
Pengurus masjid itu sempat kebingungan ketika menerima kertas tersebut dari Rani, tetapi setelah mobil mereka telah berlalu, beliau membuka pesan tersebut dan begitu terkejut setelah membaca isinya. Beliau pun lekas meraih ponsel, lalu menghubungi nomor ponsel Mahar yang di cantumkan pada kertas tersebut.
Tuuut...tuuut....
Panggilan tersebut mulai terhubung pada ponsel Mahar. Pria itu segera melihat siapa yang tengah meneleponnya, tetapi karena nomor yang tertera pada panggilan itu tidak dia kenal, maka dia sempat mengabaikan panggilan itu. Bahkan hingga panggilan tersebut terulang hingga dua kali.
__ADS_1
Barulah ketika bunyi pesan masuk terdengar, dia baru mulai memeriksa kembali ponselnya. Dan betapa terkejutnya dia ketika si pengirim pesan mengirim sebuah gambar kertas yang di dalamnya ada tulisan permintaan tolong dari Rani. Pada pesan tersebut juga di lengkapi kejadian singkat saat Rani memberikan kertas tersebut.
Merasa bahwa hal itu begitu penting dan perlu di tanggapi, Mahar kemudian menelpon balik nomor yang tidak di kenal itu. Dia mencari tahu dimana lokasi Rani saat itu. Tanpa menunggu lama, Mahar segera meluncur ke tempat itu setelah memperoleh alamatnya.
Awalnya pria itu sempat putus asa, bahkan mulai tidak percaya kepada kedua istrinya tersebut. Karena dia sempat mengira jika Rani sama halnya dengan Saskia yang merupakan seorang pengkhianat dan hanya mengincar hartanya saja. Sehingga dia membatalkan rencananya ketika dia hendak meminta bantuan polisi untuk mencari Rani. Namun, informasi saat itu membuat dia kembali melanjutkan rencananya untuk menghubungi polisi guna menangkap Saskia karena sudah menculik Rani. Kertas permintaan tolong itu cukup menjadi bukti pada laporannya.
__ADS_1
Karena jarak rumah Mahar dengan lokasi dimana Rani berada tergolong jauh, maka membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menempuhnya. Mahar di temani oleh beberapa orang polisi yang tidak berseragam, dan mereka mengiringi mobil Mahar dari belakang. Bahkan mobil yang mereka gunakan pun bukan mobil dinas, melainkan mobil pribadi agar Saskia tidak mengenali keberadaan polisi tersebut. Tentu saja hal itu Mahar lakukan agar Saskia tidak berbuat nekat untuk menyakiti Rani, jika tahu bahwa Mahar melaporkan dirinya ke polisi.
Ketika baru saja Mahar dan para polisi itu tiba di lokasi masjid dimana Rani tengah meninggalkan pesan, ponsel Mahar kembali berbunyi. Di sana nampak masuk sebuah pesan yang menunjukkan foto sebuah kertas dengan tulisan yang sama seperti yang dikirim oleh penjaga masjid. Dan pengirim pesan kedua itu ternyata adalah seorang Bidan, yang juga secara diam diam di beri Rani lembaran kertas tersebut.
"Mana surat yang di titipkan istri saya Pak?" Tanya Mahar kepada seorang pria penjaga masjid, kemudian pria paruh baya itu memberikan kertas tersebut. Isinya sama persis seperti yang beliau kirim kepada Mahar, dan sama persis juga dengan yang dikirim baru saja oleh seorang bidan yang tidak di kenal oleh Mahar.
__ADS_1
"Apa Bapak mengenal nama Bidan ini, serta tahu dimana alamatnya?" Tanya Mahar seraya menunjukkan alamat yang di kirim oleh Bidan tersebut. Dan ternyata penjaga masjid itu tahu dimana alamat Bidan itu, sehingga Mahar serta para polisi itu mengajak beliau untuk menunjukkan arah dimana lokasi rumah Bidan yang telah mengirim pesan kepada Mahar.