
Malam itu pertama kalinya Rani tinggal di rumah kedua orang tuanya setelah menikah. Lukman dan Laras memberikan banyak pertanyaan seputar rumah tangga putrinya, tapi Rani tidak pernah sedikitpun bicara tentang kejelekan Mahar.
"Rani, apa suamimu pernah mengancam kamu sehingga dari semua cerita kamu tidak ada buruknya dari perlakuan Mahar? Padahal jelas jelas kamu di poligami dan pernikahan kalian termasuk paksaan? Kamu juga sudah dua kali masuk rumah sakit, ayah tidak bisa percaya begitu saja jika rumah tangga kalian baik baik saja. " cecer ayah Rani.
"Tidak ayah, suamiku memang baik. Meski poligami, tapi suamiku adil. Bahkan dia lebih memberi banyak waktu padaku saat tahu aku hamil. " jawab Rani.
"Tapi, bagaimana sebenarnya kronologi saat kamu bisa keracunan? " tanya ayah Rani lagi.
"Aku juga tidak paham ayah, minuman yang aku minum itu adalah minuman kesukaanku yang setiap hari aku minum. " jawab Rani dengan apa adanya.
Lukman menghembuskan nafas kasar mendengar jawaban putrinya, dia pandangi putri dan istrinya secara bergantian. Walaupun sebenarnya hatinya terasa miris jika mengingat pernikahan putrinya, tapi semua itu sudah terjadi dan tidak bisa di ulang kembali.
"Maafkan ayah Rani, ayah yang sudah membuat kamu jadi begini. " sesal Lukman.
"Sudahlah ayah, Rani sudah berusaha berdamai dengan kenyataan. Awalnya Rani juga sangat menolak kenyataan ini, tapi semua sudah terjadi. " jawab Rani dengan pasrah nya.
__ADS_1
"Terima kasih atas pengertiannya nak, sekarang katakan pada ayah jika kamu memang tidak nyaman. Ayah akan berusaha untuk menebus kesalahan yang sudah ayah lakukan, ayah akan melindungi kamu. Jika memang Mahar akan menuntut kembali hutang yang lalu, maka ayah rela jika tanah dan rumah ini di jual." ungkap sang ayah.
"Tidak ayah, tidak perlu. Rani baik baik saja. Ayah tidak perlu menjual rumah ini. " jawab Rani dengan wajah sendu.
Mereka bertiga akhirnya berpelukan hangat, meski hati ayah dan ibu Rani begitu miris melihat rumah tangga anaknya, tapi berbeda dengan Rani. Rani justru merasa di kuatkan dengan pelukan itu meski sebenarnya jika dia ingat apa rencana Saskia, Rani selalu merasa khawatir. Namun kekhawatiran itu cukup Rani yang rasakan karena dia tidak ingin membebani pikiran kedua orang tuanya.
Pintu terdengar di ketuk ketika mereka sedang berpelukan hangat.
Tok, tok, tok.
"Siapa yang mengetuk pintu? " tanya Laras.
Setelah di lihat dari balik tirai ternyata ada Mahar yang sedang berdiri di balik pintu.
"Siapa yah? " tanya Rani.
__ADS_1
"Suamimu." jawab Lukman dengan lesu. Dia takut jika Mahar datang dengan amarah karena Rani dia bawa pulang.
"Di buka saja ayah. " pinta Rani dengan senyum bahagia.
Melihat senyum sang putri yang terkesan penuh harap membuat Lukman tidak bisa menolak permintaannya. Dia pun membuka pintu dan menyiapkan mental jika menantunya akan membabi buta.
Ceklek,
"Selamat malam ayah. " satu sapaan hangat Lukman terima dari menantunya ketika dia membuka pintu.
Dengan ragu dan kaku, Lukman membalas sapaan itu. "Malam, mari masuk."
Seperti layaknya seorang abg yang tengah bahagia karena di kunjungi sang pacar ke rumah, Rani segera berjalan mendekat ke arah sang suami.
"Apa kabar honey, kamu sudah sehat kembali kan?" tanya Mahar sambil mengecup kening Rani lalu mengelus puncak kepalanya, bahkan saat di saksikan oleh mertuanya.
__ADS_1
"Iya, aku baik baik saja. " jawab Rani dengan tatapan kebahagiaan.
Lukman dan Laras masih belum bisa meyakini bahwa apa yang mereka lihat adalah sebuah kebahagiaan yang sejati. Keduanya saling pandang menunjukkan beberapa pertanyaan yang mereka pendam di kepala masing masing. Setelah sempat melihat adegan pertemuan yang haru, mereka mempersilahkan menantunya untuk duduk sementara Laras segera menuju ke dapur untuk menyajikan minuman penghangat perbincangan.