Mahar Untuk Rani

Mahar Untuk Rani
Panik


__ADS_3

Sore itu Mahar tengah berada di rumah Rani sepulangnya dari bekerja. Dia berada di rumah istri mudanya hingga waktu menunjukkan pukul sepuluh malam.


"Aku pamit pulang dulu ya, aku benar benar berharap kita bisa segera kembali tinggal bersama." ucap Mahar sembari mengecup kening Rani.


"Iya, ayahku sepertinya sudah yakin bahwa kamu adalah suami yang terbaik untukku." jawab Rani. Keduanya akhirnya berpelukan hangat sebelum akhirnya Mahar benar benar meninggalkan rumah Rani.


Ada sedikit kejanggalan yang di rasakan Mahar selama berada di rumah Rani. Kejanggalan itu berasal dari Saskia, karena biasanya Saskia selalu menghubungi dirinya waktu di kantor, apalagi ketika sedang bersama Rani. Namun hari itu Saskia sama sekali tidak menghubunginya.


"Mungkin dia tengah merajuk." gumam Mahar dalam hati.


Setelah tiba di rumah, Mahar segera mengecek keberadaan istri tuanya di dalam kamar. Tapi kamar itu kosong tidak berpenghuni. Pencarian Mahar beralih keruangan lain, hingga akhirnya setelah mengecek setiap sudut ruangan dengan di bantu oleh supirnya, Mahar tak kunjung menemukan sosok Saskia.


"Dimana dia?" tanya Mahar dalam hati. Dia lekas meraih ponsel dari saku celananya, lalu mencari nomor Saskia untuk dia hubungi.

__ADS_1


Setelah berulang ulang melakukan panggilan, nomor tersebut tetap tidak dapat di hubungi. Dan bisa di tebak bahwa ponsel yang Mahar hubungi tengah mati. Malam itu Mahar merasa panik, dia mengajak supir dan asisten rumah tangganya untuk bertukar pikiran.


"Kita kira kemana perginya Saskia malam ini? Apa dia tidak pamit Bi?" tanya Mahar kepada Bu Siti.


"Tidak Tuan, tapi setau saya Nyonya Saskia pergi dari siang dan membawa koper." jawab Bu Siti.


"Koper? Apa dia pergi dari rumah ini? Begitukah?" Mahar lekas mengecek pakaian yang ada di almari istri tuanya, dan benar saja sudah tidak ada pakaian di sana. Bukan hanya pakaian, rupanya brankas penyimpanan uang dan emas juga telah kosong.


Karena merasa panik, malam itu Mahar segera menuju ke rumah sang mertua untuk mencari keberadaan istrinya. "Apa? Saskia pergi? Pergi kemana dia? Jika terjadi apa apa sama dia, aku tidak akan memaafkan kamu! " Bentak ayah Saskia mendengar kabar bahwa putrinya pergi dari rumah tanpa berpamitan.


Padahal sebenarnya Saskia dan ayahnya sudah merencanakan hal itu, perselisihan yang sempat terjadi di antara mereka beberapa waktu lalu tidak berlangsung lama. Karena pada akhirnya Saskia kembali pada tujuan awalnya untuk membalas dendam.


Mahar tidak bisa berkata kata karena dia memang benar benar tidak tahu kemana perginya Saskia.

__ADS_1


"Memang nya apa yang sudah kamu lakukan pada putriku hingga dia kabur dari rumah?" tanya ayah Saskia.


"Aku tidak melakukan apa apa. Kami baik baik saja." jawab Mahar.


"Tidak mungkin, kamu kan punya dua istri. Pasti kamu berlaku tidak adil kepada Saskia sampai sampai dia tidak betah tinggal di rumah!" Ayah Saskia memberikan tudingan kepada Mahar agar laki laki itu tersudut.


Mahar mendengus kesal dengan keadaan yang kini di hadapinya, bukannya merasa kehilangan, tapi Mahar berjanji akan menceraikan Saskia jika istrinya kembali ke rumah.


"Entahlah, aku tidak tahu jika Saskia beranggapan seperti itu. Padahal pembagian nafkah lahir dan batin mereka aku samakan! " jawab Mahar sembari balik badan dan mulai meninggalkan rumah mertuanya tanpa pamit.


"Heh, mau kemana kamu? Jangan main pergi begitu saja, bagaimana dengan putriku?" tanya ayah Saskia dengan sedikit berlari kecil mengejar Mahar.


"Putrimu? Aku sudah menjaganya dan membiayai hidupnya dengan fasilitas mewah, tapi salah dia sendiri pergi tanpa pamit dari rumah! Dan asal kalian tahu, pantang bagiku mengemis kepada seorang perempuan. Sekali mereka memilih pergi, aku tidak akan pernah membiarkannya kembali!"

__ADS_1


__ADS_2