
Malam itu, Saskia dan Rani menempati satu kamar yang sama untuk beristirahat. Ketika Rani hendak memejamkan mata, dia dengar ponsel Saskia berbunyi. Diam diam Rani mendengarkan panggilan itu meski dengan berpura pura tidur, karena sepertinya panggilan itu sangatlah penting.
"Halo, ada apa?" jawab Saskia.
Rani masih setia mendengar, karena sampai saat itu dia belum tahu siapa yang sedang menelepon Saskia.
"Apa? Yang benar kamu? Kurang aj-ar! Siapa yang berani memberi informasi sama dia?" geram Saskia.
"Ya sudah. Mulai sekarang kita harus ganti mobil, sekarang juga kamu cari mobil di sekitar sini, kalau cocok langsung kita beli." Titah Saskia kemudian.
Mendengar percakapan itu, Rani sedikit menebak bahwa nopol yang pernah dia tulis pada kertas itu mungkin sudah menyebar. Sehingga Saskia merasa ketakutan.
"Kurang aj-ar! Siapa yang sudah membocorkan nomor itu? Dan berani beraninya Mahar memposting identitas ku!" ujar Saskia usai mematikan panggilannya. Sementara Rani yang saat itu sedang berpura pura tidur, merasa senang dalam hatinya. Dia tidak mengira jika suaminya akan bertindak sejauh itu.
Keesokkan pagi, ketika Rani bangun dari tidur, dia di sambut sapaan panas dari Saskia.
__ADS_1
"Heh kamu, apa kamu yang sudah memberi tahu Mahar tentang nopol mobilku?" tanya Saskia.
"Apa maksud kamu? Dengan cara apa aku memberitahu dia? Aku tidak punya ponsel dan aku juga tidak kemana mana." Jawab Rani dengan wajah yang polos.
"Aaarghhh, sial-an! Lalu siapa orang yang sudah membocorkan semua itu?" teriak Saskia seraya mengepalkan tangan.
"Memangnya, apa yang sudah terjadi?" Lagi lagi Rani berlaga polos untuk mencari tahu informasi.
Namun, karena dalam keadaan emosi, Saskia malas menanggapi pertanyaan itu.
"Pagi Nak, ayo kita sarapan. Mana teman kamu?" sapa Nenek Titin.
"Dia masih mandi Nek." jawab Saskia dengan datar.
"Kamu kenapa? Kok mukanya kusut gitu?" tanya sang Kakek.
__ADS_1
"Aku sebel Kek. Mantan suamiku menganggap aku membawa mobilnya, lalu di sebar di sosmed. Jadi, aku harus segera menjual mobil itu, lalu aku beli lagi mobil baru biar dia tidak seenaknya mengambilnya." Saskia mencoba memutar fakta agar nenek dan kakeknya tidak curiga. Karena, meskipun mereka sudah tua, tetapi mereka termasuk pasangan yang update soal sosmed dan mengikuti berita kekinian. Sehingga Saskia takut jika berita itu sampai di telinga kakek dan neneknya.
Mendengar cerita dari cucunya, tentu saja Kakek Seno membelanya dan ingin membantunya.
"Kakek setuju. Nanti biar Kakek bantu menjual mobil itu." ujar beliau.
"Terima kasih Kek. Tapi tolong, jangan sampai ada yang curiga. Karena mantan suamiku mencantumkan nopol mobilku." tutur Saskia.
Setelah sejenak berpikir, akhirnya Kakek Seno menemukan satu tempat dimana mobil itu akan terjual dengan aman.
"Kamu tenang saja. Nanti akan Kakek bawa ke rumah temen Kakek yang seorang makelar. Tapi mungkin upahnya sedikit besar agar proses berjalan lancar." Tukas Kakek Seno.
"Tidak masalah Kek. Yang penting mobil itu sudah tidak aku pakai lagi, dan aku harus beli mobil baru." jawab Saskia.
Rupanya Rani mendengarkan percakapan mereka dari balik dinding. Dia mulai memikirkan cara baru, jika memang Saskia benar benar menjual mobil itu, dan segera memberi petunjuk kepada Mahar tentang perubahannya.
__ADS_1
"Aku harus melakukan sesuatu lagi. Tapi, apa yang harus aku lakukan?" tanya Rani dalam hati.