
Terlihat sepasang suami istri paruh baya datang ke Rumah Sakit dengan wajah geram dan nafas menggebu. Mereka adalah ayah dan ibu Rani.
"Ayah, ibu." sapa Mahar dengan sopan. Tapi sayang, sapaan hangatnya tidak mendapat balasan yang serupa karena mertuanya sedang tidak baik baik saja.
"Dua kali Rani masuk ke Rumah Sakit sejak menjadi istrimu, itu tandanya dia sangat menderita. Jadi, biarkan kami membawanya pulang. Urusan hutang biarlah tetap menjadi hutang, laporkan saja saya ke polisi. Lebih baik saya mendekam di penjara dari pada melihat putriku menderita!" Gertak Lukman, ayah Rani.
"Tidak ayah, ini semua tidak seperti yang ayah pikir. Aku memperlakukan Rani dengan baik." tukas Mahar.
"Lalu bagaimana dia bisa keracunan?" tanya Lukman.
"Itu, itu... itu mungkin karena Rani salah memakan makanan." Jawab Mahar gugup, tapi pertanyaan mertuanya itu membuatnya tersadar dan baru memikirkan bagaimana bisa Rani keracunan? Apa penyebabnya?
"Salah makan makanan atau memang sengaja di beri kesalahan pada makanan yang di makan Rani?" bola mata Lukman mengarah kepada Saskia yang raut wajahnya mulai berubah.
"Maksud ayah?" tanya Mahar tidak mengerti.
"Kamu mungkin memang memperlakukan Rani dengan baik, tapi bagaimana dengan yang lainnya?" tanya Mahar dengan tetap mengarahkan pandangannya kepada Saskia.
__ADS_1
Sebelum posisinya di sudutkan, Saskia segera melakukan pembelaan diri.
"Kenapa anda memandang saya seperti itu?" tanya Saskia dengan bibir yang sedikit gemetar.
"Apa ada yang salah? Apa tidak wajar jika saya mencurigai orang yang tinggal bersama Rani dan sudah menaruh racun itu di makanannya?" tanya Lukman dengan tatapan tajam.
"Hei, jangan menuduh tanpa bukti!" Saskia terlihat geram dengan tuduhan ayah Rani yang tanpa basa basi.
"Sudah cukup, jangan ribut. Sekarang yang penting adalah keselamatan Rani." Mahar berusaha menengahi.
"Iya, tapi setelah dia keluar dari Rumah Sakit ini, dia akan kami bawa pulang!" tegas Lukman.
"Tapi saya ibunya, saya berhak khawatir setelah dua kali dia masuk Rumah Sakit sejak menjadi istri kamu!" Laras pun ikut menyela.
"Tapi tindakan kalian itu salah karena sudah memisahkan pasangan suami istri." Mahar tidak mau kalah dalam berpendapat.
"Kami tidak memisahkan kalian, jika kamu bersedia datang ke rumah kami, dengan lapang dada kami akan menerima. Tapi maaf, untuk melepaskan kembali Rani tinggal di rumah kamu, kami masih sangat keberatan!" Ungkap Lukman.
__ADS_1
"Mana bisa suamiku tinggal di rumah kalian? Apa kalian lupa? Sebelum suamiku menikahi anak kalian, dia lebih dulu menikahi ku. Jadi kalian tidak bisa seenaknya mengatur rumah tangga kami." Saskia rupanya merasa tidak terima.
"Loh..loh..loh... kenapa hal semacam itu baru kamu ungkapkan sekarang? Seharusnya hal semacam itu sudah kamu pikirkan sebelum mengizinkan suamimu menikah lagi. Kalau aku jadi kamu, aku akan pergi sejak awal pernikahan Mahar dan Rani. Apalagi kalian belum terikat anak, jadi ya tidak akan sulit. Kecuali....." ucapan ibu Rani terpotong.
"Kecuali apa?" tanya Saskia dengan emosi.
"Kecuali kalau kamu merasa tidak akan mendapat hak atas harta suami kamu karena belum punya anak sehingga kamu harus terpaksa bertahan demi harta!"
"Cukup!" Saskia hampir saja menendang ibu Rani tapi berhasil di tahan oleh Mahar.
"Sudah Saskia, kamu tenangkan diri." Ucap Mahar sambil memegangi tubuh istri tuanya.
"Kamu ini gimana sih? Dia nuduh aku yang enggak enggak tapi kamu malah diam aja!" Saskia melampiaskan kekesalan kepada suaminya.
"Ini bukan saat yang tepat untuk berdebat!" tegas Mahar dengan nada yang lantang.
"Tolong jangan bikin keributan di sini atau kalian semua akan di bawa ke pos keamanan!" Satu suara muncul dari seorang laki laki berseragam security.
__ADS_1
Mereka seketika diam dan membuang muka masing masing. Karena merasa kesal, Saskia memilih untuk meninggalkan ruangan itu dan pulang dengan menaiki taksi.