Mahar Untuk Rani

Mahar Untuk Rani
Tidak terima


__ADS_3

Saskia pulang dengan penuh emosi, pikirannya semakin kacau karena mendapat tudingan dari ayah Rani. Keadaan itu membuat dia berpikir tidak jernih.


"Aku harus bertindak agar masalah ini tidak semakin larut!" gumam Saskia dalam hati sambil menyetir mobilnya.


Rani sudah di pindah ke ruang perawatan. Dia di kelilingi oleh orang orang yang menyayanginya. Ada suami dan kedua orang tuanya yang senantiasa menjaganya.


"Gimana keadaan kamu sayang? Apa sudah baikkan?" tanya Laras.


"Sudah Bu, Rani sudah membaik. Mungkin besok Rani mau minta pulang saja." tukas Rani. Dia belum tahu rencana ayahnya untuk membawanya pulang.


"Syukurlah nak, mulai besok kita bisa tinggal bersama lagi." sahut sang ayah.


"Apa? Tinggal bersama? Yang benar? Rani seneng banget dengernya. Ayah dan Ibu akan menginap berapa lama?" tanya Rani mengira bahwa orang tuanya yang akan menginap di rumahnya.

__ADS_1


"Tidak nak, bukan kami yang bertamu, tapi kita akan tinggal bersama sama lagi di rumah kita." jawab ayah Rani.


"Apa? Ada masalah apa sampai aku harus ikut kalian pulang?" Rani menatap kedua orang tuanya penuh tanya.


"Kamu akan aman jika tinggal bersama kami." jawab ayah Rani.


"Maksudnya apa ayah? Rani juga aman tinggal bersama suami Rani," Rani berusaha menyangkal


"Kamu tidak aman nak, buktinya kamu masuk Rumah Sakit sebanyak dua kali selama kamu menikah." jawab ayah Rani.


"Rani, apa kamu sudah tidak mau tinggal lagi bersama ayah dan ibumu?" tanya ayah Rani dengan nada tinggi.


Rani terkejut dengan bentakan sang ayah kemudian dia menjawab, "Bukan seperti itu ayah, tapi kan Rani sudah menikah. Rani harus izin dulu kepada suami Rani?"

__ADS_1


Lukman diam sesaat mendengar jawaban putrinya, walaupun hatinya menolak jawaban Rani, tapi secara logika jawaban Rani benar adanya. Kini putrinya sudah menikah, jad jika ingin tinggal dengan orang tuanya maka dia harus minta izin suami meski pernikahan mereka terjadi dengan cara yang salah.


Setelah berdiam dan saling pandang dengan ibu Rani, Lukman kembali bersuara.


"Kamu harus tetap ikut bersama kami, jika memang suamimu tidak mau jauh jauh darimu, dia juga bisa tinggal bersama kita sementara waktu."


"Tapi ayah? Tidak bisa seperti itu." Rani masih saja menyangkal.


"Percayalah nak, ini semua demi kebaikan kamu." Ibu Rani ikut memberi penjelasan kepada putrinya.


Rani tidak bisa mengelak lagi, kini dia hanya bisa memandangi suami dan orang tuanya secara bergantian lalu berharap ada jawaban dari kecemasannya.


"Pergilah, aku akan menunggumu kembali." tiba tiba Mahar bersuara dan hal itu membuat Rani terharu.

__ADS_1


Keesokkan harinya Dokter benar benar mengizinkan Rani untuk pulang, tentu saja pulang ke rumah orang tuanya, bukan ke rumah suaminya. Mahar masih setia menemani sang istri meski mertuanya juga selalu mendampingi Rani. Tentu saja hal itu membuat Rani semakin berat untuk meninggalkannya. Ingin rasanya dia ungkapkan perasaan tidak nyamannya kepada Mahar, tapi mau bagaimana lagi? Dia tidak punya waktu empat mata dengan suaminya. Kedua orang tuanya juga nampak tidak menyukai Mahar, Rani pun lebih memilih diam.


Dalam hati Mahar sebenarnya merasa tidak terima jika Rani ikut orang tuanya pulang, tapi dia juga berpikir bahwa mungkin dirinya memang salah mengingat bagaimana dulu caranya dia meminang Rani? Tapi kali ini Mahar ingin menjadi suami dan calon daddy yang baik. Dia relakan untuk sementara waktu Rani tinggal bersama orang tuanya.


__ADS_2