Mahar Untuk Rani

Mahar Untuk Rani
Berpindah tangan


__ADS_3

Bukannya merasa kehilangan, Mahar justru semakin terpancing emosi dengan kelakuan Saskia. Dia pergi meninggalkan rumah mertuanya dengan kesal, bahkan tekadnya sudah bulat untuk segera menceriakan Saskia. Ketiak di perjalanan, Mahar menghubungi Rani untuk memberitahukan kabar tentang menghilangnya Saskia.


"Astaga, Kak Saskia kemana?Apa kamu sudah mencarinya? Bagaimana jika terjadi apa apa padanya? " tanya Rani.


"Biarkan saja, aku tidak peduli!" jawab Mahar.


"Kenapa kamu bicara seperti itu?" tanya Rani.


"Aku tidak suka melihat perilakunya yang semakin hari semakin semaunya sendiri." sahut Mahar.


Rani berusaha memberi penjelasan kepada Mahar agar lebih menenangkan diri dan bisa mengerti perasaan Saskia, tetapi rupanya pria itu tidak menggubris nya.


Keesokkan harinya Rani meminta izin kepada ayahnya agar di perbolehkan kembali ke rumah suaminya. Dia menceritakan kejadian yang terjadi di rumah Mahar kepada sang ayah, sehingga membuat ayah Rani pun mengizinkan dirinya kembali ke rumah Mahar.


Tidak menunggu lama, setelah tahu bahwa Rani boleh kembali pulang ke rumah, Mahar pun lekas menjemput sang istri dan mereka akhirnya kembali tinggal bersama lagi. Bahkan sekarang mereka hanya tinggal berdua tanpa Saskia.


"Bagaimana kabar kak Saskia? " tanya Rani.


"Entahlah, sampai sekarang aku belum dapat kabar dan tidak ada nomor atau media yang bisa di hubungi. Sepertinya dia sengaja menghilang. Harusnya jika memang tidak betah, tinggal bilang saja minta cerai daripada main kabur kaburan." ungkap Mahar.


"Apa ini gara gara aku dan bayiku? " tanya Rani.


"Kenapa kamu bilang begitu? Seandainya iya, seharusnya dia tidak boleh berpikir seperti itu karena urusan ranjang aku berlaku adil pada kalian. Jadi jika ternyata kamu yang lebih dulu hamil, ya itu bukan salah kamu." ucap Mahar kemudian.

__ADS_1


Rani terdiam tidak menjawab. Dia pun membenarkan ucapan suaminya, tetapi ada hal lain yang masih mengganjal di hatinya perihal program KB yang di lakukan Saskia tanpa sepengetahuan Mahar. Rani juga mendadak teringat akan rencana balas dendam yang akan di lakukan Saskia.


"Jangan jangan sekarang lah waktunya kak Saskia membalas dendam? " tanya Rani dalam hati.


"Sudahlah, jangan banyak berpikir. Jika dia menyalahkan kamu, biarkan saja. Lagian dia sendiri yang menyusahkan dirinya sendiri, padahal kurang enak apa dia tinggal di sini? Aku juga tidak pernah menelantarkan nya." tukas Mahar. Dia tidak tahu apa yang sedang di pikirkan oleh Rani.


Di sela sela obrolan mereka, ponsel Mahar berdering dan pria itu segera menerima panggilan tersebut.


"Halo, "


"Apa......? "


Mahar terlihat begitu panik usai mendengar kabar dari seberang telepon, dan hal itu membuat Rani ikut penasaran.


Mahar menarik dan menghembuskan nafas dengan kasar lalu mengusap wajahnya dengan kasar pula. Dia terlihat seperti orang yang kebingungan.


"Aku pergi dulu. "


Belum sampat mendapat keterangan apapun dari sang suami, Mahar justru berpamitan kepadanya.


"Mau kemana? Apa aku boleh ikut? " pinta Rani.


"Kamu di rumah aja, jangan kemana kemana. Istirahatlah dan jangan banyak pikiran. " ucap Mahar seraya mengecup kening istrinya.

__ADS_1


Rani yang sudah paham dengan sifat Mahar memilih untuk menuruti perintah sang suami.


"Hati hati, jika ada apa apa tolong kabari aku." jawab Rani.


Mahar pun kemudian pergi meninggalkan rumah bersama supirnya. Sementara Rani masih di buat gelisah dan penasaran dengan kabar apa yang sebenarnya di terima oleh Mahar?


Setelah melakukan perjalanan selama tiga puluh menit, Mahar turun di salah satu tempat di mana di sana terdapat lahan kosong yang di atasnya terdapat satu papan bertuliskan nama sebuah perusahaan yang bukan milik Mahar.


"Ini Bos, bagaimana lahan ini bisa berpindah tangan? Padahal kami sedang menyiapkan rencana pembangunan lahan ini." ucap salah seorang pria yang merupakan bawahan Mahar.


"Apa kamu tahu dimana alamat perusahaan yang tercantum di papan ini? " tanya Mahar dengan wajah yang serius.


"Tahu Bos, tadi saya coba cari di internet. Apa kita perlu mendatanginya sekarang?" tanya pria tersebut.


"Boleh, ayo kita ke sana. " jawab Mahar.


Mereka berdua kemudian mendatangi perusahaan yang tertera pada papan tersebut, dan setelah tiba di sana, Mahar begitu terkejut mendengar pernyataan dari sang pemilik perusahaan.


"Iya. Lahan itu sekarang milik kami karena satu minggu yang lalu kami sudah melakukan akad jual beli dengan pemilik lahan. Dan mulai hari ini, akta kepemilikan lahan tersebut sudah berbalik nama atas nama saya." ungkap sang pemilik perusahaan.


"Bagaimana bisa? Saya pemilik lahan tersebut dan saya tidak merasa menjualnya. Saya bisa laporkan hal ini sebagai kasus penipuan. " Mahar mulai tidak bisa mengendalikan emosi.


"Hei, jangan sembarangan menuduh Tuan! Saya punya bukti kuat mengenai jual beli tersebut. Akan saya tunjukkan pada anda bukti buktinya." jawab pemilik perusahaan itu sembari mengambil beberapa berkas bukti jual beli lahan milik Mahar. Dan setelah membaca berkas itu dengan teliti, emosi Mahar semakin tak terkendali.

__ADS_1


"Kurang aj-ar!" Mahar mengeratkan rahang dengan raut wajah yang begitu geram.


__ADS_2