalami keguguran.
Rani sedikit memutar otak lagi untuk mencari cara agar bisa keluar dari tempat itu, hingga akhirnya dia menemukan satu alasan yang akan memancing Saskia mengeluarkan dia dari sana. Rani berjalan menuju pintu kamar tersebut, lalu mengetuk nya dengan keras dari dalam.
Tok...tok...tok..
"Kak... Kak Saskia... Tolong aku kak..." Teriak Rani dengan kencang seraya tanpa henti menggedor gedor pintu.Saskia yang saat itu sempat memejamkan mata sejenak untuk beristirahat, merasa terganggu dengan teriakan Rani.
"Sial-an! Kenapa sih tuh orang?" gerutu Saskia sambil perlahan mulai bangun untuk berdiri.
"Kak Saskia.. Tolong aku Kak.." teriak Rani lagi dengan keras.
Langkah Saskia begitu kasar mendekati kamar Rani dengan raut wajah yang kusam. Sesampainya di depan pintu, dia membuka kunci pintu tersebut dengan begitu kasar.
__ADS_1
Cekrek...
Tak lama kemudian, pintu terbuka.
"Ada apa sih teriak teriak? Gangguin orang tidur aja!" bentak Saskia setelah berada di hadapan Rani.
"Tolong Kak. Perutku mendadak terasa sakit sekali. Nyeri dan kram pada bagian bawah. Kepalaku juga pusing." ucap Rani dengan ekspresi wajah yang menahan sakit. Sementara kedua tangannya memegangi perut.
"Nggak tau Kak. Aku kan sedang hamil, aku nggak berani minum obat sembarangan. Jadi biasanya aku periksa ke Dokter Kandungan kalau ada keluhan." jawab Rani tetap pada ekspresi wajah yang sama.
Saskia mendengus kesal, tentu saja dia merasa di repotkan dengan keadaan Rani. Niat hati ingin menyekapnya, tapi kini justru Rani kesakitan
"Tolong Kak. Sakit sekali, aku nggak kuat. Kepalaku berat, rasanya aku ingin pingsan." Rintih Rani sekali lagi berlaga dengan tubuh yang mulai lemas.
__ADS_1
Dalam keadaan yang terdesak, Saskia tidak punya banyak pilihan selain membawa Rani ke Dokter karena dia tidak ingin jika akan menjadi tersangka jika terjadi apa apa pada Rani.
"Duh... Ya udah, ya udah. Ayo aku carikan bidan terdekat di sekitar sini." sahut Saskia tetap dengan wajah yang kesal.
"Tapi, awas aja kalau kamu mau mencoba untuk kabur." ucap Saskia kembali sebelum keluar dari kawasan tersebut. Rani mengangguk untuk meyakinkan hati Saskia, lalu tak lama kemudian keduanya segera masuk ke dalam mobil untuk mencari Bidan terdekat. Mengingat kawasan itu jauh dari perkotaan, maka akan sulit untuk mencari Dokter Kandungan.
Setelah sepuluh menit melakukan perjalanan, mereka masih belum juga menemukan lokasi klinik Bidan. Saskia merasa semakin kesal, tetapi berbeda dengan yang di rasakan oleh Rani. Dia justru nampak senang dengan hal itu, karena semakin lama mereka tidak menemukan klinik tersebut, maka akan semakin jauh pula Saskia membawa Rani pergi dari vila terpencil nya.
"Ayo Kak... Tolong lebih cepat dikit. Perutku rasanya nyeri sekali, kepalaku juga semakin pusing. Sekarang rasanya aku malah ingin muntah. Apa kakak tidak punya kantong plastik?" tanya Rani dengan wajah seolah menahan sakit dengan tetap memegangi perutnya.
"Apa? Kantong plastik? Ya nggak ada lah. Jangan aneh aneh ya kamu, awas aja kalau sampai muntah di dalam mobil! Jijik tau!" bentak Saskia dengan kasar. Saat itu Rani benar benar berhasil membuat Saskia panik dan gelisah karena sandiwaranya.
Hoek...hoek....hoek....
__ADS_1