Mahar Untuk Rani

Mahar Untuk Rani
Balas dendam


__ADS_3

Saskia mulai menceritakan kisah silam dan kelamnya. Dengan seksama Rani pun mendengarnya.


"Ayahku seorang penjudi, dan suatu ketika dia bertemu dengan Mahar di meja judi. Mahar bukan lah penjudi ulung seperti ayahku, dia hanya terjebak oleh ajakan teman temannya." Saskia berjeda sejenak untuk meneruskan cerita selanjutnya.


"Perjudian itu menjadi pengalaman pertama dan terakhir bagi Mahar, karena setelah memenangkan perjudian tersebut, dia tidak pernah mengulanginya lagi sampai sekarang." Ucap Saskia selanjutnya.


Rani tak mau mengajukan pertanyaan, dia hanya setia menunggu Saskia menuntaskan semua ceritanya.


"Ayahku menggunakan seluruh hartanya untuk berjudi, namun sejak kekalahannya di hari itu, beliau juga berhenti berjudi karena telah kehilangan harta berharganya akibat judi."

__ADS_1


Sepertinya kisah itu amat menyakitkan hati Saskia hingga dia selalu memberi jeda pada ceritanya untuk mengatur nafas.


"Di putaran terakhir pada permainan judi, ayahku sudah tidak punya apa apa lagi untuk di pertaruhkan sehingga Mahar meminta putri ayah untuk menjadi jaminannya, dan itu adalah aku. Ayahku terpaksa menyetujui permintaan itu, karena beliau masih merasa yakin bahwa di putaran terakhir ini pasti beliau menang.Taruhan yang di berikan oleh Mahar tidaklah main main kala itu, hingga membuat ayahku tergiur. Namun sayang, di putaran terakhir itu ayahku tetap saja kalah sehingga dengan sangat terpaksa aku harus mau menjadi taruhannya." Saskia memejamkan mata ketika mengingat kejadian itu.


Rani semakin tertarik mendengar cerita Saskia yang tak kalah memilukan, prasangka buruk kepada Saskia pun perlahan memudar.


"Ayah sangat malu ketika ada seorang pria yang menjemput paksa diriku ke arena perjudian. Tubuhku di dudukkan tepat di pangkuan Mahar, lelaki yang sama sekali tidak aku kenal. Dengan sesuka hati dia memeluk dan mencium ku di hadapan orang banyak dan hal itu membuat harga diri ayahku terinjak injak, sementara aku merasa frustasi karena tidak ada yang berani membela ku waktu itu."


"Ayahku semakin tidak terima ketika Mahar mulai menyentuh tubuhku di keramaian, sehingga beliau memberikan satu ketegasan agar Mahar mau menikahi ku supaya tidak menjadikanku sebagai budak nafsunya karena ayahku tahu pria seperti apa Mahar itu." Lagi lagi Saskia memberi jeda pada ceritanya sehingga membuat Rani semakin penasaran dan setia menunggu kelanjutannya.

__ADS_1


"Dengan sangat enteng Mahar menerima permintaan itu. Sementara saat itu aku hanya bisa menangis untuk menolak. Pernikahan pun akhirnya di laksanakan tanpa adanya cinta dan perkenalan di antara aku dan Mahar. Dia bawa aku ke rumah ini dan dia kuasai diriku sesuka hati. Hal itu membuat aku semakin benci kepadanya, sehingga ayah memberiku semangat untuk bangkit dan menyusun rencana balas dendam untuk Mahar." Saskia mengakhiri ceritanya sampai di situ lalu mengalihkan pandangannya kepada Rani.


"Kamu, kamu pasti juga merasakan hal yang sama seperti apa yang ku rasakan. Jadi, mari kita bekerja sama untuk menghancurkan Mahar, laki laki yang tengah menikahi kita dengan semaunya sendiri."


Rani masih mematung mendengar ucapan Saskia, istri tua Mahar. Sebagai istri muda, Rani tidak begitu berani untuk bicara, kini hatinya bimbang dalam dua pilihan. Jika menurut, dia takut itu semua akan menimbulkan masalah untuk dirinya sendiri. Melawan pun juga percuma karena dia tidak punya kekuatan apapun.


"Aku sudah mengambil alih sebagian harta Mahar tanpa sepengetahuannya, sisanya adalah tugas kamu. Bukan harta yang menjadi incaranku, tapi kehancuran Mahar. Aku akan menendangnya dari hidupku saat dia sudah benar benar tidak memiliki apa apa!"


Degh,

__ADS_1


Hati Rani bergetar mendengar kalimat yang di ucapkan oleh Saskia. Rani tidak mengira bahwa Saskia punya pemikiran seburuk itu. Hal itu semakin membuatnya serba salah, haruskah dia menuruti kemauan Saskia? Atau menolaknya?


__ADS_2